Beranda > MANAJEMEN PENGAJARAN > MANAJEMEN PENDIDIKAN MERUPAKAN JANTUNGNYA SEKOLAH

MANAJEMEN PENDIDIKAN MERUPAKAN JANTUNGNYA SEKOLAH

PENDAHULUAN

Kemajuan pesat (breakthrough) di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi telah menyebabkan terjadinya perubahan struktur sifat hubungan serta tata kerja orang-orang di tempat pekerjaannya. Kebutuhan akan manajemen profesional semakin mendesak. Tuntutan tersebut dirasakan pengelola pendidikan di Indonesia. pertumbuhan manajemen profesional telah menyebabkan pemindahan pengurusan Yayasan Pendidikan, yang semula ditangani oleh keluarga berpindah ke tangan orang-orang profesional atau lulusan dari kependidikan. Gerakan dalam bidang manajemen tersebut, pada dasarnya berisi kecenderungan pemikiran tentang hal-hal berikut : (a) Gerakan manajemen ilmiah merintis pentingnya kepuasan kerja. Kepuasan kerja yang dialami kepala sekolah,guru dan karyawan akan memungkinkan dicapainya produktivitas organisasi yang tinggi. Pendekatan yang perlu dilakukan oleh pimpinan Yayasan adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada para kepala sekolah guru dan pegawai untuk mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya dan mendapatkan kepuasan di sekolah. (b) Lahirnya pengakuan bahwa manajer itu perlu dibentuk, bukan dilahirkan, sukses yang diraih manajemen diyakini sebagai hasil dari tata kerja yang dipelajari, bukan kecakapan yang dilahirkan. Manajer yang sukses merupakan hasil belajar. Oleh karena itu, pembentukan manajer profesional harus dirancang melalui program-program pelatihan. (c) Munculnya pengakuan bahwa kepala sekolah,guru dan karyawan sekolah itu bukan semata dipandang sebagai orang-orang yang rasional, akan tetapi mereka juga adalah mahluk sosial. Kepala sekolah,guru dan karyawan adalah manusia yang menginginkan pengakuan dan kesempatan untuk menikmati kepuasan yang diperoleh dari afiliasi sosial dengan orang-orang lain di lingkungan sekolah.. (d) Perlunya peningkatan kemampuan kepala sekolah,guru dan karyawan dituntut untuk menguasai kecakapan mengambil keputusan, baik keputusan sehari-hari maupun keputusan strategis. Kemampuan mendefinisikan masalah, memilih asumsi yang tepat, merumuskan alternatif tindakan, menetapkan kriteria untuk memilih alternatif yang ”terbaik”, melaksanakan alternatif tindakan, serta memonitor implementasinya, merupakan kecakapan yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan profesional. (e) Lahirnya keyakinan bahwa organisasi hadir untuk melayani dan memberi kepuasan kepada fihak yang harus dilayani (cients). Kepala sekolah,guru dan karyawan hendaknya memiliki kesadaran yang kuat bahwa mereka bekerja disekolah karena ada yang dilayani dan untuk memberi pelayanan. Dalam iklim kerja seperti ini, aktualisasi diri lahir dari kepuasan yang dirasakan dalam melakukan sesuatu yang terbaik bagi client. Hal demikian itu akan melahirkan komitmen yang kuat terhadap sekolah. (f) Globalisasi kehidupan dunia menempatkan organisasi apapun sebagai bagian dari lingkungan yang lebih luas, yang harus berinteraksi dan melaksanakan fungsinya secara tepat. Dalam konteks globalisasi, organisasi apapun harus meningkatkan mutu pelayanan dan mutu produk. (g) Lahirnya organisasi belajar (learning organization). (h) Esensi dari tantangan perkembangan pikiran dan praktik manajemen itu adalah untuk pembentukan budaya jaminan mutu (quality assurance). Orientasi budaya ini menuntut anggota organisasi agar memiliki kesiapan untuk terus belajar memahami konsep-konsep yang dijadikan dasar tindakannya. Akontabilitas para penyelenggara sekolah terletak pada keandalannya dalam membuat putusan-putusan yang tepat dan menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi kepala sekolah,guru dan pegawai yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas sekolah. Sebagai konsekuensinya, para pimpinan perlu menciptakan organisasinya sebagai organisasi belajar (learning organization) di mana para personilnya menjadi pegawai pelajar (learning workers). Dalam situasi ini, pimpinan dan stafnya dibentuk untuk memiliki kepekaan mengenal dan memahami masalah-masalah pekerjaan yang dihadapi sehari-hari dan berusaha untuk memecahkan masalah-masalah itu. Pimpinan menampilkan sikap keterbukaan dan menjadi pendengar yang baik terhadap semua pihak yang menyampaikan pikirannya dalam upaya memahami masalah dan memecahkan masalah-masalah yang ada di organisasinya. Itulah yang disebut budaya learning organization. Apakah Yayasan pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal dan Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia telah cukup tangguh dan memilik kesiapan untuk menjadi ”pemimpin pelajar” dan ”karyawan pelajar” ?

APA ITU MANAJEMEN PENDIDIKAN ?

Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.
Segala sesuatu yang dilakukan memerlukan penanganan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.
Mengingat hal diatas maka manajemen pendidikan bisa dikatan merupakan “jantungnya sekolah,” karena tidak mungkin sekolah merencanakan pembelajaran tanpa memperhitungkan bagaimana cara pengelolaannya, jadi tugas sekolah sebelum memulai perkuliahan semester, mesti melakukan rapat sekolah ; membuat kalender pendidikan versi sekolah, membuat jadwal, menentukan guru, memeriksa media pendidikan, mengatur lingkungan pendidikan, dsb.
Berdasarkan pengertian manajemen diatas sebenarnya semua sekolah unggulan itu terlahir dari para pengelola yang baik, ibaratnya anda membeli kacang di pinggiran pasar dengan membeli kacang di supermarket, yang membedakan kenapa membeli kacang di supermarket lebih mahal daripada membeli kacang di pasar, kalau kacang di pasar dibungkus dengan kertas Koran sementara membeli kacang disupermarket dibungkus dengan bungkus kemasan yang bagus. Kalau dibandingkan semua isi kurikulum di sekolah di wilayah Indonesia itu pasti, pasti ada pengembangan bahasa, kognitif dan lain-lain akan tetapi karena membungkus pengembangan kurikulum dengan pengelolaan yang baik sehingga masyarakat menilai sekolah tersebut sekolah yang unggul; sekolah mengelola penampilan itu dengan baik, menggunakan alat-alat pembelajaran yang mahal-mahal, penampilan para pengajar dengan menggunakan seragam khusus dan berdasi. Nah, manajemen pendidikan salah satunya mempelajari pengelolaan hal-hal seperti itu. Jadi, sekolah itu bagus atau tidak bagus tergantung kepada pengelolanya.
Karena semua yang ada disekolah harus dikelola, maka dalam hal pengelolalannya harus mengacu kepada prinsip-prinsip managemen, nah, menurut JF.Tahelele dan Soekarto (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI : 38) prinsip managemen itu dikenal dengan istilah fungsi-fungsi managemen yang terdiri dari : (1) Planing; (2) Execution; (3) Evaluation.
Sedang menurut Henry Fayol seorang ilmuwan dalam manajemen menyusun buku : “General and Industrial Management” (1916). Ia mengkalsifikasikan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut : (1) Planning (Perencanaan); (2) Organizing (Pengorganisasian); (3) Commanding (Pemberian perintah); (4) Coordinating (Pengkoordinasian); (5) Controling (Pengawasan). (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI : 38)
James M. Liphan dan James A. Hoeh, (dalam buku Pengelolaan Pendidikan UPI ; 45) merumuskan menjadi lima macam pengelolaan sekolah, yaitu :
a. Instructional program (pengelolaan program pembelajaran)
b. Student personal (Pengelolaan anak didik)
c. Staff personal (Pengelolaan staf sekolah)
d. Financial and physical resources (Pengelolaan keuangan, fisik dan perlengkapan)
e. School – Community relationship (pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat)
Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan, maka kami akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan.

Ketika menyusun sebuah perencanaan program pembelajaran (instructional program) hendaknya mengarahkan perencanaan program pembelajarannya itu untuk memenuhi tuntutan filosofi visi dan misi yang dianut dan ditawarkan kepada masyarakat. Namun demikian ada lima (5) hal penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :
a. Ketepatan penyusunan program pengajaran dengan visi dan misi yang hendak dicapai.
b. Ketepatan penyusunan perencanaan pembelajaran berdasarkan kalender Pendidikan Sekolah.
c. Ketelitian penyusunan kurikulum atau sejumlah materi pelajaran yang harus ditempuh anak didik dari awal belajar sampai tujuan akhir pembelajaran.
d. Merencanakan program kegiatan semester, perencanaan program kegiatan mingguan dan perencanaan program kegiatan harian.
e. Melakukan evaluasi dan asessmen dalam merealisasikan tujuan.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.

2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)
Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.
Struktur Organisasi sekolah bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)
Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.

Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan.
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.

3. Fungsi Pengarahan (directing).
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
Dalam manajemen pendidikan, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun personal.
Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan personal, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga personal, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan personal. Di sisi lain pengawasan dalam konsep pendidikan lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai edukasi.

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan adalah keseluruhan proses yang mempergunakan dan mengikutsertakan semua sumber potensi yang tersedia dan yang sesuai baik personal maupun material dalam usaha untuk mencapai bersama suatu tujuan secara efektif dan efisien.
Di bidang pendidikan, Mengingat arti pentingnya manajemen maka manajemen pendidikan bisa dikatan merupakan “jantungnya sekolah,” karena tidak mungkin sekolah merencanakan pembelajaran tanpa memperhitungkan bagaimana cara merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan.
Karena itu setidaknya dirumuskan ada lima macam pengelolaan sekolah yaitu ; (1) Instructional program (pengelolaan program pembelajaran); (2) Student personal (Pengelolaan anak didik); (3) Staff personal (Pengelolaan staf sekolah) ; (4) Financial and physical resources (Pengelolaan keuangan, fisik dan perlengkapan) ; (5) School – Community relationship (pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat).
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan Undang,Drs. Administrasi Sekolah dan Guru Sekolah Dasar, CV.Siger Tengah, Cetakan Pertama, Bandung, 1997.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan FIP-UPI Bandung, Pengelolaan Pendidikan, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2002.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008
Sondang P Siagian, Filsafah Administrasi, CV Masaagung, Jakarta, 1990
Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997
Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Rineka Cipta, 2004.
George R Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2006
Robbin dan Coulter, Manajemen (edisi kedelapan), PT Indeks, Jakarta, 2007
UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003

  1. Agung Rangga
    Januari 9, 2011 pukul 3:40 am

    terima kasih infonya…

    silakan berkunjung…
    http://popnote.wordpress.com

    • Januari 9, 2011 pukul 3:56 am

      terima kasih kembali…saya sedang berkunjung ke blog popnote.terimakasih informasinya….

    • Juni 3, 2011 pukul 1:02 am

      trimakasih kembali, saya sudah berkunjung ke blog anda trimakasih yah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: