Arsip

Archive for the ‘SEKOLAH BASIS SENI “SBS”’ Category

TARI PENDIDIKAN SEBAGAI KOMUNIKASI ANTARA GURU DAN SISWA UNTUK MENUMBUHKAN TINDAKAN KREATIF (Opening Minds Through The Arts) Oleh : Siti Aisah, S.Sen,. M.Pd.

A. Latar Belakang
Selama ini pembelajaran tari tradisional lebih diberikan melalui pola-pola baku sehingga siswa hanya meniru tarian dari guru saja tanpa sedikit pun siswa dapat mengeluarkan ide-ide kreatifitasnya atau tarian yang diberikan oleh guru tidak sesuai dengan usianya, sehingga hal tersebut membuat anak cenderung lebih pasif, lebih egois dan tidak kreatif,serta kurang percaya diri dalam berekspresi. Padahal tari adalah sebagai salah satu bentuk aktifitas yang dapat dilakukan anak untuk menyalurkan energinya dan itu membuat anak cenderung pasif dan lebih egois karena biasanya siswa yang cenderung pandai menari akan selalu berdiri didepan dan menjadi guide untuk teman-temannya. Kompleksitas persoalan yang terkait dengan belajar inilah yang menjadi penyebab sulitnya menuntaskan strategi belajar tari disekolah. Mata rantai pelestarian budaya tari disekolah pada umumnya anak-anak belajar tari tradisional, adapun tari-tarian tersebut adalah tari kijang, tari merak, bermacam-macam tari Bali, tari rakyat, bahkan sampai ibingan pencak silat. Pendidikan tarian tradisonal ini diajarkan karena memiliki patokan gerak dasar baku atau standar ukur tari sebagai salah satu unsur terpenting.
Sementara tari dalam pendidikan menekankan kreativitas dan kebebasan ekspresi (Kraus, 1969). Eksplorasi merupakan suatu persyaratan yang penting, hal ini dapat diwujudkan dengan adanya kumunikasi yang aman antara guru dan siswa. Kenyamanan psikologis siswa juga penting untuk menumbuhkan tindakan kreatif.
Pada proses pembelajaran tari kreatif, aspek kreativitas memiliki pengaruh yang besar dalam terciptanya suatu karya, ditunjang oleh aspek-aspek perkembangan lain yang sejalan dengan karakteristik yang dimiliki siswa. Tari kreatif membantu perkembangan kognitive, afektive, physikal dan sosial (Gilbert,2002). Memvisualisasikan ide dan gagasan dalam bentuk gerak melalui tubuh merupakan pijakan dasar dalam mempersiapkan tari. Guru yang bertindak sebagai pembimbing dapat memberikan beberapa stimulus musikal untuk didengarkan dan dipilih oleh siswa. Disini anak dapat mengemukakan ide-ide dan gagasannya dalam menciptakan gerak untuk divisualisasikan.
Menari seperti kesenian lainnya adalah merupakan sumber pengetahuan yang dapat diserap, akan tetapi diperlukan guru tari yang kreatif serta kemampuan dalam membimbing siswa dalam menanamkan pengaruh yang bermanfaat dari kegiatan menari terhadap pembentukan kepribadian anak dan menstimulus kecerdasan majemuk siswa. Tari sebagai pendidikan bagi anak bukanlah merupakan tujuan akhir, akan tetapi merupakan suatu cara membina ekspresi artistik anak dengan baik dan kreatif, juga berguna bagi perkembangan kecerdasan anak secara wajar, sasaran lainnya adalah membantu proses kreatif yang memberikan pengalaman pada anak, sehingga menari dapat menjadi sarana untuk membantu perkembangan anak secara utuh.
Untuk melahirkan tari kreatif yang sangat mendukung diperlukan seorang guru tari yang memahami akan pembelajaran tari bagi kepentingan pendidikan, karena pengajaran sebagai ujung tombak dari penyampaian kurikulum pengajaran yang akan diberikan kepada siswa, sehingga diperlukan seorang guru tari yang tidak hanya sekedar menguasai berbagai keterampilan tari tetapi juga guru tari yang memahami filosifis mengajar, kurikulum yang dikembangkan, materi pembelajaran, metode, strategi, evaluasi dan sumber belajar yang digunakan oleh guru tari yang berfungsi pula mengembangkan berbagai kecerdasan siswa, adalah tetap memberikan materi tari tapi disampaikan dengan cara bermain sehingga tidak ada unsur paksaan pada siswa sehingga tari kreatif dapat menjembatani pembelajaran untuk tari tradisional yang telah memiliki pola baku.
Sifat dasar seni pada umumnya bersifat kreatif, individualitas, nilai ekspresi/perasaan, keabadian, dan semesta/universal. Untuk menunjang tercapainya dasar pemikiran diatas. Kompetensi keterampilan dasar tari kreatif lebih difokuskan pada pengalaman eksplorasi untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik, bukan menjadikan siswa mahir atau ahli. Sedangkan kreativitas di sini meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang terlihat dari produk/hasil karya dan proses dalam bersibuk diri secara kreatif (Semiawan, Munandar, 1990: 10). Pembelajaran apresiasi disampaikan tidak hanya sebatas pengetahuan saja, namun melibatkan pengalaman mengamati, mengalami, menghayati, menikmati dan menghargai secara langsung aktivitas berolah seni. Melalui media tubuhnya, siswa akan mendapat kepuasan dalam proses perkembangan fisik dan jiwa sebagai eksistensi dirinya dalam bersosialisasi. Sedang melalui berlatih menguasai gerak ataupun urutan rangkaian gerak sebagai materi dasar sebuah tarian akan membantu perkembangan daya pikir siswa dalam membantu perkembangan kecerdasan secara utuh, Disinilah peran guru tari sangat penting dalam pengembangan pengetahuan tentang filosofi mengajar, kurikulum yang dikembangkan, materi, metode, strategi, evaluasi dan sumber belajar kegiatan tari.
Dasar-dasar pemikiran pentingnya guru tari menguasai filosofi mengajar, kurikulum yang dikembangkan, materi, metode, strategi, evaluasi dan sumber belajar kegiatan tari bertumpu pada pokok-pokok pikiran sebagai berikut ; Pelaksanaan Pendidikan Seni di sekolah-sekolah umum seyogianya menggunakan pendekatan multidisiplin, multidimensional dan multikultural. Pembentukan pribadi yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan kemampuan dasar siswa didik melalui pendekatan ‘belajar dengan seni’, ‘melalui seni’ dan ‘tentang seni’ sesuai minat dan potensi siswa. Pendidikan seni kreatif berperan mengembangkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan kreativitas (CQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan multi-intelegensi (MI).
Peran guru adalah menstimulus siswa agar dapat menuangkan serta mengembangkan ekspresi gerak yang kreatif baik secara individual maupun kelompok. Ide atau gagasan siswa biasanya orisinal, misalnya siswa dapat distimulus untuk memberikan contoh dan ide gerak tentang bagaimana kelompok binatang menghisap madu, atau seekor kupu-kupu hinggap di bunga, bagaimana gerak bebek berenang di kolam. Guru adalah sebagai fasilitator, maka biarkan siswa membivisualisasikan semua gerakan yang diinginkannya, selanjutnya guru dapat memilih gerakan mana yang penting dan mana yang tidak.
Mengembangkan imajinasi yang penuh ilham merupakan oksigennya kreativitas yang menghembuskan warna kehidupan, menambah elemen kegembiraan. Oleh karena itu ketika menari, siswa harus dalam keadaan gembira sehingga gerak tarian yang muncul akan terlihat luwes dan sesuai keinginan. Gladys Andrews Fleming (1976) berpendapat bahwa melalui bergerak dalam menari, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa itu sendiri.
Imajinasi setiap siswa tentu tidak akan sama dengan siswa lain bapalagi dengan guru tarinya. Setiap penari bisa saja mengekspresikan gerakan yang ia lakukan seperti meniru gerak binatang, kodok meloncat, burung terbang, ikan berenang, atau ia merasa memainkan peran seorang peri dengan tongkat ajaibnya, menirukan gerakan pohon melambai, gerak di luar dugaan, muncul berdasarkan daya imajinasinya dan kita sebagai seorang guru harus mendorongnya agar lebih banyak lagi yang dapat memberikan kebebasan atas pengembangan ide dan kreativitas anak.

