Beranda > MANAJEMEN PENGAJARAN > INDONESIA MENUJU PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL

INDONESIA MENUJU PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL

A. Pendahuluan
Jaman yang begitu maju pada saat ini membuat Pendidikan menjadi sangatlah penting, SDM yang kokoh didasari oleh pendidikan yang sangat bagus dan metode yang banyak menghasilkan manusia yang berkualitas dan siap bersaing di pasar dunia. Untuk itu dalam UU Sisdiknas 2003 pemerintah memperkenalkan beberapa format baru lembaga pendidikan formal, yaitu (1) Sekolah Berstandar Internasional; (2) Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI); (3) Sekolah Katagori Mandiri (SKM); dan (4) Sekolah Berstandar Nasional (SBN); satu hal yang patut dicermati bersama Pendidikan yang sekarang lagi in di masyarakat yaitu pendidikan yang berbasis Internasional dimana generasi yang akan datang dipersiapkan untuk mampu bersaing dengan dunia luar atau Internasional, oleh karena itu tantangan pada masa mendatang ialah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor, sektor yang riil dan keunggulan yang baik.

Pendidikan berbasis Internasional akan menghasilkan sebuah hasil yang menguntungkan untuk diri pribadinya dan juga untuk Negara dan kalau gagal menciptakan pendidikan berbasis Internasional maka berarti daya saing SDM kita kurang baik dan tidak dapat bersaing dengan dunia luar di bidang apa pun juga orang Indonesia akan mencari sekolah keluar negeri dan mahal harganya.

Namun demikian, maraknya penyelenggaraan sekolah bertaraf Internasional (SBI) dinilai masih menyisakan konsep yang belum jelas, ketidakjelasan konsep dikhawatirkan memunculkan kesenjangan baru dalam pendidikan kita : “Internasional yang dimaksud seperti apa ? Apakah sekedar. menggunakan bahasa Inggris dalam penyampaian mata pelajaran dan perangkat komputer, lantas dinamakan pendidikan yang dipakai sudah berstandar Internasional ? Di Inggris kan juga menggunakan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak menyebutkan telah bertaraf internasional.”

Awal mula konsep SBI menurut Said , lebih dilatarbelakangi kenyataan sebagian masyarakat Indonesia yang mampu dari segi financial, mereka kerap menyekolahkan anaknya ke luar negeri, nantinya banyak uang yang terserap ke luar negeri, dan itu satu bentuk kerugian bagi Negara kita. Agar tidak terjadi hal itu, perlu dicegah dengan mengeluarkan kebijakan pendidikan SBI. Di sisi lain, Said Hamid Hasan menegaskan penggunaan istilah seharusnya mempunyai konsep yang jelas. Jangan semata-mata menggunakan Bahasa Inggris terus dibilang internasional, Dipesantren Gontor juga menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar, akan tetapi, mereka tidak pernah menyebutkan telah berstandar internasional.

B. Konsep Sekolah Berstandar Internasional (SBI)
Dijelaskan dalam “Pedoman Mutu Sekolah/Madrasah bertaraf Internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tahun 2007”, bahwa Sekolah/Madrasah bertaraf Internasional merupakan Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum internasional”.
Dengan konsep ini, SBI adalah sekolah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar nasional pendidikan yang meliputi : standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Selanjutnya aspek-aspek SNP tersebut diperkaya, diperkuat, dikembangkan, diperdalam, diperluas melalui adaptasi standar pendidikan dari salah satu anggota OECD yaitu ; Australia, Austria, Belgium, Canada, Czech Republik, Denmark, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Ireland, Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New Zealand, Norway, Poland, Portugal, Slovak Republik, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, United Kingdom, United States dan atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan seperti Chile, Estonia, Israel, Russia, Slovania, Singapore,dan Honggkong serta diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.ataupun dapat juga bermitra dengan pusat-pusat pelatihan, industry, lembaga-lembaga tes/sertifikasi minimal internasional seperti misalnya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC,ISO,pusat-pusat studi dan organisasi-organisasi multilateral seperti UNISCO,UNICEF,SEAMEO dan sebagainya yang dengan demikian diharapkan SBI harus mampu memberikan jaminan bahwa baik dalam penyelenggaraaan maupun hasil-hasil pendidikannya lebih tinggi standarnya daripada SNP. Penjaminan ini dapat ditunjukkan kepada masyarakat nasional maupun internasional melalui berbagai strategi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Esensi lain dari konsepsi tentang SBI adalah adanya daya saing pada forum internasional terhadap komponen-komponen pendidikan seperti output/outcomes pendidikan, proses penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input SBI harus memiliki daya saing yang kuat/tinggi. Beberapa ciri esensial dari SBI ditinjau dari komponen pendidikan yang berdaya saing tinggi yaitu: (1) lulusan SBI dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf internasional, baik di dalam maupun di luar negeri, (2) lulusan SBI dapat bekerja pada lembaga-lembaga internasional dan/atau negara-negara lain, dan (3) meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah raga. Proses penyelenggaraan dan pembelajaran dikatakan memiliki daya saing internasional antara lain cirinya telah menerapkan berbagai model pembelajaran yang berstandar internasional, baik yang bersifat pembelajaran teori, eksperimen maupun praktek;
Proses pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan harus bercirikan internasional, yaitu: (1) pro-perubahan yaitu proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, a joy of discovery; (2) menerapkan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan; student centered; reflective learning; active learning; enjoyble dan joyful learning; cooperative learning; quantum learning; learning revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu telah memiliki standar internasional; (3) menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran; (4) proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris khususnya mata pelajaran sains, matematika, dan teknologi; (5) proses penilaian dengan menggunakan model-model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; dan (6) dalam penyelenggaraannnya harus bercirikan utama kepada standar manajemen internasional yaitu mengimplementasikan dan meraih ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000, dan menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri.
Input SBI yang esensial bercirikan internasional antara lain: (a) telah terakreditasi dari badan akreditasi sekolah di salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (b) standar kelulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional, sistem administrasi akademik berbasis TIK, dan muatan mata pelajaran sama dengan muatan mata pelajaran (yang sama) dari sekolah unggul diantara negara anggota OECD atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (c) jumlah guru minimal 20% berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, kepala sekolah minimal berpendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, serta semua guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis TIK; (d) tiap ruang kelas dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran berbasis TIK, perpustakaan dilengkapi sarana digital/berbasis TIK, dan memiliki ruang dan fasilitas multi media; dan (e) menerapkan berbagai model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target indikator kinerja kunci tambahan.

C. Karakteristik Esensial Sekolah Berstandar Internasional
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sekolah yang telah bertaraf internasional harus memiliki keunggulan yang ditunjukkan oleh pengakuan internasional terhadap masukan, proses dan hasil-hasil pendidikan dalam berbagai aspek. Untuk itu pengakraban peserta didik terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan dalam era global perlu digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan SBI. Nilai-nilai progresif tersebut nantinya diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung pada penguasaan disiplin ilmu keras (hard science) dan disiplin ilmu lunak (soft science). Disiplin ilmu keras meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu teknologi yang meliputi teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, bio, energi, dan bahan. Disiplin ilmu lunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa asing (Inggris, utamanya), dan etika global.
Apabila mengacu pada visi pendidikan nasional, maka karakteristik visi SBI adalah ”terwujudnya insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif secara internasional”. Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Maka dari itu misi SBI adalah mewujudkan manusia Indonesia cerdas dan kompetitif secara internasional, yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global. Misi ini direalisasikan melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan SBI yang disusun secara cermat, tepat, futuristik, dan berbasis demand-driven. Penyelenggaraan SBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkelas nasional dan internasional menunjukkan mindset dan pola perilaku yang berbasis kemandirian, bertanggungjawab, kemampuan bekerjasama (kooperatif), kejujuran, toleransi, dan keberanian mengambil resiko atau mempertimbangkan konsekuensi secara logis (risk taking). Lulusan yang berkelas nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan dijabarkan dalam PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan dalam Permendiknas nomor 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta dalam ”Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah”.

D. Realitas Sekolah Berstandar Internasional
Tak ada gading yang tak retak, meskipun masyarakat dapat melihat bahwa SBI maupun RSBI persebarannya tidak hanya terpusat di wilayah DKI Jakarta saja, tetapi telah menyebar ke propinsi-propinsi lain di Indonesia. Akan tetapi, sejumlah catatan perkembangan membanggakan SBI di atas menunjukkan realitas yang berkembang di sebagian besar lembaga pendidikan yang yang telah menyandang predikat SBI/RSBI di Indonesia ternyata masih jauh dari asa, bahkan cenderung merisaukan. Akselerasi lembaga-lembaga pendidikan dalam mengadopsi kurikulum, silabus, dan sistem penilaian dari luar negeri ternyata kurang diimbangi dengan penguatan dan peningkatan kualitas sumber daya kependidikan di sekolah, dalam konteks ini yaitu kepala sekolah, pendidik, wali murid, dan manajemen. Realitanya, mayoritas sumber daya kependidikan di sekolah masih gagap menciptakan sistem kontrol dan akuntabilitas kegiatan akademis dan administrasi keuangan sekolah. Dengan sendirinya, realita ini berujung pada fenomena bahwa percepatan akselerasi perkembangangan SBI tersebut justru menciptakan sederet problematika, cenderung kontraproduktif, dan tanpa arah. William M Boast dan Benjamin Martin (2007) menyebut fenomena ini sebagai pengeliminasian pesan perubahan dalam pendidikan. Pesan perubahan dalam format SBI yang sebelumnya diimplementasikan dalam bentuk perubahan manajemen lembaga pendidikan untuk menjadi lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif, ternyata realitanya telah tereliminasi. Surya Dharma PhD , Direktur Tenaga Kependidikan Depdiknas, mengakui masih banyaknya titik kekurangan dalam akselerasi perkembangan SBI di Indonesia. Surya Dharma menambahkan bahwa dari 260 kepala sekolah SBI yang menjalani tes kemampuan bahasa Inggris (TOEIC), hanya 10% yang memiliki kemampuan memadai, 90 % sisanya masih di bawah tingkat dasar (elementary); di bawah skor 245. Hasil ujian IELTS pendidik yang diproyeksikan dapat mengajar pada kelas rintisan internasional juga menunjukkan kondisi yang sama. Dari 40 peserta yang mengikuti ujian IELTS, kurang dari 20 % yang mampu memperoleh skor antara 4,0 – 4,5, sedangkan sisanya hanya memperoleh skor antara 2,5 – 3,7. Padahal seorang pendidik yang diizinkan mengajar pada kelas rintisan internasional harus memiliki skor minimal 6,5 pada IELTS atau skor 550 pada TOEFL. Lalu bagaimana dengan kompetensi akademis dan pedagogisnya? Beranikah para pendidik di lembaga pendidikan SBI/RSBI mengikuti ujian standarisasinya tanpa ‘paksaan’ dari Dinas Pendidikan?
Melihat kenyataan ini maka kemudian Depdiknas mengendalika akselerasi perkembangan lembaga pendidikan SBI/RSBI. Depdiknas melakukan refleksi terhadap konsep dan pelaksanaan SBI. Depdiknas menyusun roadmap SBI, revisited curriculum framework, mengkaji ulang model-model standar, dan sistem evaluasi, yang telah diterapkan selama ini. Kemudian, juga melibatkan lembaga pendidikan dalam National School Plus (NSP) maupun lembaga pendidikan lainnya yang berpengalaman dalam mengelola program pendidikan internasional (international credentials), tujuannya agar hasil kajian ulang tersebut lebih optimal. Bersamaan dengan itu Depdiknas juga harus mampu menanggalkan rasa kepemilikannya (possessive) pada pendidikan di Indonesia yang cenderung berlebihan dan membangun iklim kerja sama di antara semua stake holder yang terkait (collaborative works). Usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia juga mencakup program pengembangan guru, kepala sekolah, dan manajemen (capacity building), dengan melibatkan seluruh stakeholder pendidikan, secara sistematis, terarah, dan berkesinambungan. Kesadaran akan urgensi pengembangan sumber daya kependidikan secara optimal seyognya dipahami dengan benar oleh setiap pengelola dan pelaksana kebijakan pendidikan, baik di level pusat maupun daerah. Dengan ini, desentralisasi yang menjadi roh gerakan reformasi juga akan menyentuh ranah pendidikan, di mana pemerintah daerah maupun swasta bisa berperan aktif dalam kegiatan pendidikan secara holistik. Efektifitas dan efisiensi fungsi dan peran kepala sekolah juga harus menjadi fokus perhatian bersama, terutama yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran (instructional management) serta monitoring dan evaluasi (monev). Kepala sekolah harus mampu membangun eksistensi sebagai sumber inspirasi bagi guru, siswa, dan manajemen sekolah lainnya. Kepala sekolah juga dituntut untuk mampu memahami karakteristik sumber daya kependidikan yang ada di sekolahnya dan mampu mengembangkan visi bersama sekolah serta mengimplementasikannya. Setiap perubahan pasti akan melahirkan tantangan dan harapan baru. Sejalan dengan konsep penelitian tindakan kelas (PTK), sepenggal siklus yang telah dilalui hendaknya direfleksikan bersama sebagai pijakan dalam menyongsong siklus berikutnya. Sehingga antara asa dan realita SBI kian dapat dipersempit jaraknya.

E. Kesimpulan
Sekolah Berstandar Internasional adalah Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada Development dan atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendiidkan sehingga memiliki daya saing di forum Internasional.
Esensi dari konsepsi tentang SBI adalah adanya daya saing pada forum internasional terhadap komponen-komponen pendidikan seperti output atau outcomes pendidikan, proses penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input SBI harus memiliki daya saing yang kuat. Masing-masing komponen tersebut harus memiliki keunggulan yang diakui secara internasional, yaitu berkualitas internasional dan telah teruji dalam berbagai aspek sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Bukti bahwa telah diakui dan teruji secara internasional dengan sertifikasi minimal dengan berpredikat baik dari salah satu negara anggota OECD, negara maju lainnya atau lembaga internasional yang relevan.
Untuk itu karakteristik peserta didik Sekolah Berstandar Internasional meski akrab terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan dalam era global guna mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung pada penguasaan disiplin ilmu keras (hard science) dan disiplin ilmu lunak (soft science). Disiplin ilmu keras meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu teknologi yang meliputi teknologi komunikasi. transportasi,manufaktur, konstruksi, bio, energi, dan bahan. Disiplin ilmu lunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa asing (Inggris, utamanya), dan etika global.
Namun demikian, tak ada gading yang tak retak, meskipun format-format lembaga pendidikan tersebut jelas memiliki tujuan mulia yaitu meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembaharuan dan atau perubahan mekanisme pengelolaan lembaga pendidikan. Akan tetapi, sosialisasinya dilakukan secara optimal terutama yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran (instructional management) serta monitoring dan evaluasi (monev). ketika sosialisasi ini tidak dilakukan secara optimal maka masyarakat akan terperosok dalam apatisme akut cenderung untuk kurang memahami format, mekanisme, dan tujuan lembaga-lembaga pendidikan SBI tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://adifia.wordpress.com/2009/11/12/konsep-sekolah-bertaraf-internasional-sbi/
http://mhs.blog.ui.ac.id/diat.nurhidayat71/2008/11/22/konsep-sbi-sekolah-bertaraf- internasional-dipertanyakan.
http://uleegle.wordpress.com/2009/12/02/sbi-artara-asa-dan-realita/
Pikiran rakyat, Wacana rintisan sekolah bertaraf Internasional, Selasa 6 Mei 2008.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: