Arsip

Archive for the ‘KEWARGANEGARAAN’ Category

ALUNAN SUARA NYAI SUBANG LARANG YANG MELULUHKAN KERAS HATINYA PRABU SILIWANGI

Februari 7, 2011 Tinggalkan komentar

Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya nyai Subang Larang,penguasan Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.

Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. Syeh Hasanuddin, seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka,

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura hingga melalui pelabuhan Muara Jati. Di Muara Jati Syeh Hasanuddin berkunjung kembali ke Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Cerbon yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho.

Kedatangan ulama besar yag ahli Qiro’at tersebut, disamping karena perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang dipengaruhi oleh Islam seperti sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam, Timur Tengah Islam dan Cina Islam. memungkinkan tumbuhnya rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon terhadap Islam. Karenanya kedatangan Syekh Hasanuddin disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang memperoleh kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat.

Ketika kunjungan yang cukup lama itu berlangsung, Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang serta masyarakat Syahbandar Muara Jati merasa tertarik dengan Suara lantunan ayat Qur’an serta ajarannya yang dibawa Syekh Hasanuddin, hingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Hasanuddin di Muara Jati Cirebon, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran, rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu,penyebaran agama Islam dperintahkan agar dihentikan. Perintah dari Raja Negeri Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syekh Hasanuddin. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa. Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud kesungguhannya terhadap agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar mengaji dan Agama Islam di Campa.

Beberapa waktu lamanya berada di Campa, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah negeri Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya adalah Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1416 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, dan Sunda Kelapa lalu memasuki Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Negeri Pajajaran, akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya ( sekarang Mesjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin yang kemudian masyarakat Pelabuhan Karawang memanggilnya dengan Syekh Quro, rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik dan halus budinya.

Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid yang berada di Mekkah. permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang syekh. Dan Syekh itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya keduanya dengan Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Beberapa lama setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan Prabu Pamanah Rasa terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. Meski sudah masuk agama Islam ternyata Prabu Siliwangi tetap menjadikan agama “resmi” kerajaan yang dianut saat itu tetap “Sunda Wiwitan” yakni “ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”. Konon agama Sunda memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus, oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.

Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati. Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan. Istri kedua, Nyai Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa. Istri Ketiga, adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Amuk Murugul. Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran. Istri keempatnya Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho.

Pernikahan kedua di Musholla yang senantiasa mengagungkan alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di Negeri Pajajaran. Nyai Subang Larang sebagai isteri kedua seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Perbedaan yang mencolok antara Ibu Subang Larang dengan istri-istri Prabu Siliwangi lainnya adalah keunggulan mendidik anak-anaknya yang mencerminkan sosok ibu yang idealnya seperti seorang ibu bahkan bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini sebagian masyarakat.

Hasil dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang tersebut mereka dikarunai tiga anak Ideal yaitu: 1.Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi) ; 2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi) ; 3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Melihat kondisi Pakuan Pajajaran yang menganut keyakinan “Sunda Wiwitan” Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Nyimas Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama Syekh nur Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih pengajian di pelabuhan Muara Jati, yaitu Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang, dengan restu Prabu Siliwangi menjadi Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan dibawah Pajajaran dan memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Nyi Mas Rara Santang Di tempat pengajian Gunung Jati Cirebon tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Penerus raja Caruban Larang yang menurut cerita versi Pajajaran beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.

Sedangkan Raja Sangara menuntut ilmu Islam mengembara hingga ke Timur Tengah. Kemudian menyebarkan agama Islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro, Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Setelah wafat, Syekh Quro dimakamkan di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro. Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro.

Silsilah Prabu Siliwangi ;

(12) Prabu Siliwangi (11) Prabu Anggalarang, (10) Prabu Mundingkati (9) Prabu Banyakwangi (8) Banyaklarang (7) Prabu Susuk tunggal (6) Prabu Wastukencana (5) Prabu Linggawesi (4) Prabu Linggahiyang (3) Sri Ratu Purbasari (2) Prabu Ciungwanara (1) Maharaja Adimulia.

Sumber ;

http://groups.yahoo.com/group/bmg2006_sukses/message/3107

http://www.pelitakarawang.com/2010/03/sekilas-sejarah-makam-syekh-quro.html

http://indo.hadhramaut.info/view/1941.aspx

http://su.wikipedia.org/wiki/Obrolan:Prabu_Siliwangi

http://www.forumbebas.com/printthread.php?tid=20951

http://www.asalcageur.co.cc/2009/06/sejarah-sunda-bagian-6.html

Kategori:KEWARGANEGARAAN

BUJANGGA MANIK 2010-2011 Ampel Denta yang Memprakarsai Pembentukan Dewan Wali Songo, serta menanamkan akidah dan syariat dengan memperhatikan kondisi masyarakat