B. Proses Pembelajaran Tari Kreatif

Di dalam proses pembelajaran tari, guru harus dapat menciptakan suasana kebebasan bergerak kepada siswa didiknya. Guru diharapkan membimbing siswa dapat mengungkapkan cara bergerak mereka sendiri yang unik sesuai dan cara bergerak sesuai dengan perasaannya. Bentuk kegiatan guru dalam membimbing siswa didiknya belajar menari, adalah: (1) latihan mempersiapkan tubuh sebagai alat ekspresi, (2) latihan gerak kepala, tangan, badan, dan kaki untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa didiknya bahwa seluruh anggota badan merupakan sumber gerak tari, (3) latihan bergerak dengan ritme untuk tujuan memperkenalkan dan membiasakan siswa menanggapi birama, tempo dan frase dalam musik iringan tarinya, (4) latihan bergerak dengan arah untuk tujuan membiasakan siswa dapat cepat menyesuaikan dengan tempat menari, (5) latihan bergerak dengan membentuk formasi untuk tujuan melatih konsentrasi, dapat cepat menyesuaikan dengan tempat menari dan melatih kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Kemampuan guru tari kreatif lebih cenderung berkaitan dengan visi misi sekolah yang dikembangkan sehingga tari kreatif lebih menyesuaikan dengan sekolah masing-masing ;

Gambar 1.1. Pendekatan Belajar dengan Seni

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta (KBBI, 2001 :559). Moustakis (1978) mengemukakan kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, alam dan orang lain. Sedangkan menurut Drevdahl (1978 :29) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal. Melalui latar belakang Guru, Yang penting dalam memunculkan kegiatan kreatif anak, adalah pemberian kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai eksperimen dalam rangka mewujudkan atau mengekspresikan dirinya secara kreatif. Dalam hal ini guru hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif dengan membantu dirinya dalam kegiatan kreatif dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan.menentukan kreativitas siswa dalam berekspresi gerak sesuai dengan ide, ciri khas (identitas) yang dimiliki siswa. Dengan kata lain, kreativitas akan muncul bilaman Guru dan siswa banyak melakukan aktivitas atau latihan.
Pelajaran seni tari kreatif merupakan pelajaran yang mengacu pada visi dan misi sekolah, sehingga Input pelajaran tari mengikuti tema atau sub tema yang berlaku di sekolah anggapan terhadap pelajaran seni tari yang tidak penting disekolah. Padahal, dengan memberikan pelajaran tentang seni tari akan memberikan pengaruh positif bagi siswa, yaitu mengembangkan kreativitas siswa dan melatih sosialisasi siswa. Agar Out put kreativitas siswa lebih berkembang dan bentuk karya tari yang sesuai dengan harapan meningkatkan kecerdasan siswa, maka kreativitas yang dapat dimunculkan dengan cara memotivasi siswa menciptakan gerak-gerak kreatif.
Proses pemunculan kreativitas tidak dapat diwujudkan secara sekonyong-konyong atau instan. Pemunculan kreativitas diperlukan sebuah proses melalui pemberian kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Bahwa pada siswa sekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan, dan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi. Treatment tari kreatif Menurut Smith (1989 : 20) ada beberapa rangsangan yang dapat memotivasi siswa bergerak kreatif, yaitu rangsang auditif, visual, kinestetik, gagasan, dan peraba. Rangsang auditif meliputi berbagai suara dan bunyi-bunyian, seperti manusia, suara binatang, suara angin, bunyi alat atau instrumen musik, dsb. Rangsang visual dapat ditimbulkan dari gambar, patung, obyek alam, topeng, dsb. Rangsang kinestetik adalah rangsang yang muncul dari gerak tari/gerak yang indah, atau menampilkan pameran gerak saja. Rangsang gagasan berupa cerita, dongeng, cerpen, atau peristiwa tertentu. Rangsang peraba adalah rangsang yang menghasilkan respon yang kemudian menjadi motivasi untuk gerak tari.

Gambar 1.2. Treatment Tari Kreatif

digunakan oleh guru tari untuk mengembangkan berbagai kecerdasan.

C. Tari Tradisional
Bentuk seni tari tradisional untuk siswa sekolah merupakan salah satu jenis tarian yang terdiri dari beberapa rumpun yakni ; (1) Rumpun tari permaianan, (2) Rumpun Tari rakyat, (3) Rumpun tari kreasi, dan (4) rumpun tari klasik. seperti tari anak rumpun tari permainan, rumpun tari rakyat, rumpun kreasi dan rumpun tari klasik memiliki aturan baku yang tidak bisa dirubah. keberadaan tari anak ini sangat diperlukan mengingat didalamnya terkandung nilai-nilai untuk menumbuh kembangkan kepribadian siswa sekolah selain untuk menumbuh kembangkan kecintaan sejak dini kecintaan terhadap nilai-nilai tradisi, dan faktor-faktor lainnya yang dinilai fositif bagi pendidikan. Akan tetapi sipat aturan baku yang mengikat sepertinya sudah tidak cocok dengan perkembangan pendidikan saat ini yang bersifat children centre, namun demikian pada dasarnya hal ini tentu saja perlu ada upaya yang serius dalam mengembangkan tari tradisional pada pendidikan tari di sekolah, sehingga keberadaan tari terutama kehidupan serta perkembangan tari tradisi dapat sesuai dengan perkembangan pendidikan yang bersifat children centre tersebut.
Pendekatan pembelajaran tari yang berorientasi pada children centre mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut: (a) Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak yaitu: 1) Siswa belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasakan aman dan tentram secara psikologis. 2) Siklus belajar siswa selalu berulang. 3) siswa belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan siswa lainnya. 4) Minat dan keingintahuan siswa akan memotivasi belajarnya. 5) Perkembangan dan belajar siswa harus memperhatikan perbedaan individu. (b) Berorientasi pada Kebutuhan Anak : Kegiatan pembelajaran pada siswa harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Siswa sekolah adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional). Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing siswa.(c) Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain : Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia dini. Upaya-upaya pembelajaran tari kreatif yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi gerak, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran tari menjadi bermakna bagi anak. Menari bagi anak adalah Bermain proses kreatif untuk bereksplorasi, dapat mempelajari keterampilan yang baru dan dapat menggunakan symbol untuk menggambarkan dunianya dalam media gerak. Ketika menari mereka membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya. (d) Menggunakan Pendekatan Tematik : Kegiatan pembelajaran tari hendaknya dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik dan beranjak dari tema yang menarik minat siswa. Tema sebagai alat/sarana atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep pada siswa. Tema diberikan dengan tujuan: 1). Menafsirkan isi kurikulum dalam ekspresi gerak tari. 2) Memperkaya perbendaharaan gerak anak. Jika pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan tema, maka pemilihan tema dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan siswa, sederhana, serta menarik minat siswa. Penggunaan tema dimaksudkan agar siswa mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. (e) Kreatif dan Inovatif : Proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat dilakukan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu siswa, memotivasi siswa untuk berfikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Selain itu dalam pengelolaan gerak hendaknya dilakukan secara dinamis. Artinya anak tidak hanya sebagai obyek tetapi juga sebagai subyek dalam proses pencarian gerak. (f) Lingkungan Kondusif Lingkungan pembelajaran tari harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan sehingga siswa selalu betah. Penataan ruang harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam menari sehingga dalam interaksi baik dengan guru maupun dengan temannya dapat dilakukan secara demokratis. Selain itu, dalam pembelajaran tari hendaknya memberdayakan lingkungan sebagai sumber belajar dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan kemampuan interpersonalnya sehingga siswa merasa senang walaupun antar mereka berbeda (perbedaan individual). Lingkungan hendaknya tidak memisahkan siswa dari nilai-nilai budayanya yaitu dengan tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah dan di sekolah ataupun di lingkungan sekitar. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing siswa. (g) Mengembangkan Kecakapan Hidup Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup. Pengembangan konsep kecakapan hidup didasarkan atas pembiasaan-pembiasaan yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

D. Kesenangan dan Keasyikan Anak untuk Berkreasi
Kegiatan pembelajaran sebaiknya dalam memberikan materi pelajaran khususnya seni tari harus tepat dalam menggunakan metode penyampaian materi tari kreatif untuk menggali sistem motorik dan aktifitas memfungsikan seluruh gerak dan indra tubuh sesuai dengan tahap perkembangan siswa didik dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh perilaku dan kemampuan dasar yang ada pada siswa dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Masa sekolah merupakan masa yang ideal untuk mempelajari keterampilan motorik dengan benar, mengingat siswa lebih mudah dan cepat belajar karena tubuhnya masih sangat lentur serta keterampilan yang dimilikinya masih terbatas, sehingga keterampilan yang lentur dikuasai tidak mengganggu keterampilan yang sudah ada (Hurlock,1991:111).
Tari kreatif adalah tarian yang dimainkan dengan pencarian ide-ide gerak dan alat yang penuh nilai-nilai dan norma-norma yang berguna bagi anak-anak untuk memahami dan mencari keseimbangan gerak hasil pencarian menurut kemampuan dengan penuh kesadaran atau tanpa adanya paksaan.

Manfaat Tari Kreatif :
1. Anak menjadi lebih kreatif karena gerak hasil penataan langsung oleh siswa sendiri. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan gerak tarian. Bisa digunakan sebagai terapi terhadap siswa Saat berekplorasi mencari gerakan, siswa saat menari akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk siswa yang memerlukannya kondisi tersebut.
2. Mengembangkan kecerdasan majemuk ; Manfaat tari kreatif mampu membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Sebab, kreatifitas tersebut akan menggali wawasan siswa terhadap beragam pengetahuan. Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak tarian dilakukan secara berkelompok. Dengan berkelompok anak akan mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain, nyaman dan terbiasa dalam kelompok. Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak Pada umumnya, tari kreatif mendorong anak-anak untuk bergerak, seperti melompat, berputar, dan gerakan-gerakan lainnya. Mengembangkan kecerdasan natural anak Banyak alat-alat permainan yang dibuat/digunakan dari tumbuhan, tanah, genting, batu, atau pasir. Aktivitas tersebut mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak lebih menyatu terhadap alam. Mengembangkan kecerdasan spasial anak membuat komposisi tari mendorong anak untuk mengenal konsep ruang.
Dalam kegiatan belajar tari kreatif, metode merupakan motivasi yang dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri setiap pribadi. Jika metode belajar tari itu menyenangkan, tentu dengan sendirinya membentuk ‘long term learning’, dimana menimbulkan motivasi untuk terus mencari tahu, untuk terus bereksplorasi. Tentu kita juga harus memperhatikan bakat kesenangan masing-masing individu. Dan tidak bisa menyamaratakan bahwa semua anak harus menguasai gerakan tari yang sama karena disitulah justru keunikan seseorang (individual difference).
Kesenangan eksplorasi gerak membuat anak melakukan aktivitas mengulang-ulang tanpa mengenal lelah. Jika kita melakukan segala sesuatu dengan senang kita terbebas dari tekanan dan apa yang kita hasilkan itu akan menjadi lebih baik. Demikian pula kesenangan dalam tari kreatif. Kita harus merangsang keinginan anak untuk berekplorasi, mengarahkannya tanpa ikut campur, biarkan siswa dengan keinginan alaminya untuk belajar dan menjadi mandiri. Setiap anak akan belajar dalam aktivitas pribadinya dan belajar untuk mengerti sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya yang unik. Keceriaan timbul di dalam lingkungan yang diciptakan secara khusus, kebebasan, tanggung jawab, perkembangan sosial, dan intelektual anak secara spontan akan berkembang itulah yang kita kenal sebagai pendidikan seumur hidup.
Sebagaimana telah dinyatakan oleh para ahli bermain adalah dunia anak, melalui bermain anak berimajinasi kreatif dan membangun pengetahuannya. Dalam menari kreatif anak bereksplorasi dan membangun pengetahuannya melalui media tubuhnya serta unsur-unsur gerak yang terkait dengan ruang, tenaga dan waktu. Belajar melalui tari akan bermakna memberikan stimulasi kecerdasan siswa di Sekolah, bilamana kegiatan menari dirancang berdasarkan Developmentally Appropriate Practice (Gestwicki, 2007). Bilamana pembelajaran melalui tari dirancang dengan memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa didik untuk bermain dalam suasana yang partisipatif aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, maka belajar menari akan menjadi bermakna dalam menumbuhkembangkan kecerdasan siswa di sekolah.
Anak mempunyai karunia untuk selalu ingin tahu dan kreatif, terutama waktu mereka mengerjakan sesuatu yang menarik dan mereka pilih sendiri. Oleh karena itu anak terlebih dahulu harus dirangsang kesenangan pada tarian. Mengingat proses pemunculan kreativitas anak tidak dapat diwujudkan secara sekonyong-konyong atau instan. Belajar melalui tari diperlukan sebuah proses melalui pemberian kesempatan untuk bersibuk diri penuh kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi. Pada siswa sekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan, dan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi. Yang penting dalam memunculkan kegiatan tari kreatif, adalah pemberian kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai eksplorasi dalam rangka mewujudkan atau mengekspresikan dirinya secara kreatif. Dalam hal ini guru tari hendaknya dapat merangsang siswa untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif dengan membantu dirinya dalam kegiatan kreatif dengan mengusahakan suasana yang menyenangkan dan mengasyikan.
Melatih kecerdasan siswa sekolah sangat penting dan dianjurkan. Selain mengajarkan siswa untuk terus berimajinasi secara terarah, kita bisa melatih dan memberikan beberapa kegiatan untuk anak terus berkreasi dengan kreatif. Apa saja kegiatan kreatif tersebut. Kegiatan yang sarat akan kesenangan ini sangat baik. Sistem motorik dan aktifitas memfungsikan seluruh gerak dan indra tubuh terdapat pada kegiatan menari. Gerak motorik anak akan terlatih dengan cepat dan aktif. Jika anak suka dengan tarian dan cepat dalam mengikuti gerakan tari yang dicontohkan, maka perkembangan motorik dan daya ingat anak sangatlah baik. Dalam memberi contoh tarian kepada anak, tidak diperbolehkan adanya pemaksaan contoh. Biarkan anak bergerak dengan sendiri terlebih dulu mengikuti alunan musik yang ada. Setelah anak menemukan kesenangan mengikuti musik, barulah memasukkan gerakan baru yang akan diajarkan. Setelah itu kita tinggal melihat bagaimana sang anak memodifikasi sendiri gerakannya. Lakukan kegiatan ini dengan menyenangkan bersama iringan musik ceria yang disukai anak.

E. Rangsang Auditif, Visual, Kinestetik, Gagasan dan Peraba Tari Kreatif
Jika kita perhatikan sejarah tentang siswa sekolah pada beberapa abad yang lalu memperoleh pengajaran, ternyata di berbagai tempat caranya hampir sama. Pertama, guru atau orangtua mengatakan sesuatu,siswa duduk manis mendengarkan Guru. [Duduk] Kedua, anak mendengar,mengulang dan menghafal perkataan Gurunya. [Dengar] Ketiga, Guru memberi contoh yang kemudian ditiru oleh anak.[Catat].
Seiring dengan perkembangan zaman, cara (metode) mengajar pun mengalami perubahan, yaitu dengan ditemukan cara baru yang lebih efektif dan mengaktifkan anak didik. Jika dengan cara baru tersebut, guru merasa lebih berhasil dibandingkan dengan cara yang lama, dengan sendirinya sejak saat itu mereka mengajar dengan cara yang baru tersebut.
Howard Gardner (dalam Buku Quantum Learning karya De Porter, Bobbi, & Mike Hernacki) menyatakan bahwa seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya. Ketika menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa (active learning). Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk mengamati, tangan siswa bergerak, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Merujuk pada konsep konstruktivisme pendidikan, keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh seberapa mampu mereka membangun pengetahuan dan pemahaman tentang suatu materi pelajaran berdasarkan pengalaman belajar yang mereka alami sendiri.
Menurut pendapat Malouf, Doug (2000) bahwa orang akan belajar secara optimal kalau dia ikut berpartisipasi. Tugas pengajar untuk memikirkan aktivitas apa yang paling optimal, menarik, dinamis dan relatif lebih kecil resikonya. Malouf (2000) mengajukan 3 tahap format bahan ajar untuk pembelajar : (1) Tahap pemberian informasi Sebelum diberi dialog, pengajar mempersiapkan kerangka berpikir pembelajar, dengan memberikan latar belakang situasi atau mengajukan pertanyaan- pertanyaan pra-dialog. Hal ini bisa dihubungkan dengan budaya atau kebiasaan masyarakat Indonesia. Tahap pemberian Informasi,Asher (1966) mengatakan : “pembelajaran melalui pancaindera penglihatan lebih efisien dan bertahan lebih lama dalam ingatan dibandingkan dengan pendengaran”. Dengan pertimbangan di atas, pengajar mengombinasi pemberian penjelasan melalui audio dengan benda-benda konkrit, gambar, gerakan fisik dan ekspresi emosi. (2) Tahap peragaan, Asher (1966) percaya bahwa kondisi yang optimal untuk belajar adalah, bagaimana pembelajar pertama-tama diperkenalkan dengan bahan ajar. Menurutnya, keterampilan menebak sangat penting dalam belajar dan erat kaitannya dengan lamanya bertahan dalam ingatan. Implikasinya, jangan berikan terjemahan atau arti langsung kepada pembelajar, tapi biarkan mereka memprosesnya secara mendalam dan menebaknya melalui konteks. (3) Tahap pelaksanaan, Sesudah pemahaman terjadi, pembelajar diharapkan bisa memproduksi secara terbatas melalui aktivitas yang sederhana. Sesudah itu bisa mengaplikasikannya dalam situasi yang lebih majemuk.
Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk tari kreativitas yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan yang cukup mendukung atau kondusif untuk memberikan rangsang auditif, visual, kinestetik, gagasan dan peraba tidak meniru atau mencontoh karya orang lain. Seorang kritikus dari Amerika Serikat, yaitu John Martin dalam bukunya yang berjudul “The Modern Dance”, mengemukakan bahwa gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia (Soedarsono, 1987). Landasan elemen dasar dari tari adalah gerak, gerak yang diterapkan dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan bentuk yang diungkapkan manusia agar dapat dinikmati dengan rasa. Susane K. Langer dalam bukunya yang berjudul “Problem of Art”, mengemukakan bahwa gerak-gerak ekspresif ialah gerak-gerak yang indah, yang dapat menggetarkan perasaan manusia. Sedang gerak indah adalah gerak yang destilir dan mengandung ritme tertentu. Kata indah identik dengan bagus, yang dapat memberikan kepuasan batin manusia (Soedarsono, 1987).
Salah satu hal yang sering dilupakan oleh para guru adalah bahwa setiap anak dengan latar belakang berbeda mempunyai keunikan tersendiri dalam belajar. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam memperoleh dan mengolah informasi. Gaya inilah yang disebut dengan gaya belajar (learning style).Banyak ahli yang menggunakan istilah berbeda-beda dalam memahami gaya belajar ini. Tetapi secara umum, menurut Bobby DePotter terdapat dua benang merah yang disepakati tentang gaya belajar ini. Pertama adalah cara seseorang menyerap informasi dengan mudah, yang disebut sebagai modalitas, dan kedua adalah cara orang mengolah dan mengatur informasi tersebut.
Modalitas belajar adalah cara kita menyerap informasi melalui indera yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan berbeda-beda dalam menyerap informasi. Terdapat tiga modalitas belajar ini, yaitu apa yang sering disingkat dengan VAK: Visual, Auditory, Kinestethic. (1) Visual ; Modalitas ini menyerap citra terkait dengan belajar tari melalui visual, warna, gambar, peta, diagram. Model pembelajar tari secara visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata. Beberapa ciri dari pembelajar tari secara visual di antaranya adalah: Mengingat apa yang dilihat dari tarian, Rapi dan teratur gerak tarian, penampilan tarian, dalam hal pakaian ataupun penampilan keseluruhan teliti terhadap detail. (2) Auditori ; Model pembelajar tari secara auditori adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap musik tarian yang ia dengarkan. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah: Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan, Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara, Suka musik dan bernyanyi, Tidak bisa diam dalam waktu lama.(3) Kinestetik ; Model pembelajar tarian secara kinestetik adalah pembelajar yang menyerap informasi melalui berbagai gerakan fisik. Ciri-ciri pembelajar kinestetik, di antaranya adalah: Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak, Menanggapi perhatian fisik, Suka menggunakan berbagai peralatan dan media, Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka, Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar, Belajar melalui praktek, Menghafal dengan cara berjalan dan melihat, Banyak menggunakan isyarat tubuh, Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama, Menyukai permainan dan olah raga.

F. Sumber Belajar Tari Kreatif
Sumber belajar adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Minat siswa akan bangkit apabila suatu bahan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa didik.sumber belajar dapat berupa segala macam alat atau situasi yang dapat membantu dan bahkan memperkaya dan memperjelas pemahaman siswa terhadap sesuatu yang sedang dipelajarinya bahkan membantu siswa didik memperkaya pengalaman. Begitu juga bakat tari kreatif akan tumbuh dan berkembang jika didukung dengan fasilitas sumber belajar yang memungkinkan. Dengan adanya keragaman bakat dan kreativitas, orang tua dan guru harus menyadari akan pentingnya sumber belajar tari kreatif disesuaikan dengan pribadi dan kepentingan siswa. Dengan demikian maka cara memberikan tarian kreatif harus disesuaikan dengan pribadi dan kecepatan masing-masing siswa didik. Suatu kreativitas yang sesungguhnya merupakan keunikan individu dalam melakukan interaksi dengan sumber belajar. Dari ungkapan individu atau orang yang unik inilah diharapkan muncul gagasan ide yang baru, dalam memperlakukan sumber belajar tari kreatif. Siswa didik bisa mengeksplorasi sumber belajar disesuaikan dengan tingkat kematangan psikologisnya, oleh karena itu baru menurut siswa didik akan berbeda dengan baru menurut pandangan orang dewasa, maka orang tua dan guru hendaklah dapat menghargai keunikan pribadi masing-masing anak dalam memperlakukan media belajar tari. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dan kebebasan yang cukup serta memfasilitasi sumber belajar tari mereka secara memadai.

G. Kesimpulan

Selama ini pembelajaran tari tradisional lebih diberikan melalui pola-pola baku sehingga siswa didik hanya meniru tarian dari guru saja tanpa sedikit pun siswa dapat mengeluarkan ide-ide kreatifitasnya atau tarian yang diberikan oleh guru tidak sesuai dengan usianya, sehingga hal tersebut membuat anak cenderung lebih pasif, lebih egois,kaku dan tidak kreatif.
Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta (KBBI, 2001 :559). Moustakis (1978) mengemukakan kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, alam dan orang lain. Sedangkan menurut Drevdahl (1978 :29) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal.
Pendekatan pembelajaran tari yang berorientasi pada children centre di sekolah pada dasarnya mengacu pada prinsip-prinsip Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak yaitu salah satunya siswa belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasakan aman dan tentram secara psikologis.
Tari kreatif adalah tarian yang dimainkan dengan pencarian ide-ide gerak dan alat yang penuh nilai-nilai dan norma-norma yang berguna bagi siswa didik untuk memahami dan mencari keseimbangan gerak hasil pencarian menurut kemampuan dengan penuh kesadaran atau tanpa adanya paksaan.
Kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk tari kreativitas yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan yang cukup mendukung atau kondusif untuk memberikan rangsang auditif, visual, kinestetik, gagasan dan peraba tidak meniru atau mencontoh karya orang lain.
Minat siswa akan bangkit apabila suatu bahan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa didik. sumber belajar dapat berupa segala macam alat atau situasi yang dapat membantu dan bahkan memperkaya dan memperjelas pemahaman siswa didik terhadap sesuatu yang sedang dipelajarinya bahkan membantu siswa memperkaya pengalaman.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Rohani,dkk. (2004). Panduan Kurikulum Prasekolah. Malaysia:Malindo
Printer SDN.BHD.
Alwasilah, A.Chaedar. (2006). Pokoknya Kualitatif : Dasar-Dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta : Pustaka Jaya.
Aryadita, R Dida. (2004). Kontribusi tindakan guru dalam pembelajaran di Taman Kanak-Kanak terhadap perkembangan anak usia dini.(Tesis,Pasca Sarjana UPI).
Crat, Anna. (2000). me-Refresh Imajinasi & Kreativitas Anak-Anak. Depok : Cerdas Pustaka.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1984). Psikologi Perkembangan dan Psikologi Pendidikan. Bandung: Depdikbud.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1993). Peranan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdikbud.
Dryden, Gordon dan Jeannette Vos. (2000). Revolusi Cara Belajar Bagiar. II Sekolah Masa Depan. Bandung: Kaifa.
Hapidin. (2000). PengembanganModel Pendidikan untuk TK Atraktif (Makalah Penataran Guru TK Pembina). Jakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru Dirjen Dikdasmen Depdiknas.
Hidayat, Heri. (2003). Aktivitas Mengajar Anak TK. Bandung : Katarsis
Kristianawati, Karolina. (2004). Pengembangan Kemampuan Mengajar Guru Taman Kanak-Kanak Di TK Santo Yusuf, Bandung (Studi kasus pelaksanaan pengembangan kemampuan mengajar guru TK Santo Yusuf Bandung pada tahun 2000 – 2003) (Bandung : Tesis Program Pasca Sarjana UPI)
Mueslichatoen. (1999). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Rineka Cipta.
Masunah, Juju & Tati Narawati. (2003). Seni dan Pendidikan Seni, Sebuah Bunga Rampai. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seni Tradisional (P4ST) UPI.
Patmonodewo, Soemiartini. (2000). Pendidikan Anak Prasekolah. Cetakan Pertama. Jakarta: Rineka Cipta.

Porter, Bobbi De and Mike Mermochi. (1999). Quantum LeamingMembiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
Rahman, Hibana S. (2002). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTK Press.
Supriadi, Dedi. (2004). Membangun Bangsa Melalui Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.

BELAJAR MENGAPRESIASI ; ‘Belajar dengan seni,’ ‘Belajar melalui seni,’ dan ‘Belajar tentang seni’

Maret 8, 2011 Tinggalkan komentar

Proses terjalinnya hubungan antara penikmat dan ekspresi seni seorang seniman disebut Apresiasi. Yakni, kegiatan menyerap dengan panca indera, menanggapi, menghayati sampai kepada menilai karya eskpresi seni seniman itu. Dalam konteks pendidikan ‘belajar dengan seni,’ ‘belajar melalui seni,’ dan ‘belajar tentang seni’. Segala bentuk kegiatan apresiasi seni secara umum bertujuan untuk mendidik siswa memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tidak hanya sekedar untuk bidang seni sendiri akan tetapi pengalaman apresiasi seni pada usaha untuk mengembangkan manusia berkarakter yang dapat memainkan peranan yang sangat fundamental dimana cita-cita suatu bangsa dan Negara dapat diraih.

Melalui pembelajaran apresiasi seperti ini pendidikan seni budaya dan keterampilan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajaran terhadap kepentingan peserta didik; pertama, melalui pembelajaran apresiasi sudah pasti seorang seniman tindak mungkin besar tanpa peranan para pendukungnya. Kedua, seniman memahami sesungguhnya dengan bekerja sama akan menghasilkan karya yang baik. ketiga, karya seni penting diapresiasi untuk menjalin kepentingan dan nilai hubungan dengan penikmatnya.

Pengalaman nilai apresiasi ini menjadi penting untuk kepentingan peranan manusia berkarakter yang dicontohkan dalam kisah berikut ;

Seorang anak muda yang baru lulus dari universitas memohon kerja sebagai manajer di sebuah perusahaan yang besar. Anak muda itu lulus dalam sesi wawancara pertama dan keputusan akhir berada di tangan sang direktur pada wawancara sesi terakhir. Direktur perusahaan melihat prestasi akademik anak muda ini cemerlang sejak sekolah menengah pertama hingga lulus universitas.

Sang direktur bertanya, “Apakah anda mendapat beasiswa di sekolah?”
Anak muda tersebut menjawab; “Tidak”.

Sang direktor bertanya lagi, “Adakah ayah anda yang membiayai sekolah anda?” Anak muda itu menjawab, “Ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia setahun, ibu saya yang menanggung biaya sekolah saya selama ini”.

Sang direktur bertanya, “Di mana ibu anda bekerja?” Anak muda itu menjawab, “Ibu saya bekerja sebagai pencuci pakaian”. Sang direktor meminta anak muda tersebut menghulurkan tangannya. Tangan anak muda itu kelihatan halus dan lembut.

Sang direktur bertanya, “Pernahkah anda membantu ibu anda bekerja?” Anak muda itu menjawab, “Tidak, ibu saya senantiasa meminta saya belajar dan membaca buku. Lagi pula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dari saya”.

Sang direktur berkata, “Saya mempunyai sebuah permintaan. Sewaktu anda pulang hari ini, cucilah tangan ibu anda, dan keesokan harinya temuilah saya”.

Anak muda tersebut merasakan punya peluang yang cukup tinggi untuk mendapat kerja. Ketika ia pulang, ia meminta ibunya membolehkannya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa aneh, gembira dan dengan perasaan bercampur baur, ia menunjukkan tangannya pada sang anak.

Anak muda tersebut mulai membersihkan tangan ibunya secara perlahan-lahan. Air mata mula menitik. Itulah untuk pertama kalinya ia melihat tangan ibunya yang kasar dan penuh luka-luka. Sebagian luka begitu sakit sehingga si ibu menggigil saat dibersihkan dengan air.

Inilah kali pertama anak muda tersebut menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang bekerja keras demi membiayai sekolahnya. Luka-luka ditangan ibunya itulah merupakan harga yang harus dibayar demi membiayai sekolah dan masa depannya. Selepas selesai membersihkan tangan sang ibu, anak muda itu mulai mencuci pakaian yang masih tersisa untuk ibunya.

Keesokan hari, anak muda itu pergi ke kantor tersebut. Sang direktur menyadari ada titik-titik air mata yang tergenang dalam mata anak muda itu. Ia bertanya, “Sudikah anda menceritakan apa yang telah anda lakukan kemarin dan apa saja yang telah anda pelajari??”

Anak muda itu menjawab, “Saya membersihkan tangan ibu saya dan turut membantu mencuci pakaian yang masih tersisa”. Sang direktur berkata, “Tolong nyatakan perasaan anda”.

Anak muda itu berkata, Pertama, kini saya memahami apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, sudah pasti saya tidak akan berhasil seperti hari ini. Kedua, dengan bekerja bersama dan membantu ibu, saya kini memahami sesungguhnya begitu sulit untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Ketiga, kini saya mula mengapresiasi kepentingan dan nilai hubungan kekeluargaan.

Sang direktur lalu berkata, “Inilah yang saya cari untuk mengisi jabatan manajer. Saya ingin merekrut orang yang bisa mengapresiasi bantuan orang lain. Orang yang memahami penderitaan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya, dan seorang yang tidak melihat uang sebagai satu-satunya dalam kehidupannya. Anda diterima bekerja di sini.

Kemudian, anak muda ini bekerja keras, dan dihormati oleh teman-teman sekerjanya. Setiap pekerja bekerja keras sebagai sebuah tim. Perusahaan tersebut mencapai hasil yang memuaskan.

Seorang anak, yang terbiasa dilindungi dan diberi apa saja yang dikehendaki akan menumbuhkan mentalitas yang senantiasa mementingkan dirinya terlebih dahulu. Ia tidak menghargai usaha dan kesulitan yang dirasakan oleh ibu dan ayahnya. Saat ia mulai bekerja, ia berasumsi bahwa semua orang harus mendengar kata-katanya. Saat ia menjadi manajer, ia tidak pernah tahu atau ingin ambil tahu akan kesulitan dan usaha orang lain dan senantiasa akan menyalahkan orang lain. Orang seperti ini, sekalipun pendidikannya tinggi, tapi sebenarnya ia tidak akan dapat merasa atau menikmati keberhasilan. Ia hanya akan mengeluh dan dipenuhi dengan rasa benci.

Anda bisa memanjakan anak-anak anda, tinggal di rumah yang besar, belajar piano, belajar menari, belajar musik, belajar acting, menonton tv dan sebagainya. Kemudian kemudian mengajarinya memberikan dengan format penilaian Unsur estetika seni yang meliputi ; (1) Unity (keutuhan, kebersatuan, kekompakan, tidak ada cacatnya); (2) Complexity (kerumitan, keanekaragaman); dan (3) Intensity (intensitas, kekuatan, keyakinan, kesungguhan). Keutuhan berhubungan dengan kesatuan dan keselarasan jalinan karya seni yang ditampilkan, termasuk pula keselarasan nilai adat dan budaya yang dikandung karya seni tersebut.Kerumitan berhubungan bentuk atau wujud karya seni. Kompleksitas ini menambah nilai tersendiri bagi karya seni tersebut dan bagi orang yang membawakannya. Intensitas berhubungan dengan kepercayaan atau prinsip hidup yang dituangkan dalam karya seni tersebut, seperti unsur kepercayaan dan adat istiadat sebagai pengejawantahan kehidupan masyarakat.

Tetapi ketika anda melakukan apresiasi pekerjaan, biarlah mereka turut merasakannya. Selepas makan, biarlah mereka turut membantu mencuci piring dan sebagainya. Bukan karena anda tidak mampu mempunyai pembantu rumah, tetapi anda ingin mencintai mereka dengan jalan yang benar. Anda ingin mereka memahami. Yang paling penting ialah anak anda belajar mengapresiasi upaya dan merasai kesulitan serta belajar untuk bisa bekerja secara tiem dengan orang lain.

Sekolah Berbasis Seni perlu ada karena keunikan, Kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi yang memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apreasiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

Sumber :
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=27809%3Abelajar-mengapresiasi&catid=48%3Akeindahan-islam&Itemid=79
Bandi, M.Pd.,dkk. Pembelajaran Seni budaya dan keterampilan, Direktorat jenderal pendidikan islam departemen agama republik Indonesia.
Kurikulum SD/MI KTSP 2006

CERDAS MELALUI SENI RUPA

Februari 5, 2011 3 komentar

Perkembangan Pengetahuan banyak terkait pada modalitas visual. Ketika pengetahuan agama, pengetahuan kewarganegaraan, pengetahuan bahasa, pengetahuan matematika, pengetahuan ilmu pengetahuan alam, pengetahuan ilmu sosial, dan pengetahuan olah raga, secara harfiah anak ingin memvisualkannya. Proses ini bisa dianalisa ; kinerja anak dikoordinasi oleh otak dan otak sendiri akan bekerja karena skema (gambaran ingatan pada apa yang dilihat), pertumbuhan anak dorongan dari mata. Mata mencari bentuk yang mungkin bisa diserahkan kepada otak untuk diubah, dari kata-kata penjelasan guru atau tulisan dalam buku pelajaran diubah menjadi bentuk kemudian menuju memori dan diungkapkan menjadi gambar. Hasil pengamatan terhadap pelajaran diserahkan kepada otak untuk diramu dan dimasak menjadi pengetahuan baru dan setelah itu meminta tangan menangani kebutuhan otak dalam mengungkapkan ide dan gagasannya tidak dalam bentuk tulisan akan tetapi dalam bentuk gambar.
Modalitas visual yang ada dalam berbagai pelajaran sebenarnya dibutuhkan oleh anak dalam menganggapi lingkungan. Berarti belajar melalui seni rupa adalah upaya untuk memahami sekeliling melalui latihan daya ingat. Proses memahami lingkungan yang berkaitan dengan otak melalui citra-citra asosiatif dilakukan komunikasi secara metaforis-simbolis. Sebab, di dalam otak terdapat beberapa pikiran yang dikelilingi asosiasi. Menurut Dilts (1983; dalam DePorter et al., 1999:68), gerakan mata selama belajar dan berpikir terkait pada modatitas visual, auditonal, dan kinestetik. Dengan kata lain, mata bergerak menurut cara otak mengakses informasi. Pada umumnya, ketika mata bergerak naik, maka kita sedang menciptakan atau mengingat citra.
Misalnya jika guru mengajarkan ’Pendidikan Kewarganegaraan’ tentang perbedaan suku bangsa, matanva akan naik saat dia berpikir : seolah-olah suku bangsa-suku bangsa ada diawang-awang. Padahal dia sedang mengingat bahwa otak menyimpan dan menciptakan citra visual dan kinerja mata bergerak ke informasi yang tersimpan untuk diciptakan. Dalam kontek belajar melalui Visual maka terbentuklah ’gambar orang-orang dengan pakaian adat yang berbeda-beda.

Dalam kontek belajar melalui seni maka terbentuklah jaringan indikator (tematik) sebagai berikut :

KERANGKA DASAR KURIKULUM 2006 Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan

Februari 5, 2011 2 komentar

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan

A. Latar Belakang
Muatan seni budaya dan Keterampilan sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan pemerintah Republik Indinesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampialn. Aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan, Kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan : ‘belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apreasiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdesan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.
Bidang seni rupa, musik, tari, dan keterampilan memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni dan keterampilan, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apreasiasi dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

B. Tujuan
Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan.
2. Menampilkan sikap apreasiasi terhadap seni budaya dan keterampilan.
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan.
4. Menampilkan peran serta dalam hal seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global.

C. Ruang Lingkup

Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, ketermapilan, dan nilai dalam menghasilkan karya seni berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya.
2. Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat musik, apreasiasi karya musik.
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan tanpa rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari.
4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan memadukan seni music, seni tari dan peran.
5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills) yang meliputi keterampilan personal, keterampilan social, keterampilan vokasional dan keterampilan akademik.
Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan, minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya. Pada tingkat SD/MI, mata pelajaran keterampilan ditekankan pada keterampilan vokasional, khusus kerajinan tangan.

Sumber :
Kurikulum – 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006, Penerbit Media Makmur Majumandiri, Jakarta 2006.

Kerangka Acuan Kurikulum Sekolah Basis Seni (SBS)

Januari 18, 2011 2 komentar

Dalam membangun pendidikan di masa depan perlu dirancang sistem pendidikan yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu berkesinambungan dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Dalam menghadapi harapan dan tantangan di masa depan, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan. Pendidikan di masa depan memainkan peranan yang sangat fundamental di mana cita-cita suatu bangsa dan negara dapat diraih. Usaha untuk mengembangkan manusia berkualitas yang siap menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan harus dimulai sedini mungkin melalui pendidikan.

Salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan. Untuk itu, kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan tidak selalu tertinggal bahkan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia.

Kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan selain bersumber pada sumber daya alam, tetapi juga pada keunggulan seni budaya lokal yang tidak dimiliki bangsa lain. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar mutu nasional dan internasional, kurikulum di masa depan perlu dirancang sedini mungkin supaya bermakna. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional memiliki keterpaduan dengan berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan cara seperti ini lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan peserta didik.

Segala kegiatan yang bertujuan untuk mendidik siswa selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk mata pelajaran-mata pelajaran yang keseluruhannya memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan bervariasi bagi siswa. Pengalaman belajar di sekolah mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang saling menghargai, berempati, ulet untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.Siswa dikondisikan untuk melakukan aktivitas mengapresiasi, berkreasi dan mengaplikasikan seluruh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah diperolehnya untuk memecahkan masalah dan membuat terobosan-terobosan model baru dengan gagasan yang baik di sekolahnya.

Seni budaya memberikan sumbangan kepada siswa agar berani dan siap bangga akan budaya bangsa sendiri dan menyokong dalam menghadapi tantangan masa depan adalah mata pelajaran seni budaya. Hal ini dikarenakan kompetensi dalam mata pelajaran ini merupakan bagian dari pembekalan life skill kepada siswa. selain itu keseluruhan kegiatan pembelajaran seni budaya yang merupakan aplikasi dari mata pelajaran lain dalam menghasilkan suatu produk/karya yang dibuat langsung oleh siswa dapat membuat siswa semakin merasakan manfaat mata pelajaran lain melalui pengalaman estetis dalam berkarya.

Seni budaya merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam berbagai pengalaman apresiasi maupun pengalaman berkreasi untuk menghasilkan suatu produk berupa benda nyata dari pelajaran lain yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa. Dalam Integrasi mata pelajaran Seni budaya, siswa melakukan interaksi terhadap pelajaran lain menghasilkan benda-benda produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungan siswa,misalnya dengan mata pelajaran Bahasa melahirkan produk seni budaya karya puisi, permainan kartu kata,dsb.atau melalui mata pelajaran IPA menghasilkan produk seni dekorasi atau lagu-lagu tentang alam dsb. dan kemudian berkreasi menciptakan berbagai produk kerajinan maupun produk teknologi, secara sistematis, sehingga diperoleh pengalaman konseptual, pengalaman apresiatif dan pengalaman kreatif.

Orientasi mata pelajaran Seni budaya adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual, fisik, konsepsi, sosial, estetis, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apreasiasi dan kreasi terhadap berbagai produk benda di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, mencakup antara lain ; jenis, bentuk, fungsi, manfaat, tema, struktur, sifat, komposisi, bahan baku, bahan pembantu, peralatan, teknik kelebihan dan keterbatasannya. Selain itu siswa juga melakukan aktivitas memproduksi berbagai produk benda kerajinan maupun produk teknologi misalnya dengan cara meniru, mengembangkan dari benda yang sudah ada atau membuat benda yang baru.

Berdasarkan paparan di atas, maka dianggap perlu segera dilakukan upaya untuk membahas dan mengkaji kembali dokumen dan berdasarkan informasi yang berkembang bahwa kurikulum secara keseluruhan khususnya mata pelajaran seni budaya dari jenjang SD & MI sampai SMA.& MA Karena berdasarkan hasil kajian dokumen dan kajian lapangan terbukti bahwa revisi standar isi kurikulum perlu dilakukan, untuk menyempurnakan berbagai kelemahan Kurikulum seni budaya hubungannya dengan integrasi dengan mata pelajaran lain atau Sekolah Berbasis Seni sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna, karena siswa semakin merasakan manfaat mata pelajaran lain melalui pengalaman estetis dalam berkarya dengan menghasilkan produk budaya sebagai bekal mandiri (life skill) setelah dia selesai sekolah.