Beranda > SEKOLAH BASIS SENI "SBS" > BELAJAR MENGAPRESIASI ; ‘Belajar dengan seni,’ ‘Belajar melalui seni,’ dan ‘Belajar tentang seni’

BELAJAR MENGAPRESIASI ; ‘Belajar dengan seni,’ ‘Belajar melalui seni,’ dan ‘Belajar tentang seni’

Proses terjalinnya hubungan antara penikmat dan ekspresi seni seorang seniman disebut Apresiasi. Yakni, kegiatan menyerap dengan panca indera, menanggapi, menghayati sampai kepada menilai karya eskpresi seni seniman itu. Dalam konteks pendidikan ‘belajar dengan seni,’ ‘belajar melalui seni,’ dan ‘belajar tentang seni’. Segala bentuk kegiatan apresiasi seni secara umum bertujuan untuk mendidik siswa memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tidak hanya sekedar untuk bidang seni sendiri akan tetapi pengalaman apresiasi seni pada usaha untuk mengembangkan manusia berkarakter yang dapat memainkan peranan yang sangat fundamental dimana cita-cita suatu bangsa dan Negara dapat diraih.

Melalui pembelajaran apresiasi seperti ini pendidikan seni budaya dan keterampilan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajaran terhadap kepentingan peserta didik; pertama, melalui pembelajaran apresiasi sudah pasti seorang seniman tindak mungkin besar tanpa peranan para pendukungnya. Kedua, seniman memahami sesungguhnya dengan bekerja sama akan menghasilkan karya yang baik. ketiga, karya seni penting diapresiasi untuk menjalin kepentingan dan nilai hubungan dengan penikmatnya.

Pengalaman nilai apresiasi ini menjadi penting untuk kepentingan peranan manusia berkarakter yang dicontohkan dalam kisah berikut ;

Seorang anak muda yang baru lulus dari universitas memohon kerja sebagai manajer di sebuah perusahaan yang besar. Anak muda itu lulus dalam sesi wawancara pertama dan keputusan akhir berada di tangan sang direktur pada wawancara sesi terakhir. Direktur perusahaan melihat prestasi akademik anak muda ini cemerlang sejak sekolah menengah pertama hingga lulus universitas.

Sang direktur bertanya, “Apakah anda mendapat beasiswa di sekolah?”
Anak muda tersebut menjawab; “Tidak”.

Sang direktor bertanya lagi, “Adakah ayah anda yang membiayai sekolah anda?” Anak muda itu menjawab, “Ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia setahun, ibu saya yang menanggung biaya sekolah saya selama ini”.

Sang direktur bertanya, “Di mana ibu anda bekerja?” Anak muda itu menjawab, “Ibu saya bekerja sebagai pencuci pakaian”. Sang direktor meminta anak muda tersebut menghulurkan tangannya. Tangan anak muda itu kelihatan halus dan lembut.

Sang direktur bertanya, “Pernahkah anda membantu ibu anda bekerja?” Anak muda itu menjawab, “Tidak, ibu saya senantiasa meminta saya belajar dan membaca buku. Lagi pula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dari saya”.

Sang direktur berkata, “Saya mempunyai sebuah permintaan. Sewaktu anda pulang hari ini, cucilah tangan ibu anda, dan keesokan harinya temuilah saya”.

Anak muda tersebut merasakan punya peluang yang cukup tinggi untuk mendapat kerja. Ketika ia pulang, ia meminta ibunya membolehkannya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa aneh, gembira dan dengan perasaan bercampur baur, ia menunjukkan tangannya pada sang anak.

Anak muda tersebut mulai membersihkan tangan ibunya secara perlahan-lahan. Air mata mula menitik. Itulah untuk pertama kalinya ia melihat tangan ibunya yang kasar dan penuh luka-luka. Sebagian luka begitu sakit sehingga si ibu menggigil saat dibersihkan dengan air.

Inilah kali pertama anak muda tersebut menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang bekerja keras demi membiayai sekolahnya. Luka-luka ditangan ibunya itulah merupakan harga yang harus dibayar demi membiayai sekolah dan masa depannya. Selepas selesai membersihkan tangan sang ibu, anak muda itu mulai mencuci pakaian yang masih tersisa untuk ibunya.