Januari 8, 2011 Tinggalkan komentar

Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (apus ageung) dan siksaguru, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat nanti dia dikuburkan, untuk mencari “laut untuk hanyut, suatu tempat untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya”. Dengan kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan panjang perjalanan keduanya. Bujangga Manik meneruskan perjalanan keduanya yang luar biasa, menuliskan banyak sekali nama tempat yang sebagian masih digunakan sampai sekarang.
Aku sampai di Surabaya malam hari, seperti halnya Bujangga Manik,di ujung timur jawa aku menikmati Suasana malam surabaya yang menyimpan sebuah imaji tersendiri dalam benakku, kota yang berputar penuh dengan keramaian menjadikan kota ini tak pernah berhenti bernafas. pedagang kaki lima yang tetap setia menemani yang begadang menjadikan suasana sepi penuh keselarasan harmoni dengan ritme yang mengalir bebas.kendaraan kami berhenti sejenak untuk menikmati makanan pecel lele sambil menanyakan arah jembatan suramadu sebagai tujuan travelling, maka setelah bertanya dan makan pecel lele kami memutuskan untuk mencari tempat menginap sekitar suramadu. Malam ini kami sengaja berkendaraan mengelilingi kota Surabaya, diantara plang-plang penginapan yang kami cari, diantara plang-plang kota Surabaya, aku terpusat pada tulisan ‘Sunan Ampel” yang membawa pikiranku untuk menulis tentang ‘sunan ampel ini’. Melalui jaringan informasi lewat internet maka terangkailah tulisan ini…..
Nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit. Keadaan Majapahit Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk sebenarnya tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan, pun rakyat kebanyakan.
Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara. Dipati Hangrok telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki yang diduga adalah Raden Patah. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa. Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”salat” diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri –orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada sunan Ampel, tetapi sunan Ampel sendiri merasa perlu meminta ijin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Sunan Ampel. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus, sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Sunan Ampel sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel. Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang dan diberi nama Masjid Rahmat.
Pada pertengahan Abad 15, pesantren Ampel menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Moh Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. maka Sunan Ampel diangkat sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se Tanah Jawa. Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel sendiri.
Jasa beliau yang besar lainnya adalah Beliau juga turut membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu diantara empat tiang utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan Ampel.
Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila Sunan Ampel mendapat beberapa putra di antaranya :1. Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.2. Raden Qosim atau Sunan Drajad. 3. Maulana Akhmad atau Sunan Lamongan.4. Siti Mutmainah.5. Siti Alwiyah.6. Siti Asikah yang diperistri Raden Patah.Adapun dari perkawinannya dengan Nyai Karimah putri Ki Wiryosaroyo beliau dikaruniai dua orang putri yaitu :1. Dewi Murtasia yang diperistri Sunan Giri.2. Dewi Mursimah yang diperistri Sunan Kalijaga.

mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid”. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.

Makamnya terletak di belakang masjid, berada di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kotamadya Surabaya, Jawa Timur. Karena letaknya ditengah kota, Makam Sunan Ampel mudah dijangkau oleh kendaraan Roda Empat Maupun roda Dua.Tempat ini banyak didatangi para peziarah yang ingin berkunjung ke makam Sunan Ampel. Untuk mencapai makam harus melewati sembilan gapura, sesuai arah mata angin, yang melambangkan wali songo atau sembilan wali. Tiga gapura merupakan bangunan asli peninggalan Sunan Ampel.

Makam Sunan Ampel bersebelahan dengan makam istri pertamanya, Nyai Condrowati, yang merupakan keturunan Raja Brawijaya Lima. Di komplek makam Sunan Ampel ini terdapat juga makam para pengawal dan santri-santri Sunan Ampel. Diantaranya makam Mbah Soleh yang berjumlah sembilan. Konon Mbah Soleh meninggal sembilan kali, karena itu makamnya ada sembilan. Selain itu, terdapat juga makam Mbah Bolong. Semasa hidupnya Mbah Bolong yang memiliki nama asli Sonhaji ini, ahli dalam menentukan arah mata angin. Terutama untuk menentukan arah kiblat.

Keunikan dan nilai sejarah masjid Sunan Ampel terletak pada 16 tiang penyangganya yang terbuat dari kayu jati berukuran 17 meter tanpa sambungan.Tiang penyangga ini hingga kini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun. Di tiang penyangga terdapat ukiran-ukiran kuno peninggalan zaman Majapahit yang bermakna Keesaan Tuhan. Masjid ini memiliki 48 pintu yang masih asli, dengan diameter satu setengah meter, dan tinggi dua meter.Bangunan lain yang menjadi ciri khas masjid ini adalah menara setinggi 50 meter. Dahulu, menara ini berfungsi sebagai tempat azan. Di sebelah menara terdapat kubah berbentuk pendopo jawa, dengan lambang ukiran mahkota berbentuk matahari, yang merupakan lambang kejayaan Majapahit. Di tempat ini juga terdapat sumur bersejarah. Namun kini sudah ditutup dengan besi.Air sumur ini dipercaya memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah. Khasiatnya beragam, diantaranya dipercaya dapat menjadi obat. Para peziarah sering membawa air ini sebagai oleh-oleh.

Sumber :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=313008929409
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Ampel
http://sunatullah.com/wali-songo/sunan-ampel.html
http://www.g-excess.com/id/sejarah-sunan-ampel.html
http://tokohsejarah.blogspot.com/2009/09/sunan-ampel.html
http://www.wisatanesia.com/2010/12/makam-sunan-ampel_26.html

Kategori:KEWARGANEGARAAN

BUJANGGA MANIK 2010 -2011 Daulat Hukum Kesultanan Demak Semua Manusia Sama Derajatnya

Januari 8, 2011 1 komentar

Bujangga Manik pamitan pada ibunya untuk pergi seorang diri ke arah timur. Dengan menggunakan ikat kepala “saceundungkaen” Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik pangeran kerajaan Sunda dari istana Pakuan (Sekarang Bogor) terpanggil untuk mencari ilmu. Sang Pangeran Berjuluk Bujangga Manik itu mencarinya dengan cara unik : menjelajah pulau Jawa dengan berjalan kaki seorang diri. Menziarahi tempat-tempat suci keagamaan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Menetap pada beberapa perguruan dan menuntut Ilmu. Selama perjalanannya, ia mendapat tempaan langsung dari alam. Baginya, alam berkembang menjadi guru.

Pengelanaannya itu lalu dituangkannya dalam lembaran-lembaran ditulis pada daun nipah di atas 29 lembar daun dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata sebagai suatu catatan perjalanan spiritual. Lontar-lontar Bujangga Manik itu sekarang tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, sejak tahun 1627 atau 1629. Interpretasinya telah disusun oleh J.Noorduyn (1982) dan diterjemahkan oleh Iskandar wassid (1984). Menurut catatan Noorduyn, Bujangga Manik menyebutkan 450 nama tempat, termasuk nama gunung, sungai, dan pulau yang dilalui dan dilihat dari jarak dekat dan jarak jauh. Nama-nama itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, China, bahkan Mekkah dan Madinah nun di jazirah Arab.

Petualangan sang pangeran, sepanjang sejarah menjadi inspirasi anak bangsa untuk melakukan hal yang sama untuk mengenal lebih dekat Nusantara dengan kondisi yang berbeda ; begitulah aku dalam pergantian tahun baru ini (2010-2011) melakukan perjalanan untuk menyelusuri pulau jawa, ; Pagi itu aku tiba di Demak, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Demak dilalui jalan negara (pantura) yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi. Kabupaten Demak mempunyai pantai sepanjang 34,1 Km, terbentang di 13 desa yaitu desa Sriwulan, Bedono, Timbulsloko dan Surodadi (Kecamatan Sayung), kemudian Desa Tambakbulusan Kecamatan Karangtengah, Desa Morodemak, Purworejo dan Desa Betahwalang (Kecamatan Bonang) selanjutnya Desa Wedung, Berahankulon, Berahanwetan, Wedung dan Babalan (Kecamatan Wedung). Sepanjang pantai Demak ditumbuhi vegetasi mangrove seluas sekitar 476 Ha.

Demak menjadi penting dipelajari anak bangsa terutama muslim Indonesia,mengingat Demak merupakan cikal bakal kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Di hadapan Undang-undang Demak “Salokantara” dan “Jugul Muda” yang berlandaskan Islam. menurut budayawan WS Rendra, peraturan negeri pengganti Majapahit itu,semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para wali. Rakyat bukanlah abdi atau kawula sebagaimana di masa berikutnya, rezim Mataram. Sejak abad ke-17, rakyat kembali menjadi abdi, sebab kekuasaan begitu sentralistik. Malah, para raja rela ber-sembah sungkem kepada penjajah londo. Dan, syariat Islam pun hanya dijalankan setengah-setengah hingga kini, ketika para “penguasa” Jawa memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesultanan Demak yang sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo yang terdiri atas sembila orang ulama besar, pendakwah islam paling awal di pulau jawa.

Atas bantuan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu menganut islam seperti Jepara, Tuban dan Gresik, Raden patah sebagai adipati Islam di Demak memutuskan ikatan dengan Majapahit saat itu, Majapahit memang tengah berada dalam kondisi yang sangat lemah. Dengan proklamasi itu, Radeh Patah menyatakan kemandirian Demak dan mengambil gelar Sultan Syah Alam Akbar. Secara beruturut-turut, hanya tiga sultan Demak yang namanya cukup terkenal, Yakni Raden Patah sebagai raja pertama, Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus sebagai raja kedua, dan Sultan Trenggana, saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524 – 1546). Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, yakni perluasan kegiatan dakwah islam ke seluruh Jawa dan pertahanan kerajaan, pengembangan hukum islam,arsitektur bangunan Masjid, penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa),cikal bakal pengembangan corak budaya Islam Nusantara. Serta menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas.

Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Patah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518.

Dalam bidang hukum islam dan bangunan, Raden patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) dengan arsitektur khas yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.

Di antara ketiga raja demak Bintara, Sultan Trenggana lah yang berhasil menghantarkan Kesultanan Demak ke masa jayanya. Pada masa trenggana, daerah kekuasaan demak bintara meliputi seluruh jawa serta sebagian besar pulau-pulau lainnya. Aksi-aksi militer yang dilakukan oleh Trenggana berhasil memperkuat dan memperluas kekuasaan demak. Di tahun 1527, tentara demak menguasai tuban, setahun kemudian menduduki Wonosari (purwodadi, jateng), dan tahun 1529 menguasai Gagelang (madiun sekarang). Daerah taklukan selanjutnya adalah medangkungan (Blora, 1530), Surabaya (1531), Lamongan (1542), wilayah Gunung Penanggungan (1545), serta blambangan, kerajaan hindu terakhir di ujung timur pulau jawa (1546).

Di sebelah barat pulau jawa, kekuatan militer Demak juga merajalela. Pada tahun 1527, Demak merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran (kerajaan Hindu di Jawa Barat), serta menghalau tentara tentara portugis yang akan mendarat di sana. Kemudian, bekerja sama dengan saudagar islam di Banten, Demak bahkan berhasil meruntuhkan Pajajaran. Dengan jatuhnya Pajajaran, demak dapat mengendalikan Selat Sunda. Melangkah lebih jauh, lampung sebagai sumber lada di seberang selat tersebut juga dikuasai dan diislamkan. Perlu diketahui, panglima perang andalan Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggana.

Di timur laut, pengaruh demak juga sampai ke Kesultanan banjar di kalimantan. Calon pengganti Raja Banjar pernah meminta agar sultan Demak mengirimkan tentara, guna menengahi masalah pergantian raja banjar. Calon pewaris mahkota yang didukung oleh rakyat jawa pun masuk islam, dan oleh seorang ulama dari Arab, sang pewaris tahta diberi nama Islam. Selama masa kesultanan Demak, setiap tahun raja Banjar mengirimkan upeti kepada Sultan Demak. Tradisi ini berhenti ketika kekuasaan beralih kepada Raja Pajang.

Di masa jayanya, Sultan Trenggana berkunjung kepada Sunan Gunung Jati. Dari Sunan gunung jati, Trenggana memperoleh gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Gelar Islam seperti itu sebelumnya telah diberikan kepada raden patah, yaitu setelah ia berhasil mengalahkan Majapahit. Trenggana sangat gigih memerangi portugis. Seiring perlawanan Demak terhadap bangsa portugis yang dianggap kafir. Demak sebagai kerajaan islam terkuat pada masanya meneguhkan diri sebagai pusat penyebaran Islam pada abad ke 16. Sultan Trenggana meninggal pada tahn 1546, dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuran. Ia kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Setelah sultan trenggana mengantar Demak ke masa jaya, keturunan sultan tersebut silih berganti berkuasa hingga munculnya kesultanan pajang.

Masjid agung Demak sebagai lambang kekuasaan bercorak Islam adalah sisi tak terpisahkan dari kesultanan Demak Bintara. Kegiatan walisanga yang berpusat di Masjid itu. Di sanalah tempat kesembilan wali bertukar pikiran tentang soal-soal keagamaan. Masjid demak didirikan oleh Walisanga secara bersama-sama. Babad demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala Lawang Trus Gunaning Janma, sedangkan pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri pada tahun 1479.

Masjid Agung Demak dibangun berbaur dengan unsur Hindu, kemudian menjadi wujud–wujud arsitektur masjid di Nusantara. Berbagai kebiasaan yang melengkapi bangunan tradisional daerah, juga menjadi kelengkapan dari masjid – semisal bahan bangunan lokal, atap khas daerah serta faktor posisi yang ada dalam kehidupan daerah. masjid yang dibangun senantiasa menonjolkan unsur–unsur daerah dengan nilai–nilai tradisionalnya. Oleh karena keterikatannya dengan budaya lokal tradisional sangat kuat, masjid dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama, karena itu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid tampil sebagai bangunan yang bercorak tradisional daerah. Masjid Agung Demak, wujud arsitekturalnya merupakan pengembangan bentuk pendopo. Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai ‘saka tatal’Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Secara Budaya, masjid agung Demak menjadi pusat kegiatan Budaya kerajaan islam pertama di jawa. Bagunan ini juga dijadikan markas para wali untuk mengadakan Sekaten. Pada upacara sekaten, dibunyikanlah gamelan dan rebana di depan serambi masjid, sehingga masyarakat berduyun-duyun mengerumuni dan memenuhi depan gapura. Lalu para wali mengadakan semacam pengajian akbar, hingga rakyat pun secara sukarela dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Cepatnya kota demak berkembang menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas serta pusat kegiatan pengislaman tidak lepas dari andil masjid Agung Demak. Dari sinilah para wali dan raja dari Kesultanan Demak mengadakan perluasan kekuasaan yang dibarengi oleh kegiatan dakwah islam ke seluruh Jawa. dalam genggaman para wali dan raja kesultanan Demak. Penduduk merasa tenteram dan damai di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah atau Raden Patah. Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya, setelah mengakhiri masa Syiwa-Budha serta animisme. Mereka pun memiliki kepastian hidup, bukan karena wibawa dan perbawa Sang Sultan. Kepastian hidup ada karena disangga daulat hukum. Dan kepastian daulat hukum Kesultanan Demak Bintoro kala itu, berpijak pada syariah Islam.

Sayang memang, Demak hanya bertahan sampai umur 65 tahun. Keberadaannya sebagai kerajaan dengan dasar Islam telah tercatat dalam sejarah. Dipegang-teguhnya syariat Islam sebagai pedoman hidup seluruh isi negeri Demak tak lepas dari perjuangan para ulama. Bahkan, dalam pengelolaan kesultanan, para ulama itu berperan sebagai tim kabinet (kayanakan) sultan. Para ulama itulah yang tiga abad kemudian dikenal dengan sebutan Walisanga, wali sembilan.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Demak

http://waluyo2104.wordpress.com/2010/07/08/raden-fattah/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak

http://ridwanaz.com/islami/sejarah-islam/sejarah-agama-islam-di-indonesia-kerajaan-demak-bintara/

Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.

http://balimuslim.com/artikel-bali-muslim/65-seputar-arsitektur-masjid

http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Demak

 

Kategori:KEWARGANEGARAAN

Sunan Giri Lambang Pemersatu Negara Kesatuan melalui Ilmu dan Pengembangan Pendidikan

Desember 26, 2010 Tinggalkan komentar

Pendidikan Kewarganegaraan bagi Pendidik Muslim yang paling pokok bagaimana sebagai guru PKn tidak ubahnya seperti guru-guru yang lain yakni menguasai kurikulum PKn dan mulailah menanamkan pokok-pokok Kewarganegaraan dari sana, terutama bagaimana secara professional Guru PKn membuat perencanaan pengajaran PKn, guru yang mengajar tanpa perencanaan maka hidup bagaikan tanpa pedoman, bagaikan berislam tanpa berpedoman pada Al Qur’an maka keislaman orang tersebut adalah keislaman tergantung orang tua atau lingkungan. Tapi, akan berbeda orang yang berislam dengan tulus Ikhlas melangkah berdasarkan pedoman Al Qur’an. Sama juga dengan seorang guru, guru yang mengajarkan berdasarkan kurikulum dan teori-teori keguruan tentu akan berbeda dengan guru yang menyalin buku pelajaran ke papan tulis lalu menyuruh siswa menyalinnya kembali ke buku siswa.

Yang paling pokok inti dari Pendidikan PKn adalah menanamkan harapan pada setiap orang yang hidup di bumi Nusantara, itu sudah ditakdirkan untuk lahir disebuah Negara dimana negar itu bernama Indonesia dengan pulau-pulau yang tersebar, sadari loh anda ini lahir di bumi seperti ini ? yang memiliki kondisi alam dan budaya yang khas kepulauan. Sebuah kesadaran ‘dimana kita berdiri disitu langit di junjung’. Inilah pendidikan dasar dari Kewarganegaraan bahwa setiap orang yang dilahirkan oleh Allah ditugaskan sebagai khalifah fil ardhi Indonesia. Apa yang harus anda lakukan ? sehingga keberadaan anda memiliki arti dan berperan penting bagi kemajuan bumi Nusantara ini. Jadi tidak bisa, anda hidup di Indonesia berperilaku Arab atau berperilaku Eropa, tindakan seperti itu telah menyalahi kodrat yakni berperilaku tidak sesuai dengan dimana bumi di pijak.

Disamping itu Sebagai warga Negara yang memiliki keyakinan spiritual,kita juga menyadari bahwa tuhan yang menciptakan bumi Nusantara ini adalah juga tuhan yang menciptakan Eropa, Amerika juga Arab dan negeri-negeri di muka bumi serta pencipta jagad raya ini, oleh karena itu kita yakin bahwa hukum tuhan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw itu juga kontektual dengan bumi Nusantara ini.

Nah karena itu lah, jauh-jauh hari ketika Islam menyebar di Indonesia , Sukses Islam di Nusantara telah dirintis oleh para wali yang sukses mengislamkan masyarakat Indonesia secara luar biasa, secara terhormat diterima oleh penduduk Nusantara, para wali telah berhasil pertama menciptakan system pemerintahan dengan menciptakan kerajaan-kerajaan islam Indonesia, muncul kerajaan-kerajaan Islam Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, dan Banten, dan sebagian Indonesia itu berkat dari tangan para wali, yang kedua mengIslamkan kebudayaan melalui sunan Kalijaga dengan cerdas tidak secara utuh mengadopsi kebudayaan Arab akan tetapi menciptakan kebudayaan Islam yang khas Indonesia , muncul kesenian wayang, tari topeng Cirebon, itu merupakan karya cipta sunan Kalijaga sampai ke bentuk Masjid, para wali tidak meniru-niru arab para wali itu bisa menciptakan bentuk masjid yang khas Indonesia,

Kalau sekarang muncul ormas-ormas Islam yang anti budaya karya cipta para wali, itu salah besar, perjuangan 200 tahun para wali disia-siakan oleh generasi Islam saat ini dengan tidak menghargai dan enggan melanjutkan perjuangan para wali yang telah dengan cerdas berjuang menciptakan system politik islam khas Nusantara dan budaya Islam Nusantara tapi zaman sekarang ditinggalkan oleh generasi Islam di Nusantara sangatlah tidak bijaksana.

Sebenarnya di Nusantara ini Jauh sebelum Negara Kesatuan Repubublik Indonesia memproklamirkan tentang berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia, dengan wilayahnya yang terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya dan rangkaian pulau-pulau yang disebut Nusantara. secara sejarah jauh sebelum itu banyak tokoh atau kerajaan yang juga berusaha mempersatukan berbagai Negara atau kepulauan Nusantara ini. Hal ini dipahami dengan luar biasa oleh Sunan Giri di abad 15 melalui perjuangan para wali merintis persatuan Nusantara yang jika sebelumnya Sriwijaya dipandang sebagai kerajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi pada abad ke-7. Juga Majapahit dipandang sebagai pemersatu bangsa dengan kekuatan militer dan politiknya, wilayah Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, sekitar tahun 1293 hingga 1500 M maka Sunan Giri melalui Giri Kedatonnya mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan pendidikan Islam.

Oleh karena itu sebagai visi dari pendidikan Kewarganegaraan, kita sebagai umat Islam yang ada di Indonesia terutama sebagai kaum akademisi Islam seharusnya mempelajari konsep Giri Kedaton sunan Giri dan para wali sebagai dasar menjadi orang Islam di Indonesia, Giri kedaton menjadi wajib dipelajari karena konsep giri kedaton adalah seperti yang tertara diatas adalah mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan pendidikan Islam. Giri Kedaton mengandung arti sebagai pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi zaman Hindu-Budha untuk disesuaikan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Islam.

Akan tetapi saat ini umat Islam diarahkan menghargai wali hanya dilihat dari sisi datang ke kuburannya saja, sementara ilmu dan konsep-konsep institusinya tidak dipelajari oleh umat Islam. Tugas kita sebagai akademisi, biarkan Islam awam kekuburan akan tetapi kita mempelajari konsep mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan Pendidikan Islam. Karena konsep bagaimana pengembangan Islam yang khas Indonesia itu berada pada “Giri Kedaton” karena semuanya sudah lengkap dengan perjuangan selama 200 tahun.

Umat Islam yang kearab-araban akan sulit diwujudkan di bumi Indonesia demikian juga kebalikannya orang Islam yang merasa paling modern karena dididik oleh Amerika dengan merasa paling liberal, akan tetapi para wali menyebarkan Islam melalui penciptakan tarian, menciptakan makanan, permainan rakyat, lagu-lagu rakyat merupakan Islamisasi local jenius yang jenius.

Universitas Islam di Indonesia seharusnya merupakan kelanjutan dari ‘Modernisasi Giri Kedaton’ karena itu Mahasiswa adalah kader-kader ilmuwan muslim yang berusaha berwawasan keislaman Global tetapi dengan kesadaran wawasan itu diaplikasinya pada konteks lingkungan dimana bumi dipijak, sehingga kerahmatan lil alamin nya membumi. Jika umat islam mengambil jalur politik pun menjadi politik islam khas Indonesia, kalaupun kita berpakaian, berpakaian yang khas Islam ala Indonesia, kopiah khas Islam Indonesia. Dan ketika umat Islam melakukan pembaharuan membangkitkan kembali Islam yang “murni” sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengubah peradaban “Berhala” arab.

Berikut ini paparan bagaimana perjalanan sejarah Giri Kedaton dibentuk ; Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam. Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.

Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari tabib sakti.

Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang resi, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.

Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewi Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.

Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam. tempat dimana Raden Patah juga belajar.

Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.

Syech Maulana Ishak adalah ayah kandung sunan Giri dia adalah seorang ulama’ di Pasai dan Pasai adalah wilayah kerajaan Islam yang tidak bisa di taklukkan oleh kerajaan Majapahit. Maulana Ishak memiliki wawasan dan pengalaman politik yang sangat dibutuhkan oleh Sunan Giri. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.

Sepulang dari Pasai, Sunan Giri langsung menghadap Sunan Ampel, mertuanya. Rupanya ada pembicaraan serius, sehingga beliau tidak menundanya. Pembicaraan tersebut seputar pesan ayahnya untuk mencari tempat yang serupa dengan segenggam tanah yang dibawa dari Pasai. Sunan Ampel memberi do’a restu dan mendukungnya agar pesan itu betul-betul dilaksanakan meski hal itu bukan pekerjaan yang mudah.

Selanjutnya Sunan Giri mempertaruhkan jiwa dan raganya menyusuri tebing serta mendaki gunung-gunung yang ada di Gresik perbukitan Desa Sidomukti, Kebomas, Napak tilas itu diawali dari titik historis, dari wilayah pesisir kota hingga ke arah pantai utara (pantura). Lama belum kelihatan hasilnya, tiba-tiba duka menghadangnya. Sunan Ampel wafat, bertepatan dengan tahun 1475 Masehi.

Setelah kepergian Sunan Ampel, pencarian itu masih berlangsung. Sunan Giri mengamati posisi sebuah puncak gunung di bagian paling timur arah selatan kota Gresik. Beberapa hari lamanya ia melakukan ritual di puncak gunung itu. Tak sampai empat puluh hari, beliau harus mengurungkan niatnya. Ibu asuhnya Nyai Ageng Pinatih, sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian gunung itu disebut gunung Wurung.

Setahun kemudian, napak tilas itu sudah melalui gunung Wurung. Kemudian Sunan Giri mendaki sebuah puncak gunung. Disitu ia membuat musholla (langgar) menyerupai padepokan bersama Syech Grigis dan Syech Koja serta santri-santrinya. Sunan Giri bahkan ikut menukangi pembuatan langgar itu. Lantas gunung tersebut, disebut gunung Petukangan. Di gunung petukangan itu Sunan Giri lebih tekun dan lebih khusyuk beribadah. Bahkan ia seolah-olah telah membuka kehidupan baru (Ihyaul mawal). Namun setahun kemudian Sunan Giri bergeser ke bukit Landai di selatan gunung Petukangan. Beliau bermunajat pada tengah malam di bukit itu dan melakukan tirakatan empat puluh hari.

Pada puncak malam ke empat puluh, dalam sholat tahajud Sunan Giri melihat sorot cahaya berkilau di arah barat. Kemudian Sunan Giri berusaha melacak asal cahaya itu. Ternyata posisi cahaya itu beliau temukan di sebuah puncak diantara gunung Petukangan dan Sumber. Tanahnya serupa dengan segenggam tanah yang beliau bawa dari negeri Pasai.

Proses pencarian berhasil. Sunan Giri mulai mewujudkan cita-citanya. Adapun puncak dimana Sunan Giri melihat cahaya, lalu menduga (mbatang) bahwa cahaya itu adalah ilham atau petunjuk dari Allah SWT (Tuhan), maka puncak itu disebut Gunung Batang. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.

Pesantren Giri adalah institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara.Pesantren ‘Giri Kedaton’ tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama, namun juga sebagai pusat pengembangan pendidikan kekuatan politik Islam. Sehingga pertumbuhannya membuat raja majapahit hingga kemudian Majapahit memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan dibawah Majapahit yang disebut Giri Kedaton. kedaton (istana) tujuh tingkat (tundha pitu) disebuah bukit (Giri), yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton. Pembangunan kedaton berlangsung pada tahun 1408 Saka/1486 M, Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. (1409 Saka/1487 M)

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Giri Kedaton adalah simbol institusi penting penyebaran Intelektual muslim di Nusantara karena sebelum kemunculan Giri Kedaton, Islam di Nusantara belum mengalami perkembangan yang pesat seperti zaman Giri Kedaton. Sunan Giri dengan tepat meramalkan munculnya Mataram, dan menyebarkan Islam ke Lombok, Sulawesi, dan Maluku. Salah satu peranan pentingnya adalah dalam mengkader raja-raja Kerajaan Islam di Jawa, juga terbentuknya peradaban baru mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan secara luas serta dakwah secara langsung, membuat Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur”.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat pesantren politik Islam yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Bahkan Sejak itu posisi Giri Kedaton hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara.

Misalnya, Sunan Prapen sebagai pemimpin Giri Kedaton tahun 1548–1605 dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya raja Pajang. Ia juga menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya dengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur sepakat mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Runtuhnya Pengaruh Giri Kedaton.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun, runtuhnya pengaruh Giri Kedaton diakibatkan kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Berawal dari Deklarasi kerajaan Mataram (1575-1601) oleh Sutowijoyo dengan gelar “panembahan senapati ing nglaga sayidin panatagama kalipatullah ing tanah Jawi“ dan sekaligus menandai berdirinya dinasti Keraton Mataram. Juga menandai berakhirnya model penyebaran Islam konsep dewan Walisongo, dimana Mufti yang memisahkan kekuasaan agama dan Raja Islam yang memegang pemerintahan, berganti dengan dinasti Mataram yang meleburkan penguasa keagamaan dan politik berada pada satu orang yakni Sultan Agung.

Kerajaan Mataram pada mulanya hanyalah sebuah kerajaan kecil dan berpusat di kota Gede dekat Jogyakarta. Semula oleh Adiwijaya Raja Pajang, wilayah Mataram ini di berikan pada Ki Gede Pamanahan. Ternyata kemudian Mataram bisa berkembang se-demikian pesatnya.

Sejak awal Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung menghendaki agar Giri Kedaton tunduk sebagai daerah bawahan. Pada tahun 1630 Giri Kedaton di bawah pimpinan Sunan Kawis Guwa menolak kekuasan Mataram. Tidak seorang pun perwira Mataram yang berani menghadapi Giri. Rupanya mereka masih takut akan kekeramatan Walisongo.

Sultan Agung pun menunjuk iparnya, yaitu Pangeran Pekik putra Jayalengkara dari Surabaya untuk menghadapi Giri. Semangat pasukan Mataram bangkit karena Pangeran Pekik merupakan keturunan Sunan Ampel, sementara Sunan Kawis Guwa adalah keturunan Sunan Giri I, di mana Sunan Giri I adalah murid Sunan Ampel. Perang akhirnya dimenangkan oleh pihak Mataram di mana Giri Kedaton takluk sekitar tahun 1636. Sunan Kawis Guwa dipersilakan untuk tetap memimpin Giri dengan syarat harus tunduk kepada Mataram. Sejak saat itu wibawa Giri Kedaton pun memudar. Pengganti Sunan Kawis Guwa tidak lagi bergelar Sunan Giri, melainkan bergelar Panembahan Ageng Giri. Gelar Panembahan dan Giri mempengaruhi penguasa Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat ketika memeluk Islam menggunakan gelar Panembahan Giri Kusuma.

Giri Kedaton yang sudah menjadi bawahan Mataram kemudian mendukung pemberontakan Trunojoyo dari Madura terhadap pemerintahan Amangkurat I putra Sultan Agung. Panembahan Ageng Giri aktif mencari dukungan untuk memperkuat barisan pemberontak. Puncak pemberontakan terjadi tahun 1677 di mana Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan. Amangkurat I sendiri tewas dalam pelarian. Putranya yang bergelar Amangkurat II bersekutu dengan VOC melancarkan aksi pembalasan.

Amangkurat II yang menjadi raja tanpa takhta berhasil menghancurkan pemberontakan Trunojoyo akhir tahun 1679. Sekutu Trunojoyo yang bertahan paling akhir adalah Giri Kedaton. Pada bulan April 1680 serangan besar-besaran terhadap Giri dilancarkan oleh VOC–Belanda. Murid andalan Giri yang menjadi panglima para santri bernama Pangeran Singosari gugur dalam peperangan. Sunan Amangkurat II telah berhasil membunuh dan membantai 6000 orang ulama’,Panembahan Ageng Giri ditangkap dan dihukum mati menggunakan cambuk. Tidak hanya itu, anggota keluarganya juga dimusnahkan. Sejak saat itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton.

Dengan sangat lihai kemudian pihak kompeni Belanda memanfaatkan momen tersebut dengan peran politik benturkan. Runtuhnya dan bergesernya peran Giri kedaton hingga terbenturnya antar peradaban, lantas munculnya peradaban pecah belah (devide et impera) atau peradaban adu domba dalam hal ini di perankan penuh oleh penjajah Belanda. Dengan saling membenturkan kekuatan-kekuatan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dengan Kerajaan Mataram. Belanda kemudian satu persatu menaklukkan kerajaan Islam dan menaklukkan wilayah-wilayah Nusantara.

Kini jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya sekaligus Menandai berakhirnya era penyebaran agama Islam versi dewan walisongo.

Daftar Pustaka :
http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit
http://misikcobra.wen.ru/walisongo/giri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Giri
http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/32297-kisah-sunan-giri-dan-pengembaraannya-ke-samudra-pasai.html
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://sunatullah.com/wali-songo/sunan-giri.html
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://www.psb-psma.org/content/blog/kelahiran-giri-kedaton-1487-m
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.gimonca.com/sejarah/walisongo.shtml&ei=-ZkPTZLoBcH3rQfhvYC8Cw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CCIQ7gEwAjgK&prev=/search%3Fq%3DWali%2Bsongo%26start%3D10%26hl%3Did%26sa%3DN%26prmd%3Divnslb
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/walisongo.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://sunatullah.com/wali-songo/sunan-giri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html

Kategori:KEWARGANEGARAAN