Arsip

Archive for the ‘AKU TENTANG TUHAN’ Category

FATAMORGANA SYURGA Oleh ; Heri Hidayat,S.Sen,.M.Pd.

Para malaikat menyadari bahwa Adam adalah makhluk yang mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Adam mempunyai pengetahuan semua benda-benda dan terkadang ia berbicara bersama para malaikat, namun para malaikat disibukkan dengan ibadah. Oleh kerana itu, Adam merasa kesepian. Kemudian Adam tidur dan tatkala ia bangun ia mendapati seorang perempuan yang memiliki mata yang indah, dan tampak penuh dengan kasih sayang. Kemudian terjadilah dialog di antara mereka:

Adam berkata: “Mengapa kamu berada di sini sebelum saya tidur.” Perempuan itu menjawab: “Ya.” Adam berkata: “Kalau begitu, kamu datang di tengah-tengah tidurku?” Ia menjawab: ‘Ya.” Adam bertanya: “Dari mana kamu datang?” Ia menjawab: “Aku datang dari dirimu. Tuhan menciptakan aku darimu saat kamu tidur.” Adam bertanya: “Mengapa Tuhan menciptakan kamu?” Ia menjawab: “Agar engkau merasa tenteram denganku.” Adam berkata: “Segala puji bagi Tuhan. Aku memang merasakan kesepian.”

Para malaikat bertanya kepada Adam tentang namanya. Nabi Adam menjawab: “Namanya Hawa.” Mereka bertanya: “Mengapa engkau menamakannya Hawa, wahai Adam?” Adam berkata: “kerana ia diciptakan dariku saat aku dalam keadaan hidup.”
Adam adalah makhluk yang suka kepada pengetahuan. Ia membagi pengetahuannya kepada Hawa, di mana ia menceritakan apa yang diketahuinya kepada pasangannya itu, sehingga Hawa mencintainya.
“Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’

Nabi Adam dam Hawa memasuki syurga dan di sana mereka berdua merasakan kenikmatan manusiawi semuanya. Di sana mereka juga mengalami pengalaman-pengalaman yang berharga. Kehidupan Adam dan Hawa di syurga dipenuhi dengan kebebasan yang tak terbatas. Dan Adam mengetahui kesempurnaan kebahagiaan yang ia rasakan pada saat ia berada di syurga bersama Hawa. Ia tidak lagi mengalami kesepian. Ia banyak menjalin komunikasi dengan Hawa. Mereka menikmati nyanyian makhluk, tasbih sungai-sungai, dan muzik alam sebelum ia mengenal bahawa alam akan disertai dengan penderitaan dan kesedihan. Tuhan telah meberikan aturan bagi mereka untuk mendekati segala sesuatu dan menikmati segala sesuatu selain satu pohon.

Adam dan Hawa mengerti bahwa mereka dilarang untuk memakan sesuatu dari pohon ini, Nabi Adam bertanya-tanya dalam dirinya. Apa yang akan terjadi seandainya ia memakan buah tersebut, barangkali itu pohon keabadian. Nabi Adam memang memimpikan untuk kekal dalam kenikmatan dan kebebasan yang dirasakannya dalam syurga.

Mungkin, inilah yang terjadi pada para pengikut bom bunuh diri, kenikmatan kepada keyakinan yang dianutnya, membuat mereka menginginkan syurga hanya untuk mereka, sementara diluar golongannya adalah neraka, lalu seperti Adam dan Hawa mereka menginginkan keabadian dalam syurga sehingga satu pohon itu menjelma menjadi ‘menghalalkan segalanya’.

Berlalulah waktu di mana Nabi Adam dan Hawa sibuk oleh rasa penasaran sehingga terus memikirkan pohon itu. Kemudian pada suatu hari mereka menetapkan untuk memakan pohon itu. Mereka lupa bahawa Tuhan telah memberikan aturan agar tidak mendekatinya. Mereka juga tidak mengerti akan artinya ‘musuh’,sebagai musuh iblis menginginkan Adam melanggar aturan Tuhan . Adam menghulurkan tangannya ke pohon itu dan memetik salah satu buahnya dan kemudian memberikannya kepada Hawa. Akhirnya mereka berdua memakan buah terlarang itu.

Duarrrr ! Bom itu pun akhirnya meledak, Adam dan Hawa memakan buah tersebut sehingga berubahlah keadaan di sekitarya dan berhentilah musik indah yang memancar dari dalam dirinya. Ia mengetahui bahwa ia tak berpakaian, demikian juga isterinya. Akhirnya, ia mengetahui bahwa ia seorang lelaki dan bahwa isterinya seorang wanita. Ia dan isterinya mulai memetik daun-daun pohon untuk menutup tubuh mereka yang terbuka. Kemudian bukannya keabadian syurga yang mereka dapatkan, malah Tuhan mengeluarkan perintah agar mereka turun dari syurga.