Keesokan hari, anak muda itu pergi ke kantor tersebut. Sang direktur menyadari ada titik-titik air mata yang tergenang dalam mata anak muda itu. Ia bertanya, “Sudikah anda menceritakan apa yang telah anda lakukan kemarin dan apa saja yang telah anda pelajari??”

Anak muda itu menjawab, “Saya membersihkan tangan ibu saya dan turut membantu mencuci pakaian yang masih tersisa”. Sang direktur berkata, “Tolong nyatakan perasaan anda”.

Anak muda itu berkata, Pertama, kini saya memahami apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, sudah pasti saya tidak akan berhasil seperti hari ini. Kedua, dengan bekerja bersama dan membantu ibu, saya kini memahami sesungguhnya begitu sulit untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Ketiga, kini saya mula mengapresiasi kepentingan dan nilai hubungan kekeluargaan.

Sang direktur lalu berkata, “Inilah yang saya cari untuk mengisi jabatan manajer. Saya ingin merekrut orang yang bisa mengapresiasi bantuan orang lain. Orang yang memahami penderitaan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya, dan seorang yang tidak melihat uang sebagai satu-satunya dalam kehidupannya. Anda diterima bekerja di sini.

Kemudian, anak muda ini bekerja keras, dan dihormati oleh teman-teman sekerjanya. Setiap pekerja bekerja keras sebagai sebuah tim. Perusahaan tersebut mencapai hasil yang memuaskan.

Seorang anak, yang terbiasa dilindungi dan diberi apa saja yang dikehendaki akan menumbuhkan mentalitas yang senantiasa mementingkan dirinya terlebih dahulu. Ia tidak menghargai usaha dan kesulitan yang dirasakan oleh ibu dan ayahnya. Saat ia mulai bekerja, ia berasumsi bahwa semua orang harus mendengar kata-katanya. Saat ia menjadi manajer, ia tidak pernah tahu atau ingin ambil tahu akan kesulitan dan usaha orang lain dan senantiasa akan menyalahkan orang lain. Orang seperti ini, sekalipun pendidikannya tinggi, tapi sebenarnya ia tidak akan dapat merasa atau menikmati keberhasilan. Ia hanya akan mengeluh dan dipenuhi dengan rasa benci.

Anda bisa memanjakan anak-anak anda, tinggal di rumah yang besar, belajar piano, belajar menari, belajar musik, belajar acting, menonton tv dan sebagainya. Kemudian kemudian mengajarinya memberikan dengan format penilaian Unsur estetika seni yang meliputi ; (1) Unity (keutuhan, kebersatuan, kekompakan, tidak ada cacatnya); (2) Complexity (kerumitan, keanekaragaman); dan (3) Intensity (intensitas, kekuatan, keyakinan, kesungguhan). Keutuhan berhubungan dengan kesatuan dan keselarasan jalinan karya seni yang ditampilkan, termasuk pula keselarasan nilai adat dan budaya yang dikandung karya seni tersebut.Kerumitan berhubungan bentuk atau wujud karya seni. Kompleksitas ini menambah nilai tersendiri bagi karya seni tersebut dan bagi orang yang membawakannya. Intensitas berhubungan dengan kepercayaan atau prinsip hidup yang dituangkan dalam karya seni tersebut, seperti unsur kepercayaan dan adat istiadat sebagai pengejawantahan kehidupan masyarakat.

Tetapi ketika anda melakukan apresiasi pekerjaan, biarlah mereka turut merasakannya. Selepas makan, biarlah mereka turut membantu mencuci piring dan sebagainya. Bukan karena anda tidak mampu mempunyai pembantu rumah, tetapi anda ingin mencintai mereka dengan jalan yang benar. Anda ingin mereka memahami. Yang paling penting ialah anak anda belajar mengapresiasi upaya dan merasai kesulitan serta belajar untuk bisa bekerja secara tiem dengan orang lain.

Sekolah Berbasis Seni perlu ada karena keunikan, Kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi yang memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apreasiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

Sumber :
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=27809%3Abelajar-mengapresiasi&catid=48%3Akeindahan-islam&Itemid=79
Bandi, M.Pd.,dkk. Pembelajaran Seni budaya dan keterampilan, Direktorat jenderal pendidikan islam departemen agama republik Indonesia.
Kurikulum SD/MI KTSP 2006

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: