Arsip

Archive for the ‘MANAJEMEN PENGAJARAN’ Category

PERENCANAAN PENDIDIKAN YANG INOVATIF MEMBENTUK SEKOLAH UNGGULAN

Januari 13, 2011 Tinggalkan komentar

Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip tersebut mencakup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan, dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi. Waterson mengemukakan bahwa pada hakekatnya perencanaan merupakan usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif tindakan guna mencapai tujuan, perencanaan bukan kegiatan yang tersendiri melainkan merupakan suatu bagian dari proses pengambilan keputusan yang kompleks. Oleh karena itu, Schaffer menjelaskan bahwa apabila perencanaan dibicarakan, kegiatan ini tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan tersebut dimulai dengan perumusan tujuan, kebijakan, dan sasaran secara luas, yang kemudian berkembang pada tahapan penerapan tujuan dan kebijakan itu dalam rencana yang lebih rinci berbentuk program-program untuk dilaksanakan. Dalam hal ini Yehezkel Dror dalam A.Faludi mengemukakan ”Planing is the process of preparing a set of decision for action in the future directed at achieving goals by preferable means” (perencanaan adalah program mempersiapkan seperangkat keputusan tentang kegiatan-kegiatan untuk waktu masa yang akan datang dengan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan melalui penggunaan sarana yang tersedia). Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, Friedman mengemukakan bahwa planing is a process by which a scientific and technical knowledge is joined to organized action. Menurut pengertian tersebut, perencanaan adalah proses menggabungkan pengetahuan dan teknik ilmiah ke dalam kegiatan yang diorganisasi, Suherman, dalam buku “Teknik-teknik Dasar Pembangunan Masyarakat “, mengemukakan bahwa perencanaan adalah suatu penentuan urutan tindakan, perkiraan biaya serta penggunaan waktu untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar dengan efisien untuk tercapainya tujuan.
Berdasarkan beberapa pengertian dan prinsip-prinsip di atas dapat dikemukakan bahwa keputusan yang diambil dalam perencanaan berkaitan dengan rangkaian tindakan atau kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan di masa yang akan datang. Rangkaian tindakan atau kegiatan itu perlu dilakukan karena dua alasan. Pertama, untuk mewujudkan kemajuan atau keberhasilan sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan alasan kedua, ialah, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, dan kondisi yang sama atau lebih rendah daripada keadaan pada saat ini.
Sesuai dengan pengertian di atas, perencanaan pendidikan yang inovatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) Perencanaan merupakan model pengambilan keputusan secara rasional dalam memilih dan menetapkan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan. (2) Perencanaan berorientasi pada perubahan dari keadaan masa sekarang kepada suatu keadaan yang diinginkan di masa datang sebagaimana dirumuskan dalam tujuan yang akan dicapai. (3) Perencanaan melibatkan orang-orang ke dalam suatu proses untuk menentukan dan menemukan masa depan yang diinginkan. (4) Perencanaan memberi arah mengenai bagaimana dan kapan tindakan akan diambil serta siapa pihak yang terlibat dalam tindakan atau kegiatan itu.(5) Perencanaan melibatkan perkiraan tentang semua kegiatan yang akan dilalui atau akan dilaksanakan. Perkiraan itu meliputi kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan keberhasilan, sumber-sumber yang digunakan, faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta kemungkinan resiko dari suatu tindakan yang akan dilakukan. (6) Perencanaan berhubungan dengan penentuan prioritas dan urutan tindakan yang akan dilakukan. Prioritas ditetapkan berdasarkan urgensi atau kepentingannya, relevansi dengan kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi. (7) Perencanaan sebagai titik awal untuk dan arahan terhadap kegiatan pengorganisasian,penggerakan,pembinaan, penilaian dan pengembangan.
Ketujuh ciri perencanaan di atas saling berhubungan dan saling menopang antara satu dengan lainnya. Ciri-ciri tersebut perlu dijabarkan dalam rangkaian kegiatan pendidikan yang akan diselenggarakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa patokan perencanaan : (1) Dalam merumuskan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa sumber-sumber yang tersedia atau yang dapat disediakan selalu dalam keadaan terbatas. (2) Perencanaan senantiasa membutuhkan data atau informasi tentang sumber-sumber dan pengalaman empirik yang berkaitan dengan proses dan hasil kegiatan sebagaimana direncanakan. (3) Para perencana yang berasal dari organisasi atau lembaga yang menyelenggarakan perencanaan, harus memperhatikan kebutuhan potensi, dan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran sehingga rencana yang disusun dapat memperoleh dukungan dari masyarakat. (4) Dalam organisasi atau lembaga yang menyelenggarakan perencanaan terdapat pembagian tanggung jawab dan wewenang. Tanggung jawab berkaitan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Wewenang berhubungan dengan komunikasi antar pihak yang terlibat dalam lembaga tersebut. (5) Manusia dengan keterbatasan dan kelebihannya, menjadi faktor paling penting dan paling menentukan baik dalam perencanaan maupun dalam kehadiran dan aktivitas lembaga baru.
Enam pertanyaan pokok dalam memahami arah perencanaan : (1) Upaya apa (what) yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (2) Mengapa (why) upaya itu dilakukan (3) Dimana (where) dan dalam situasi apa upaya itu dilaksanakan (4) Kapan (when) kegiatan itu akan dilakukan (5) Siapa (who) orang-orang yang memiliki tugas dan wewenang dalam melakukan kegiatan itu, dan (6) Bagaimana (how) bagaimana cara melaksanakannya.
Perencanaan inovatif merupakan proses penyusunan rencana yang menitikberatkan perluasan fungsi dan wawasan kelembagaan untuk memecahkan permasalahan kehidupan masyarakat yang menjadi layanan berbagai lembaga, Perencanaan ini ditandai dengan adanya upaya mengembangkan gagasan dan kegiatan baru dalam memecahkan masalah.
Perencanaan inovatif sering diarahkan untuk memecahkan permasalahan besar yang dihadapi masyarakat, sebagaimana dikemukakan Chamberlain dalam bukunya Private and Public Planning menjelaskan bahwa perencanaan inovatif adalah tipe perencanaan untuk menghadapi masalah-masalah besar yang tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan perencanaan konvensional, melainkan harus menggunakan suatu pola perencanaan yang baru.
Perencanaan inovatif memiliki tiga ciri pokok, yaitu pembentukan lembaga baru, orientasi pada tindakan atau kegiatan, dan penggerakkan sumber-sumber yang diperlukan. Ketiga ciri pokok tersebut dipaparkan di bawah ini.
1. Pembentukan Lembaga Baru
Perencanaan inovatif pada dasarnya berhubungan dengan penjabaran prinsip-prinsip umum perencanaan yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait ke dalam perencanaan yang disusun oleh lembaga baru atas kesepakatan lembaga-lembaga tersebut. Pembentukan lembaga baru itu didasarkan atas kepentingan lembaga-lembaga yang bersangkutan dalam menangani permasalahan khusus, baik secara nasional, daerah ataupun lokal, yang memerlukan pemecahan secara bersama oleh lembaga-lembaga terkait. Penanganan secara bersama menyangkut pendayagunaan sumber daya (manusia dan non manusia) yang terdapat pada lembaga masing-masing, pembagian garapan dan tugas tiap lembaga, dan lain sebagainya.
Dengan demikian terdapat beberapa ciri penting dalam perencanaan inovatif. Pertama, adanya lembaga baru yang dibentuk oleh lembaga-lembaga terkait atau sektor-sektor,walaupun pembentukannya kadang-kadang didasarkan keputusan politis. Lembaga baru mempunyai fokus perhatian pada masalah yang perlu digarap secara bersama. Pemecahan masalah dilakukan melalui pendekatan secara menyeluruh (komprehensip). Program-program untuk pemecahan masalah disusun karena alasan-alasan khusus. Kedua, lembaga baru berperan untuk mewakili fungsi lembaga-lembaga yang membentuknya dalam memberikan pelayanan secara efisien dan efektif terhadap khalayak di masyarakat yang membutuhkannya, melalui berbagai program sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan sesuai pula dengan potensi yang ada di lembaga-lembaga. Ketiga, lahirnya lembaga baru bisa jadi membutuhkan anggaran biaya baru disamping biaya yang telah ada pada lembaga-lembaga yang membentuk lembaga baru tersebut. Keempat, keberhasilan perencanaan inovatif dinilai secara menyeluruh karena merupakan usaha bersama melalui kegiatan lembaga baru. Kelima, lembaga baru lebih bersifat pembaharu (reformist). Lembaga ini dibentuk untuk memperbaharui sistem pelayanan yang telah ada dalam memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan tidak dapat dilakukan secara sektoral. Ciri terakhir ini berkaitan dengan kecenderungan bahwa semakin maju suatu masyarakat, maka makin berkembang pula spesialisasinya. Namun, betapapun tajamnya suatu spesialisasi, masing-masing tidak dapat memecahkan masalah umum dengan tuntas. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama lintas sektoral dan antardisiplin. Pada gilirannya, perencanaan inovatif dapat memperkuat hubungan antarlembaga dan dapat menumbuhkan sistem pelayanan secara terpadu. Singkatnya, perencanaan inovatif dilakukan untuk memecahkan masalah bersama secara menyeluruh dan untuk meningkatkan mutu pelayanan secara terpadu kepada masyarakat.
Sebagai misal, masalah ketidakpuasan masyarakat akan pendidikan anak usia dini umum yang kurang memenuhi tujuan, yakni membantu perkembangan anak sejak usia dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak dalam aspek-aspek fisik,keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosial. Lebih ditekankan bahwa pendidikan pada usia dini merupakan hak setiap anak. Dalam menanggulangi hal tersebut bermunculan model-model sekolah unggulan yang didasarkan pada konsep, terutama dalam menjabarkan apa yang dimaksud dengan bermain sambil belajar. Tipe sekolah unggulan tersebut dalam artikel Muahmad Ikhsan sebagai berikut :

Tipe 1 ; Dimana sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Tipe 2 ; Sekolah dengan menawarkan fasilitas dan pola belajar dengan pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya. Sehingga out put yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikan. Hal ini menuntut fasilitas yang mahal. Tipe 3 ; Sekolah unggul menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut (input ) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi. Sekolah Unggulan adalah Terjemahan bebas dari “Effective School” An Effective School is a school that can, in measured student achievement terms, demonstrate the joint presence of quality and equity. Said another way, an Effective School is a school that can, in measured student achievement terms and reflective of its “learning for all” mission, demonstrate high overall levels of achievement and no gaps in the distribution of that achievement across major subsets of the student population. (EFFECTIVE SCHOOLS RESEARCH AND THE ROLE OF PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES) Jadi dengan kata lain sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya tersebut. Karena sekolah bisa dikatakan unggul dalam pencapaiannya. Ada beberapa faktor yang harus dicapai bila sekolah tersebut bisa dikategorikan sekolah unggul:
(1) Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Profesional ; Kepala Sekolah seharusnya memiliki kemampuan pemahaman pendidikan yang menonjol. Penelitian Standfield, dkk (1987) selama 20 bulan di Sekolah Dasar Garvin Missouri dan Gibbon (1986) di sekolah-sekolah negeri di Ohio selama tahun ajaran 1982/1983, keduanya menemukan bahwa peran kepala sekolah yang efektif dan profesional mampu mengangkat nama sekolah mereka sehingga mampu memperbaiki prestasi akademik mereka. (2) Guru-guru yang tangguh dan professional ; Guru merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung dengan siswa. Guru yang profesional mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua dan kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas. (3) Memiliki tujuan pencapaian filosofis yang jelas ; Tujuan filosofis diwujudkan dalam bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi dapat di cerna dan dilaksanakan secara bersama oleh setiap elemen sekolah. (4) Lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran ; Lingkungan yang kondusif bukanlah hanya ruang kelas dengan berbagai fasilitas mewah, lingkungan tersebut bisa berada di tengah sawah, di bawah pohon atau di dalam gerbong kereta api, Yang jelas lingkungan yang kondusif adalah yang lingkungan yang dapat memberikan dimensi pemahaman secara menyeluruh bagi siswa. (5) Jaringan organisasi yang baik ; Jelas, organisasi yang baik dan solid baik itu organisasi guru, orang tua akan menambah wawasan dan kemampuan tiap anggotanya untuk belajar dan terus berkembang. Serta perlu pula dialog antar organisasi tersebut, misalnya forum Orang Tua Murid dengan forum guru dalam menjelaskan harapan dari guru dan kenyataan yang dialami guru di kelas. (6) Kurikulum yang jelas ; Permasalahan di Indonesia adalah kurikulum yang sentralistik dimana Diknas membuat kurikulum dan dilaksanakan secara nasional. Maka sekolah unggul juga membuat dan mengembangkan kurikulum disesuaikan dengan dan pencapaian sesuai corak visi dan misinya, Misalnya sekolah unggulan menyusun kurikulum dan target pencapaian pembelajaran sendiri. Sesuai corak dan pencapaian sesuai dengan potensinya. Seperti misalnya sekolah di Kalimantan memiliki corak dan target pencapaian mampu mengolah hasil hutan dan tambang juga potensi seni dan budaya mampu dihasilkan sekolah-sekolah di Bali. (7) Evaluasi belajar yang baik berdasarkan acuan patokan untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dari kurikulum sudah tercapai Bila kurikulum sudah tertata rapi dan jelas, akan dapat teridentivikasi dan dapat terukur targer pencapaian pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan mampu mempetakan kemampuan siswa. (8) Partisipasi orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah ; Di sekolah unggulan dimanapun, selalu melibatkan orang tua dalam kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal sekali adalah memberikan pengawasan secara sukarela kepada siswa pada saat istirahat. Pada proses yang intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan kurikulum sekolah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah dalam mendidik anak sesuai pada tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah Pada akhirnya sekolah unggulan adalah program bersama seluruh masyarakat, yang tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah dan orang tua secara perorangan. Namun menjadi tanggung jawab bersama dalam peningkatan SDM Indonesia.

Beberapa model-model sekolah unggulan diantaranya sebagai berikut :
a. Model sekolah Atraktif, yakni menekankan pada bobot pengembangan kemampuan dasar dengan aspek-aspek yang dikembangkan. Aspek-aspek tersebut adalah kemampuan daya cipta, intelegensi, kreativitas,sosial dan religius.
b. Model sekolah Kreatif, yakni bobot pengembangan kemampuan dasar dengan aspek-aspek yang dikembangkan, seperti : kemampuan daya cipta, intelegensi, dan kreativitas.
c. Model sekolah Sistem Centra (sentra,area), yaitu model pendidikan anak usia dini yang mengacu pada kemampuan bakat dan pusat minat anak.
d. Model sekolah Global, yaitu mirip dengan pendidikan anak usia dini Atraktif. Namun dalam hal ini juga mengembangkan budaya internasional, kurikulum internasional, dan lain-lain yang bersifat pergaulan internasional.
e. Model sekolah Alam, lebih berfokus pada back to nature , yakni bermain sambil belajar dalam memanfaatkan bahan-bahan alam. Oleh karena itu, anak tidak diarahkan untuk banyak belajar di dalam kelas.

2. Berorientasi pada kegiatan
Tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan inovatif pada lembaga baru serta pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan itu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Perencanaan inovatif merupakan jawaban inovatif terhadap permasalahan yang muncul dalam situasi khusus. Misalnya, kegiatan belajar mengajar di kelas pada anak-anak usia dini menimbulkan dampak yaitu anak terkungkung oleh tembok-tembok sehingga pengalaman anak menjadi terbatas pada benda-benda yang berada di sekitar sekolah, seperti bangku,papan tulis,balok-balok kayu,dan segala sesuatu yang sering dijumpai tiap hari di dalam kelas. Hal ini memerlukan upaya inovasi pengelolaan pengajaran dan pengelolaan kelas melalui kegiatan yang mampu memberikan pengalaman-pengalaman nyata dengan mengunjungi tempat-tempat di luar kelas. Di bawah bimbingan guru, peserta diajak ke suatu tempat untuk mempelajari dengan melihat, mendengar, mencoba, dan membuktikan langsung terhadap objeknya. Dengan demikian, anak usia dini dapat mempelajari bermacam-macam tema secara integral serta tidak terbatas hanya pada satu tema.
Pelaksanaan program pemecahan masalah secara bersama mungkin akan menimbulkan dampak yang tidak diperkirakan oleh lembaga baru pada saat perencanaan sedang dilakukan. Jika dampak itu muncul pada waktu pelaksanaan program, maka perencanaan inovatif memberi kesempatan kepada para perencana, setelah mendapatkan masukan dari lapangan, untuk menentukan tujuan-tujuan antara (intermediate-goals) dalam upaya mencapai tujuan akhir yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan itu tidak perlu dirinci tetapi hanya dirumuskan dalam sasaran-sasaran yang akan dicapai dan terarah kepada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam perencanaan inovatif, upaya mencari dan memilih alternatif kegiatan yang efektif untuk mencapai tujuan perlu dilakukan melalui pertimbangan rasional. Adapun upaya secara berkelanjutan untuk melakukan kegiatan yang efektif itu disebut strategi kegiatan.
Ada dua strategi kegiatan dalam perencanaan inovatif yang berhasil, strategi pertama, sebagai kegiatan dasar adalah pengembangan upaya lembaga baru untuk membina hubungan yang erat dan berkelanjutan dengan lembaga-lembaga terkait yang membentuk lembaga baru tersebut. Upaya ini meliputi pendekatan dengan lembaga-lembaga terkait untuk (1) Memperoleh dukungan biaya dari lembaga-lembaga terkait, (2) Menata sistem pengelolaan lembaga baru yang didukung oleh lembaga-lembaga terkait, (3) Menetapkan mekanisme hubungan dengan lembaga-lembaga yang lain,dan (4) Memperkuat dukungan politik baik di tingkat pusat maupun daerah. Strategi kedua, adalah mekanisme kegiatan yang terfokus pada pencapaian tujuan lembaga baru itu sendiri. Mekanisme kegiatan itu diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : (1) Apakah kriteria dan cara pengadaan tenaga yang diperlukan oleh lembaga baru, (2) Dimana dan kapan program-program yang disusun lembaga baru akan dilaksanakan, (3) Pendekatan apa yang cocok untuk dilakukan terhadap masyarakat, dan (4) Apakah dukungan dari pemerintah pusat dan atau daerah dapat diperoleh.

3. Pengerahan Sumber-Sumber
Dalam perencanaan inovatif, para perencana biasanya bertindak sebagai wirausahawan yang aktif melalui kegiatan mencari, mengerahkan,mengorganisasi,dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia, baik di dalam maupun di luar lembaga-lembaga terkait, termasuk sumber-sumber dari masyarakat.
Perluasan peranan perencana sebagai wirausahawan itu disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, kehadiran lembaga baru terutama taraf awal, belum diyakini benar kehandalannya oleh semua pihak dan belum memperoleh dukungan optimal dari lembaga-lembaga tersebut. Oleh karena itu, para perencana biasanya disibukkan dengan berbagai kegiatan pendekatan untuk menarik perhatian dan memotivasi lembaga-lembaga dan masyarakat dalam rangka mengerahkan sumber-sumber yang diperlukan untuk diorganisasikan dalam program-program yang disusun oleh lembaga baru. Kedua, para perencana mengadakan komunikasi dan negosiasi secara aktif dengan lembaga-lembaga terkait agar tercapai kesepakatan tentang manfaat dan fungsi lembaga baru bagi kepentingan misi dan fungsi lembaga masing-masing. Ketiga, keberhasilan lembaga baru dapat terwujud apabila lembaga-lembaga terkait memberi dukungan kuat secara berkelanjutan, menyetujui dan mengikuti prosedur yang ditetapkan lembaga baru, menerima laporan terutama tentang penggunaan sumber-sumber dan merasakan manfaat langsung dari kehadiran lembaga baru itu untuk membantu fungsi lembaga masing-masing.
Perencanaan inovatif mempunyai fungsi pembaharuan terhadap fungsi lembaga-lembaga pendukungnya dan dapat mempengaruhi sistem yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendukung tersebut. Selanjutnya, jika perkembangan lembaga baru telah sampai pada konsolidasi, maka program-programnya akan menjadi rutin. Jika program-program lembaga baru dan kegiatannya menjadi rutin, maka kemungkinan pemunculan suatu lembaga baru dapat terjadi kembali Pembentukan lembaga-lembaga baru menjadi rangkaian fenomena yang terjadi dalam perencanaan inovatif. Kehadiran lembaga baru itu dianggap sebagai pembaharuan bagi lembaga yang dibentuk sebelumnya sesuai dengan perkembangan permasalahan dan alternatif pemecahannya, serta sejalan dengan peningkatan kebutuhan yang dihadapi oleh berbagai lembaga terkait.
Secara umum tipe perencanaan inovatif adalah ; pertama, perencanaan inovatif cenderung tidak mengikatkan diri pada aturan baku. Perencanaan inovatif mendayagunakan dengan cermat sumber-sumber yang dimiliki lembaga-lembaga terkait, mencari secara aktif sumber-sumber lain, memperluas jangkauan pengaruh dan kekuatannya, serta meningkatkan upaya untuk memperoleh dukungan politik. Kedua, perencanaan inovatif berorientasi pada kegiatan yang dikelola oleh lembaga baru yang fungsinya berkaitan erat dengan pelaksanaan program lembaga-lembaga pendukungnya. Ketiga, dalam perencanaan inovatif terdapat hubungan erat antara perencanaan, keputusan politik, dan pelaksanaan program. Dalam hal ini, para perencana menganalisis dan mengusulkan program, para pembuat keputusan politik menentukan tujuan dan kebijaksanaan, serta menetapkan program untuk pemecahan masalah yang menyangkut kepentingan umum, sedangkan para pelaksana dari lembaga baru mengimplementasikan program itu di lapangan.

Sumber :

Sudjana, Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Bandung : Falah Production ; 2004).
http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/09/12/sekolah-unggulan
Heri Hidayat, Aktivitas Mengajar Anak TK, (Bandung :Penerbit Katarsis, 2003)

MANAJEMEN PENGAJARAN EFEKTIF Mengusahakan dengan Kesungguhan agar Peserta Didik Memiliki Prestasi Tinggi.

Januari 10, 2011 Tinggalkan komentar

Pengelolaan atau manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk melakukan suatu kegiatan, baik bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi. Hersey dan Blanchard memberi arti pengelolaan sebagai berikut : Management as working with and trough individuals and groups to accomplish organizatinal goals (pengelolaan merupakan kegiatan yang dilakukan bersama dan melalui seseorang serta kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi). Stoner mengemukakan bahwa : ”Management is the proses of planing, organizing, leading and controling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals.
Syafaruddin dan Irwan Nasutiaon memberi arti, manajemen pembelajaran adalah proses menolong murid untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan pemahaman terhadap dunia di sekitar mereka.
Implementasi ketiga pengertian tersebut adalah bahwa manajemen pengajaran efektif merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan dan mengembangkan segala upaya dalam proses menolong murid mencapai pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan pemahaman terhadap dunia di sekitarnya secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan mengembangkan aktivitas pengajaran secara efektif sebagaimana dikemukakan diatas terdapat pembaharuan atau perubahan secara inovatif.
Pertama, manajemen pembelajaran adalah proses pendayagunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumber daya pengajaran) untuk mencapai visi dan misi pengajaran, Kedua, manfaat manajemen pengajaran adalah sebagai aktivitas profesional dalam menggunakan dan memelihara kurikulum (satuan program pengajaran) yang dilaksanakan, Ketiga, secara organisasional pembelajaran atau kegiatan aktivitas pengajaran guru dituntut memiliki kesiapan mengajar dan murid disiapkan untuk belajar, Keempat, dalam menjalankan fungsi manajemen pembelajaran guru harus memanfaatkan sumber daya pengajaran (learning resources) yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas.
Berbagai sumber daya pengajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran antara lain : Pertama, kunjungan / fiel trif yang memiliki kualifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada pelajar. Kedua, peralatan pengajaran yang berkaitan dengan materi pelajaran. Ketiga, buku-buku pelajaran. Keempat, berbagai tulisan/paper, diagram, outline yang dapat melayani tujuan pengajaran selama proses aktivitas pengajaran. Kelima, penggunaan gambar-gambar. Keenam, CD yang berisikan rekaman gambar dari film dan dapat diakses dengan menggunakan komputer. Ketujuh, pengaturan ruang kelas untuk melayani berbagai aktivitas pengajaran. Keenam, Film, Vidiotapes,dll.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan berkaitan dengan manajemen dalam suatu model pembelajaran , yaitu :
1. Manajemen efektif adalah hasil dari sejumlah faktor, tidak ada cetak biru/pedoman yang sederhana bagi manajemen kelas yang efektif. Guru harus menentukan kebutuhan murid-murid dengan mengembangkan suatu sistem manajemen untuk keseharian kepada kebutuhan kepribadian anak yang diharapkan berinteraksi terhadap prestasi tertentu.
2. Manajemen efektif mendorong keberhasilan murid. Fungsi manajemen yang baik adalah sebagai alat penghubung kekuatan yang dimiliki murid ke dalam suatu pengalaman pembelajaran produktif jika murid belajar secara efisien, maka guru akan lebih berusaha mencapai prestasi dalam pengelolaan kelas yang lemah.
3. Keberhasilan meningkatkan penghargaan kepada murid jika murid-murid berprestasi, ada hasil perasaan puas, maka harga diri dan dorongan untuk berprestasi semakin tinggi.
4. Manajemen efektif bebas dan tidak terbatas. Banyak guru mempercayai bahwa jika manajemen terlalu terstruktur, hal itu mengurangi kreativitas murid. Bagaimanapun manajemen efektif memberikan kepada murid dengan pedoman yang jelas dan bekerja. Keadaan ini menyebabkan pola kerja yang konsisten dan bebas dari kebingungan dan disiplin yang kurang terstruktur untuk menghasilkan penuh kreativitas mereka.
5. Efektifitas manajemen bersifat konsisten. Para guru harus bekerja dalam cara yang sama untuk pengungkapan yang sama dari perilaku salah. Guru tidak seharusnya menghukum dengan marah atau putus asa. Tentu saja, guru pun seharusnya jangan takut untuk amarah sepanjang marah itu tidak mengurangi motivasi dan hukuman yang diberikan.
6. Manajemen efektif melibatkan perhatian dan pengembangan inovasi. Hal itu seharusnya muncul untuk murid bahwa manajemen dilaksanakan oleh guru untuk memelihara pembelajaran murid dan mengembangkan inovasi aktivitas pengajaran.
7. Problem manajemen mungkin saja tidak menghargai kualitas sistem pengajaran.
8. Manajemen efektif mencakup pengaruh ulang terhadap perilaku diinginkan dan penguatan dari perilaku yang diinginkan.
9. Guru-guru adalah model dari perilaku yang diterima. Pembelajaran yang terobsesi seharusnya dijadikan model oleh para guru.
10. Manajemen efektif menuntut teamworks, kepala sekolah, guru-guru, orang tua, masyarakat, dan profesional pendidikan lainnya. Bekerja secara konsisten menuju tujuan yang sama.
Muara dari berfungsinya manajemen pembelajaran yang baik adalah pembelajaran efektif. Artinya, dari posisi guru tercipta mengajar efektif, dari posisi murid tercipta belajar efektif. Menurut Joyce and Weil , ”Guru yang berhasil adalah mengajar murid bagaimana memiliki informasi dalam pembicaraan dan membuatnya menjadi milik mereka. Sedangkan pelajar efektif adalah membentuk informasi, gagasan dan kebijaksanaan dari guru mereka dan menggunakan sumber daya belajar secara efektif”.
Peran utama dalam pengajaran adalah menciptakan model aktivitas pengajaran kuat dan tangguh. Intinya adalah aktivitas pengajaran sebagai penataan lingkungan, pengaturan ruang kelas, yang didalamnya para pelajar dapat berinterkasi dan belajar mengetahui bagaimana caranya belajar.
Berkaitan dengan efektivitas pengajaran, untuk mencapai pembelajaran aktif, satu aspek penting adalah masalah metode yang digunakan guru dalam menciptakan suasana aktif. Proses pembelajaran dengan metode ceramah, guru mendominasi pembicaraan sementara siswa terpaksa atau bahkan dipaksa untuk duduk, mendengar dan mencatat hal ini sangat tidak dianjurkan. Metode ceramah harus dikurangi bahkan ditinggalkan.
Paradigma baru dalam pembelajaran siswa aktif mengharuskan guru untuk mengubah cara pandang terhadap pembelajaran. Dalam persiapan mengajar, guru lebih memikirkan/memfokuskan penciptaan pengalaman baru bagi siswa. Melalui pengalaman tersebut, siswa dapat mengembangkan pengetahuannya. Guru mengolah kurikulum yang tepat sehingga dengan pemahaman konsep yang benar yang dibentuk siswa, memungkinkan dapat menghubungkannya dengan pemahaman sebelumnya serta membuka peluang untuk mencari dan menemukan pemahaman terhadap konsep baru.
Pendayagunaan teknologi pendidikan telah memasyarakat, maka pertumbuhan industri pendukung pendidikan juga semakin berkembang. Bukan hanya terpusat pada teknologi informasi, melainkan terbuka peluang bagi industri lokal untuk memproduksi alat-alat peraga dan simulasi. Semakin tinggi dan banyak teknologi didayagunakan dalam dunia pendidikan, maka semakin terbuka lebar peluang kerja kreatif masyarakat terdidik.
Untuk keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran, menurut Urlich dkk ada tiga perlakuan yang harus dilakukan guru yaitu : Pertama, They are well organized in their planing, Kedua, they communikate effectively with their students, and, Ketiga, they have high expectations of their student. Guru yang ingin berhasil dituntut membuat perencanaan yang baik, terampil melakukan komunikasi efektif (pesan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik dengan benar), dan mengusahakan dengan kesungguhan dan pengharapan tinggi agar peserta didik memiliki prestasi tinggi.

Sumber :
Sudjana, Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Bandung : Falah Production ; 2004).
Syafaruddin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta : Penerbit Quantum Teaching,2005)
Joyce,Bruce dan Marrsha Weil, Models of Teaching, (London ; Allyn Bacon,1996)
Urlich, Donald, C.dkk, Teaching Strategies, (Massachusset : Heath an Company, 1980)

MANAJEMEN PENDIDIKAN MERUPAKAN JANTUNGNYA SEKOLAH

Januari 9, 2011 3 komentar

PENDAHULUAN

Kemajuan pesat (breakthrough) di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi telah menyebabkan terjadinya perubahan struktur sifat hubungan serta tata kerja orang-orang di tempat pekerjaannya. Kebutuhan akan manajemen profesional semakin mendesak. Tuntutan tersebut dirasakan pengelola pendidikan di Indonesia. pertumbuhan manajemen profesional telah menyebabkan pemindahan pengurusan Yayasan Pendidikan, yang semula ditangani oleh keluarga berpindah ke tangan orang-orang profesional atau lulusan dari kependidikan. Gerakan dalam bidang manajemen tersebut, pada dasarnya berisi kecenderungan pemikiran tentang hal-hal berikut : (a) Gerakan manajemen ilmiah merintis pentingnya kepuasan kerja. Kepuasan kerja yang dialami kepala sekolah,guru dan karyawan akan memungkinkan dicapainya produktivitas organisasi yang tinggi. Pendekatan yang perlu dilakukan oleh pimpinan Yayasan adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada para kepala sekolah guru dan pegawai untuk mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya dan mendapatkan kepuasan di sekolah. (b) Lahirnya pengakuan bahwa manajer itu perlu dibentuk, bukan dilahirkan, sukses yang diraih manajemen diyakini sebagai hasil dari tata kerja yang dipelajari, bukan kecakapan yang dilahirkan. Manajer yang sukses merupakan hasil belajar. Oleh karena itu, pembentukan manajer profesional harus dirancang melalui program-program pelatihan. (c) Munculnya pengakuan bahwa kepala sekolah,guru dan karyawan sekolah itu bukan semata dipandang sebagai orang-orang yang rasional, akan tetapi mereka juga adalah mahluk sosial. Kepala sekolah,guru dan karyawan adalah manusia yang menginginkan pengakuan dan kesempatan untuk menikmati kepuasan yang diperoleh dari afiliasi sosial dengan orang-orang lain di lingkungan sekolah.. (d) Perlunya peningkatan kemampuan kepala sekolah,guru dan karyawan dituntut untuk menguasai kecakapan mengambil keputusan, baik keputusan sehari-hari maupun keputusan strategis. Kemampuan mendefinisikan masalah, memilih asumsi yang tepat, merumuskan alternatif tindakan, menetapkan kriteria untuk memilih alternatif yang ”terbaik”, melaksanakan alternatif tindakan, serta memonitor implementasinya, merupakan kecakapan yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan profesional. (e) Lahirnya keyakinan bahwa organisasi hadir untuk melayani dan memberi kepuasan kepada fihak yang harus dilayani (cients). Kepala sekolah,guru dan karyawan hendaknya memiliki kesadaran yang kuat bahwa mereka bekerja disekolah karena ada yang dilayani dan untuk memberi pelayanan. Dalam iklim kerja seperti ini, aktualisasi diri lahir dari kepuasan yang dirasakan dalam melakukan sesuatu yang terbaik bagi client. Hal demikian itu akan melahirkan komitmen yang kuat terhadap sekolah. (f) Globalisasi kehidupan dunia menempatkan organisasi apapun sebagai bagian dari lingkungan yang lebih luas, yang harus berinteraksi dan melaksanakan fungsinya secara tepat. Dalam konteks globalisasi, organisasi apapun harus meningkatkan mutu pelayanan dan mutu produk. (g) Lahirnya organisasi belajar (learning organization). (h) Esensi dari tantangan perkembangan pikiran dan praktik manajemen itu adalah untuk pembentukan budaya jaminan mutu (quality assurance). Orientasi budaya ini menuntut anggota organisasi agar memiliki kesiapan untuk terus belajar memahami konsep-konsep yang dijadikan dasar tindakannya. Akontabilitas para penyelenggara sekolah terletak pada keandalannya dalam membuat putusan-putusan yang tepat dan menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi kepala sekolah,guru dan pegawai yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas sekolah. Sebagai konsekuensinya, para pimpinan perlu menciptakan organisasinya sebagai organisasi belajar (learning organization) di mana para personilnya menjadi pegawai pelajar (learning workers). Dalam situasi ini, pimpinan dan stafnya dibentuk untuk memiliki kepekaan mengenal dan memahami masalah-masalah pekerjaan yang dihadapi sehari-hari dan berusaha untuk memecahkan masalah-masalah itu. Pimpinan menampilkan sikap keterbukaan dan menjadi pendengar yang baik terhadap semua pihak yang menyampaikan pikirannya dalam upaya memahami masalah dan memecahkan masalah-masalah yang ada di organisasinya. Itulah yang disebut budaya learning organization. Apakah Yayasan pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal dan Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia telah cukup tangguh dan memilik kesiapan untuk menjadi ”pemimpin pelajar” dan ”karyawan pelajar” ?

APA ITU MANAJEMEN PENDIDIKAN ?

Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.
Segala sesuatu yang dilakukan memerlukan penanganan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.
Mengingat hal diatas maka manajemen pendidikan bisa dikatan merupakan “jantungnya sekolah,” karena tidak mungkin sekolah merencanakan pembelajaran tanpa memperhitungkan bagaimana cara pengelolaannya, jadi tugas sekolah sebelum memulai perkuliahan semester, mesti melakukan rapat sekolah ; membuat kalender pendidikan versi sekolah, membuat jadwal, menentukan guru, memeriksa media pendidikan, mengatur lingkungan pendidikan, dsb.
Berdasarkan pengertian manajemen diatas sebenarnya semua sekolah unggulan itu terlahir dari para pengelola yang baik, ibaratnya anda membeli kacang di pinggiran pasar dengan membeli kacang di supermarket, yang membedakan kenapa membeli kacang di supermarket lebih mahal daripada membeli kacang di pasar, kalau kacang di pasar dibungkus dengan kertas Koran sementara membeli kacang disupermarket dibungkus dengan bungkus kemasan yang bagus. Kalau dibandingkan semua isi kurikulum di sekolah di wilayah Indonesia itu pasti, pasti ada pengembangan bahasa, kognitif dan lain-lain akan tetapi karena membungkus pengembangan kurikulum dengan pengelolaan yang baik sehingga masyarakat menilai sekolah tersebut sekolah yang unggul; sekolah mengelola penampilan itu dengan baik, menggunakan alat-alat pembelajaran yang mahal-mahal, penampilan para pengajar dengan menggunakan seragam khusus dan berdasi. Nah, manajemen pendidikan salah satunya mempelajari pengelolaan hal-hal seperti itu. Jadi, sekolah itu bagus atau tidak bagus tergantung kepada pengelolanya.
Karena semua yang ada disekolah harus dikelola, maka dalam hal pengelolalannya harus mengacu kepada prinsip-prinsip managemen, nah, menurut JF.Tahelele dan Soekarto (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI : 38) prinsip managemen itu dikenal dengan istilah fungsi-fungsi managemen yang terdiri dari : (1) Planing; (2) Execution; (3) Evaluation.
Sedang menurut Henry Fayol seorang ilmuwan dalam manajemen menyusun buku : “General and Industrial Management” (1916). Ia mengkalsifikasikan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut : (1) Planning (Perencanaan); (2) Organizing (Pengorganisasian); (3) Commanding (Pemberian perintah); (4) Coordinating (Pengkoordinasian); (5) Controling (Pengawasan). (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI : 38)
James M. Liphan dan James A. Hoeh, (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI ; 45) merumuskan menjadi lima macam pengelolaan sekolah, yaitu :
a. Instructional program (pengelolaan program pembelajaran)
b. Student personal (Pengelolaan anak didik)
c. Staff personal (Pengelolaan staf sekolah)
d. Financial and physical resources (Pengelolaan keuangan, fisik dan perlengkapan)
e. School – Community relationship (pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat)
Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan, maka kami akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan.

Ketika menyusun sebuah perencanaan program pembelajaran (instructional program) hendaknya mengarahkan perencanaan program pembelajarannya itu untuk memenuhi tuntutan filosofi visi dan misi yang dianut dan ditawarkan kepada masyarakat. Namun demikian ada lima (5) hal penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :
a. Ketepatan penyusunan program pengajaran dengan visi dan misi yang hendak dicapai.
b. Ketepatan penyusunan perencanaan pembelajaran berdasarkan kalender Pendidikan Sekolah.
c. Ketelitian penyusunan kurikulum atau sejumlah materi pelajaran yang harus ditempuh anak didik dari awal belajar sampai tujuan akhir pembelajaran.
d. Merencanakan program kegiatan semester, perencanaan program kegiatan mingguan dan perencanaan program kegiatan harian.
e. Melakukan evaluasi dan asessmen dalam merealisasikan tujuan.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.

2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)
Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.
Struktur Organisasi sekolah bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)
Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.

Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan.
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.

3. Fungsi Pengarahan (directing).
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
Dalam manajemen pendidikan, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun personal.
Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan personal, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga personal, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan personal. Di sisi lain pengawasan dalam konsep pendidikan lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai edukasi.

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan adalah keseluruhan proses yang mempergunakan dan mengikutsertakan semua sumber potensi yang tersedia dan yang sesuai baik personal maupun material dalam usaha untuk mencapai bersama suatu tujuan secara efektif dan efisien.
Di bidang pendidikan, Mengingat arti pentingnya manajemen maka manajemen pendidikan bisa dikatan merupakan “jantungnya sekolah,” karena tidak mungkin sekolah merencanakan pembelajaran tanpa memperhitungkan bagaimana cara merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan.
Karena itu setidaknya dirumuskan ada lima macam pengelolaan sekolah yaitu ; (1) Instructional program (pengelolaan program pembelajaran); (2) Student personal (Pengelolaan anak didik); (3) Staff personal (Pengelolaan staf sekolah) ; (4) Financial and physical resources (Pengelolaan keuangan, fisik dan perlengkapan) ; (5) School – Community relationship (pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat).
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan Undang,Drs. Administrasi Sekolah dan Guru Sekolah Dasar, CV.Siger Tengah, Cetakan Pertama, Bandung, 1997.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan FIP-UPI Bandung, Pengelolaan Pendidikan, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2002.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008
Sondang P Siagian, Filsafah Administrasi, CV Masaagung, Jakarta, 1990
Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997
Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Rineka Cipta, 2004.
George R Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2006
Robbin dan Coulter, Manajemen (edisi kedelapan), PT Indeks, Jakarta, 2007
UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003

INDONESIA MENUJU PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL

Januari 9, 2011 1 komentar

A. Pendahuluan
Jaman yang begitu maju pada saat ini membuat Pendidikan menjadi sangatlah penting, SDM yang kokoh didasari oleh pendidikan yang sangat bagus dan metode yang banyak menghasilkan manusia yang berkualitas dan siap bersaing di pasar dunia. Untuk itu dalam UU Sisdiknas 2003 pemerintah memperkenalkan beberapa format baru lembaga pendidikan formal, yaitu (1) Sekolah Berstandar Internasional; (2) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI); (3) Sekolah Katagori Mandiri (SKM); dan (4) Sekolah Berstandar Nasional (SBN); satu hal yang patut dicermati bersama Pendidikan yang sekarang lagi in di masyarakat yaitu pendidikan yang berbasis Internasional dimana generasi yang akan datang dipersiapkan untuk mampu bersaing dengan dunia luar atau Internasional, oleh karena itu tantangan pada masa mendatang ialah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor, sektor yang riil dan keunggulan yang baik.

Pendidikan berbasis Internasional akan menghasilkan sebuah hasil yang menguntungkan untuk diri pribadinya dan juga untuk Negara dan kalau gagal menciptakan pendidikan berbasis Internasional maka berarti daya saing SDM kita kurang baik dan tidak dapat bersaing dengan dunia luar di bidang apa pun juga orang Indonesia akan mencari sekolah keluar negeri dan mahal harganya.

Namun demikian, maraknya penyelenggaraan sekolah bertaraf Internasional (SBI) dinilai masih menyisakan konsep yang belum jelas, ketidakjelasan konsep dikhawatirkan memunculkan kesenjangan baru dalam pendidikan kita : “Internasional yang dimaksud seperti apa ? Apakah sekedar. menggunakan bahasa Inggris dalam penyampaian mata pelajaran dan perangkat komputer, lantas dinamakan pendidikan yang dipakai sudah berstandar Internasional ? Di Inggris kan juga menggunakan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak menyebutkan telah bertaraf internasional.”

Awal mula konsep SBI menurut Said , lebih dilatarbelakangi kenyataan sebagian masyarakat Indonesia yang mampu dari segi financial, mereka kerap menyekolahkan anaknya ke luar negeri, nantinya banyak uang yang terserap ke luar negeri, dan itu satu bentuk kerugian bagi Negara kita. Agar tidak terjadi hal itu, perlu dicegah dengan mengeluarkan kebijakan pendidikan SBI. Di sisi lain, Said Hamid Hasan menegaskan penggunaan istilah seharusnya mempunyai konsep yang jelas. Jangan semata-mata menggunakan Bahasa Inggris terus dibilang internasional, Dipesantren Gontor juga menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar, akan tetapi, mereka tidak pernah menyebutkan telah berstandar internasional.

B. Konsep Sekolah Berstandar Internasional (SBI)
Dijelaskan dalam “Pedoman Mutu Sekolah/Madrasah bertaraf Internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tahun 2007”, bahwa Sekolah/Madrasah bertaraf Internasional merupakan Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum internasional”.
Dengan konsep ini, SBI adalah sekolah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar nasional pendidikan yang meliputi : standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Selanjutnya aspek-aspek SNP tersebut diperkaya, diperkuat, dikembangkan, diperdalam, diperluas melalui adaptasi standar pendidikan dari salah satu anggota OECD yaitu ; Australia, Austria, Belgium, Canada, Czech Republik, Denmark, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Ireland, Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New Zealand, Norway, Poland, Portugal, Slovak Republik, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, United Kingdom, United States dan atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan seperti Chile, Estonia, Israel, Russia, Slovania, Singapore,dan Honggkong serta diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.ataupun dapat juga bermitra dengan pusat-pusat pelatihan, industry, lembaga-lembaga tes/sertifikasi minimal internasional seperti misalnya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC,ISO,pusat-pusat studi dan organisasi-organisasi multilateral seperti UNISCO,UNICEF,SEAMEO dan sebagainya yang dengan demikian diharapkan SBI harus mampu memberikan jaminan bahwa baik dalam penyelenggaraaan maupun hasil-hasil pendidikannya lebih tinggi standarnya daripada SNP. Penjaminan ini dapat ditunjukkan kepada masyarakat nasional maupun internasional melalui berbagai strategi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Esensi lain dari konsepsi tentang SBI adalah adanya daya saing pada forum internasional terhadap komponen-komponen pendidikan seperti output/outcomes pendidikan, proses penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input SBI harus memiliki daya saing yang kuat/tinggi. Beberapa ciri esensial dari SBI ditinjau dari komponen pendidikan yang berdaya saing tinggi yaitu: (1) lulusan SBI dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf internasional, baik di dalam maupun di luar negeri, (2) lulusan SBI dapat bekerja pada lembaga-lembaga internasional dan/atau negara-negara lain, dan (3) meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah raga. Proses penyelenggaraan dan pembelajaran dikatakan memiliki daya saing internasional antara lain cirinya telah menerapkan berbagai model pembelajaran yang berstandar internasional, baik yang bersifat pembelajaran teori, eksperimen maupun praktek;
Proses pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan harus bercirikan internasional, yaitu: (1) pro-perubahan yaitu proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, a joy of discovery; (2) menerapkan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan; student centered; reflective learning; active learning; enjoyble dan joyful learning; cooperative learning; quantum learning; learning revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu telah memiliki standar internasional; (3) menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran; (4) proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris khususnya mata pelajaran sains, matematika, dan teknologi; (5) proses penilaian dengan menggunakan model-model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; dan (6) dalam penyelenggaraannnya harus bercirikan utama kepada standar manajemen internasional yaitu mengimplementasikan dan meraih ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000, dan menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri.
Input SBI yang esensial bercirikan internasional antara lain: (a) telah terakreditasi dari badan akreditasi sekolah di salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (b) standar kelulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional, sistem administrasi akademik berbasis TIK, dan muatan mata pelajaran sama dengan muatan mata pelajaran (yang sama) dari sekolah unggul diantara negara anggota OECD atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (c) jumlah guru minimal 20% berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, kepala sekolah minimal berpendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, serta semua guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis TIK; (d) tiap ruang kelas dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran berbasis TIK, perpustakaan dilengkapi sarana digital/berbasis TIK, dan memiliki ruang dan fasilitas multi media; dan (e) menerapkan berbagai model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target indikator kinerja kunci tambahan.

C. Karakteristik Esensial Sekolah Berstandar Internasional
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sekolah yang telah bertaraf internasional harus memiliki keunggulan yang ditunjukkan oleh pengakuan internasional terhadap masukan, proses dan hasil-hasil pendidikan dalam berbagai aspek. Untuk itu pengakraban peserta didik terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan dalam era global perlu digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan SBI. Nilai-nilai progresif tersebut nantinya diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung pada penguasaan disiplin ilmu keras (hard science) dan disiplin ilmu lunak (soft science). Disiplin ilmu keras meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu teknologi yang meliputi teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, bio, energi, dan bahan. Disiplin ilmu lunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa asing (Inggris, utamanya), dan etika global.
Apabila mengacu pada visi pendidikan nasional, maka karakteristik visi SBI adalah ”terwujudnya insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif secara internasional”. Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Maka dari itu misi SBI adalah mewujudkan manusia Indonesia cerdas dan kompetitif secara internasional, yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global. Misi ini direalisasikan melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan SBI yang disusun secara cermat, tepat, futuristik, dan berbasis demand-driven. Penyelenggaraan SBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkelas nasional dan internasional menunjukkan mindset dan pola perilaku yang berbasis kemandirian, bertanggungjawab, kemampuan bekerjasama (kooperatif), kejujuran, toleransi, dan keberanian mengambil resiko atau mempertimbangkan konsekuensi secara logis (risk taking). Lulusan yang berkelas nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan dijabarkan dalam PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan dalam Permendiknas nomor 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta dalam ”Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah”.

D. Realitas Sekolah Berstandar Internasional
Tak ada gading yang tak retak, meskipun masyarakat dapat melihat bahwa SBI maupun RSBI persebarannya tidak hanya terpusat di wilayah DKI Jakarta saja, tetapi telah menyebar ke propinsi-propinsi lain di Indonesia. Akan tetapi, sejumlah catatan perkembangan membanggakan SBI di atas menunjukkan realitas yang berkembang di sebagian besar lembaga pendidikan yang yang telah menyandang predikat SBI/RSBI di Indonesia ternyata masih jauh dari asa, bahkan cenderung merisaukan. Akselerasi lembaga-lembaga pendidikan dalam mengadopsi kurikulum, silabus, dan sistem penilaian dari luar negeri ternyata kurang diimbangi dengan penguatan dan peningkatan kualitas sumber daya kependidikan di sekolah, dalam konteks ini yaitu kepala sekolah, pendidik, wali murid, dan manajemen. Realitanya, mayoritas sumber daya kependidikan di sekolah masih gagap menciptakan sistem kontrol dan akuntabilitas kegiatan akademis dan administrasi keuangan sekolah. Dengan sendirinya, realita ini berujung pada fenomena bahwa percepatan akselerasi perkembangangan SBI tersebut justru menciptakan sederet problematika, cenderung kontraproduktif, dan tanpa arah. William M Boast dan Benjamin Martin (2007) menyebut fenomena ini sebagai pengeliminasian pesan perubahan dalam pendidikan. Pesan perubahan dalam format SBI yang sebelumnya diimplementasikan dalam bentuk perubahan manajemen lembaga pendidikan untuk menjadi lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif, ternyata realitanya telah tereliminasi. Surya Dharma PhD , Direktur Tenaga Kependidikan Depdiknas, mengakui masih banyaknya titik kekurangan dalam akselerasi perkembangan SBI di Indonesia. Surya Dharma menambahkan bahwa dari 260 kepala sekolah SBI yang menjalani tes kemampuan bahasa Inggris (TOEIC), hanya 10% yang memiliki kemampuan memadai, 90 % sisanya masih di bawah tingkat dasar (elementary); di bawah skor 245. Hasil ujian IELTS pendidik yang diproyeksikan dapat mengajar pada kelas rintisan internasional juga menunjukkan kondisi yang sama. Dari 40 peserta yang mengikuti ujian IELTS, kurang dari 20 % yang mampu memperoleh skor antara 4,0 – 4,5, sedangkan sisanya hanya memperoleh skor antara 2,5 – 3,7. Padahal seorang pendidik yang diizinkan mengajar pada kelas rintisan internasional harus memiliki skor minimal 6,5 pada IELTS atau skor 550 pada TOEFL. Lalu bagaimana dengan kompetensi akademis dan pedagogisnya? Beranikah para pendidik di lembaga pendidikan SBI/RSBI mengikuti ujian standarisasinya tanpa ‘paksaan’ dari Dinas Pendidikan?
Melihat kenyataan ini maka kemudian Depdiknas mengendalika akselerasi perkembangan lembaga pendidikan SBI/RSBI. Depdiknas melakukan refleksi terhadap konsep dan pelaksanaan SBI. Depdiknas menyusun roadmap SBI, revisited curriculum framework, mengkaji ulang model-model standar, dan sistem evaluasi, yang telah diterapkan selama ini. Kemudian, juga melibatkan lembaga pendidikan dalam National School Plus (NSP) maupun lembaga pendidikan lainnya yang berpengalaman dalam mengelola program pendidikan internasional (international credentials), tujuannya agar hasil kajian ulang tersebut lebih optimal. Bersamaan dengan itu Depdiknas juga harus mampu menanggalkan rasa kepemilikannya (possessive) pada pendidikan di Indonesia yang cenderung berlebihan dan membangun iklim kerja sama di antara semua stake holder yang terkait (collaborative works). Usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia juga mencakup program pengembangan guru, kepala sekolah, dan manajemen (capacity building), dengan melibatkan seluruh stakeholder pendidikan, secara sistematis, terarah, dan berkesinambungan. Kesadaran akan urgensi pengembangan sumber daya kependidikan secara optimal seyognya dipahami dengan benar oleh setiap pengelola dan pelaksana kebijakan pendidikan, baik di level pusat maupun daerah. Dengan ini, desentralisasi yang menjadi roh gerakan reformasi juga akan menyentuh ranah pendidikan, di mana pemerintah daerah maupun swasta bisa berperan aktif dalam kegiatan pendidikan secara holistik. Efektifitas dan efisiensi fungsi dan peran kepala sekolah juga harus menjadi fokus perhatian bersama, terutama yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran (instructional management) serta monitoring dan evaluasi (monev). Kepala sekolah harus mampu membangun eksistensi sebagai sumber inspirasi bagi guru, siswa, dan manajemen sekolah lainnya. Kepala sekolah juga dituntut untuk mampu memahami karakteristik sumber daya kependidikan yang ada di sekolahnya dan mampu mengembangkan visi bersama sekolah serta mengimplementasikannya. Setiap perubahan pasti akan melahirkan tantangan dan harapan baru. Sejalan dengan konsep penelitian tindakan kelas (PTK), sepenggal siklus yang telah dilalui hendaknya direfleksikan bersama sebagai pijakan dalam menyongsong siklus berikutnya. Sehingga antara asa dan realita SBI kian dapat dipersempit jaraknya.

E. Kesimpulan
Sekolah Berstandar Internasional adalah Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada Development dan atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendiidkan sehingga memiliki daya saing di forum Internasional.
Esensi dari konsepsi tentang SBI adalah adanya daya saing pada forum internasional terhadap komponen-komponen pendidikan seperti output atau outcomes pendidikan, proses penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input SBI harus memiliki daya saing yang kuat. Masing-masing komponen tersebut harus memiliki keunggulan yang diakui secara internasional, yaitu berkualitas internasional dan telah teruji dalam berbagai aspek sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Bukti bahwa telah diakui dan teruji secara internasional dengan sertifikasi minimal dengan berpredikat baik dari salah satu negara anggota OECD, negara maju lainnya atau lembaga internasional yang relevan.
Untuk itu karakteristik peserta didik Sekolah Berstandar Internasional meski akrab terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan dalam era global guna mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung pada penguasaan disiplin ilmu keras (hard science) dan disiplin ilmu lunak (soft science). Disiplin ilmu keras meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu teknologi yang meliputi teknologi komunikasi. transportasi,manufaktur, konstruksi, bio, energi, dan bahan. Disiplin ilmu lunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa asing (Inggris, utamanya), dan etika global.
Namun demikian, tak ada gading yang tak retak, meskipun format-format lembaga pendidikan tersebut jelas memiliki tujuan mulia yaitu meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembaharuan dan atau perubahan mekanisme pengelolaan lembaga pendidikan. Akan tetapi, sosialisasinya dilakukan secara optimal terutama yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran (instructional management) serta monitoring dan evaluasi (monev). ketika sosialisasi ini tidak dilakukan secara optimal maka masyarakat akan terperosok dalam apatisme akut cenderung untuk kurang memahami format, mekanisme, dan tujuan lembaga-lembaga pendidikan SBI tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://adifia.wordpress.com/2009/11/12/konsep-sekolah-bertaraf-internasional-sbi/
http://mhs.blog.ui.ac.id/diat.nurhidayat71/2008/11/22/konsep-sbi-sekolah-bertaraf- internasional-dipertanyakan.
http://uleegle.wordpress.com/2009/12/02/sbi-artara-asa-dan-realita/
Pikiran rakyat, Wacana rintisan sekolah bertaraf Internasional, Selasa 6 Mei 2008.