Adam dan Hawa turun ke bumi. Mereka keluar dari syurga. Adam dalam keadaan menyesal telah tergiur oleh kenikmatan yang berlebihan, sangkanya sedang menegakkan aturan Tuhan, padahal itu semua hanya fatamorgana kebenaran yang diciptakan Iblis…..

kemudian Adam dan Hawa menjalani kehidupannya di muka bumi, di mana mereka akan hidup di dalamnya, mati di atasnya, dan akan dibangkitkan darinya pada hari kebangkitan. Beliau menceritakan kejahatan iblis kepada anak-anak dan cucu-cucunya, dan meminta kepada mereka agar berhati-hati darinya. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya, kenikmatan bergaul dengan para malaikat, keindahan bersama Hawa pasangan hidupnya, dan surga yang tak ingin ditinggalkannya, membuat ia terjebak justru menjadi orang-orang yang zalim.

TUHAN TIDAK PERNAH MENCABUT KEBEBASAN IBLIS Oleh ; Heri Hidayat,S.Sen,.M.Pd.

April 21, 2011 Tinggalkan komentar

Ketika kebenaran diklaim oleh satu golongan, lalu Iblis ikut menghebuskan kebebasan untuk melakukan apapun berdasarkan keyakinannya, maka aku lebih baik daripadanya, semua orang diluar golongannya menjadi tidak ada yang benar dan akhirnya ‘aturan adalah aku’ bom bunuh diri dianggap ‘buah khuldi’ jalan tenikmat menikmati syurga. Tubuh yang asalnya dari tanah berhamburan, tapi sayang, tanah itu terkutuk dan ditolak oleh bumi asal penciptaannya. Terbayang, saat Tuhan mengumpulkan segenggam tanah dari bumi; di dalamnya terdapat yang berwarna putih, hitam, kuning, coklat dan merah. Oleh kerana itu, manusia memiliki beragam warna kulit. Kemudian Tuhan mengambil tanah berair, tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dari tanah inilah tercipta manusia pertama Adam. dengan kekuasaan-Nya lalu meniupkan roh-Nya di dalamnya, kemudian bergeraklah tubuh Adam dan tanda kehidupan mulai ada di dalamnya. Selanjutnya, Adam membuka kedua matanya dan ia melihat para malaikat semuanya bersujud kepadanya, kecuali satu makhluk yang berdiri di sana. Adam tidak tahu siapakah makhluk yang tidak mau bersujud itu. Ia tidak mengenal namanya. Iblis berdiri bersama para malaikat tetapi ia bukan berasal dari golongan mereka. Iblis berasal dari kelompok jin. “Tuhan berfirman: ‘Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi? ‘Iblis berkata: ‘Aku lebih baik daripadanya, kerana Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Tuhan berfirman: ‘Maka keluarlah kamu dari syurga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.’ Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, bertangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).’ Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.’ Adam mengikuti peristiwa yang terjadi di depannya. Ia merasakan suasana cinta, rasa takut, dan kebingungan. Adam menyaksikan iblis yang berpendapat dihadapan Tuhan tentang manusia, menyusul suasana takut saat melihat Tuhan marah terhadap iblis dan mengusirnya dari sisi-Nya. Ia merasakan kebingungan ketika melihat makhluk ini yang membencinya, padahal ia belum mengenalnya. Makhluk itu membayangkan bahwa ia lebih baik dari dirinya, padahal tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa salah satu dari mereka lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Tuhan tidak pernah mencabut kebebasan yang diberikan-Nya kepada iblis. Namun pada akhirnya, iblis tetap sebagai hamba yang kafir. Iblis benar-benar menolak untuk sujud kepada Adam. Sementara, Adam menyedari bahwa kebebasan di alam wujud adalah merupakan kurnia Tuhan yang diberikan kepada makhluk-Nya. Tuhan memberikan balasan yang setimpal atas penggunaan kebebasan itu.

TUHAN

April 16, 2011 Tinggalkan komentar

Setiap orang berjalan menuju singgasana Tuhan sesuai dengan presepsi agamanya, apa yang hendak dikatakan, ketika Tuhan Yang Maha Mutlak yang duduk disinggasana itu hanya sesuai dengan satu presepsi salah satu agama saja ?

Tuhan ialah suatu zat abadi dan supranatural, Dia menciptakan, mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Kata Tuhan digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.
Banyak tafsir daripada nama “Tuhan” ini yang bertentangan satu sama lain. Meskipun kepercayaan akan Tuhan ada dalam semua kebudayaan dan peradaban, tetapi definisinya lain-lain. Istilah Tuan juga banyak kedekatan makna dengan kata Tuhan, dimana Tuhan juga merupakan majikan atau juragannya alam semesta. Tuhan punya hamba sedangkan Tuan punya sahaya atau budak.

Kata Tuhan disebutkan lebih dari 1.000 kali dalam Al-Qur’an,sementara di dalam Alkitab kata Tuhan disebutkan sebanyak 7677 kali. Dengan kemutlakannya, Tuhan tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Tuhan tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Tuhan hanya akan membatasi kekuasaannya. Maka baginya tidak ada kapan lahir atau kapan mati.

Manusia dalam mencari Tuhan dengan bekal kemampuan penggunaan akalnya dapat mencapai tingkat eksistensinya. Kemungkinan sejauh ini, kemutlakan Tuhan menyebabkan manusia yang relatif itu tidak dapat menjangkau substansi Tuhan. Dengan demikian informasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari Sang Mutlak atau Tuhan itu sendiri.

Di dunia ini banyak agama yang mengklaim sebagai pembawa pesan Tuhan. Bahkan ada agama yang dibuat manusia (yang relatif) termasuk pembuatan substansi Tuhan itu tentu. Karena banyaknya nama dan ajaran agama yang bervariasi tidak mungkin semuanya benar. Kalau substansi mutlak ini bervariasi, maka hal itu bertentangan dengan eksistensinya yang unik. Untuk menemukan informasi tentang substansi yang mutlak, yang unik dan yang distinct itu dapat menggunakan uji autentistas sumber informasinya. Terutama terkait dengan informasi Tuhan lewat agama dalam memperkenalkan dirinya kepada manusia apakah mencerminkan eksistensinya itu.

Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.

Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu : menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan; serta menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan. Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

Agama samawi atau agama langit dimaksudkan untuk menunjuk agama Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik) dan Islam. Diantara agama-agama ini menggunakan sebutan/panggilan yang berbeda yang dikarenakan perbedaan bahasa dan ajarannya.

Allah, sebutan bagi Tuhan dalam bahasa Arab, adalah agama yang mengimani satu Tuhan. Biasanya dipakai oleh umat Islam. Dalam agama Islam, Tuhan memiliki 99 nama suci. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan” atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan

Yehowa atau Yahweh, salah satu istilah yang dipakai Alkitab. Istilah ini berasal dari istilah berbahasa Ibrani tetragrammaton YHVH (יהוה). Nama ini tidak pernah dilafalkan karena dianggap sangat suci, maka cara pengucapan YHVH yang benar tidaklah diketahui. Biasanya yang dilafalkan adalah Adonai yang berarti Tuan. Inti kepercayaan penganut agama Yahudi adalah wujudnya Tuhan yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, menurunkan undang-undang Tuhan (Torah) kepada mereka dan memilih mereka sebagai cahaya kepada manusia sedunia.

Sang Hyang Tritunggal Mahasuci, yang artinya adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks. Konsep ini dipakai sejak Konsili Nicea pada tahun 325 M. Yesus Kristus adalah sebutan bagi Tuhan dan Mesias oleh umat Kristen, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa.

Dewa, istilah Tuhan bagi agama Hindu yang seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.

Berhala, isitlah Tuhan bagi penganut Paganisme, yakni sebuah kepercayaan/praktik spiritual penyembahan terhadap berhala yang pengikutnya disebut Pagan. Pagan pada zaman kuno percaya bahwa terdapat lebih dari satu dewa dan dewi dan untuk menyembahnya mereka menyembah patung, contoh Mesir Kuno, Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan lain-lain. Pada zaman sekarang, Pagan percaya bahwa semua di sekitar mereka suci karena merupakan bagian dari dewa dan dewi. Contohnya, mereka percaya bahwa batu dan pohon adalah bagian dari dewa dan dewi, sehingga keramat, tetapi tidak menyembah pohon itu. Kebanyakan orang pagan percaya bumi memunculkan dewi.

Sejarah manusia, setiap orang yang berjalan menuju yang hakikat tidak mungkin memposisikan dirinya sebagai seorang penganut faham netral agama, memandang semua agama sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. Mungkinkah akal kita bisa menerima kebenaran dua hal yang kontradiktif ? Mungkinkah Tuhan itu satu dan pada saat yang sama Tuhan itu tiga? Atau, bagaimana mungkin kita membenarkan atheisme dan pada saat yang sama membenarkan theisme? Mungkinkah Tuhan itu ada dan pada saat yang sama tidak ada?

Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai
Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan
http://id.wikipedia.org/wiki/Agama
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan
http://id.wikipedia.org/wiki/Islam
http://id.wikipedia.org/wiki/Hinduisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Paganisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Yudaisme
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=32320%3Abekal-untuk-menonton-film-tanda-tanya&catid=16%3Acakrawala-indonesia&Itemid=59
http://umum.kompasiana.com/2009/09/03/puisi-puisi-sufi-pilihan-karya-jalaluddin-rumi/