Beranda > KEWARGANEGARAAN > BUJANGGA MANIK 2010 -2011 Daulat Hukum Kesultanan Demak Semua Manusia Sama Derajatnya

BUJANGGA MANIK 2010 -2011 Daulat Hukum Kesultanan Demak Semua Manusia Sama Derajatnya

Bujangga Manik pamitan pada ibunya untuk pergi seorang diri ke arah timur. Dengan menggunakan ikat kepala “saceundungkaen” Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik pangeran kerajaan Sunda dari istana Pakuan (Sekarang Bogor) terpanggil untuk mencari ilmu. Sang Pangeran Berjuluk Bujangga Manik itu mencarinya dengan cara unik : menjelajah pulau Jawa dengan berjalan kaki seorang diri. Menziarahi tempat-tempat suci keagamaan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Menetap pada beberapa perguruan dan menuntut Ilmu. Selama perjalanannya, ia mendapat tempaan langsung dari alam. Baginya, alam berkembang menjadi guru.

Pengelanaannya itu lalu dituangkannya dalam lembaran-lembaran ditulis pada daun nipah di atas 29 lembar daun dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata sebagai suatu catatan perjalanan spiritual. Lontar-lontar Bujangga Manik itu sekarang tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, sejak tahun 1627 atau 1629. Interpretasinya telah disusun oleh J.Noorduyn (1982) dan diterjemahkan oleh Iskandar wassid (1984). Menurut catatan Noorduyn, Bujangga Manik menyebutkan 450 nama tempat, termasuk nama gunung, sungai, dan pulau yang dilalui dan dilihat dari jarak dekat dan jarak jauh. Nama-nama itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, China, bahkan Mekkah dan Madinah nun di jazirah Arab.

Petualangan sang pangeran, sepanjang sejarah menjadi inspirasi anak bangsa untuk melakukan hal yang sama untuk mengenal lebih dekat Nusantara dengan kondisi yang berbeda ; begitulah aku dalam pergantian tahun baru ini (2010-2011) melakukan perjalanan untuk menyelusuri pulau jawa, ; Pagi itu aku tiba di Demak, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Demak dilalui jalan negara (pantura) yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi. Kabupaten Demak mempunyai pantai sepanjang 34,1 Km, terbentang di 13 desa yaitu desa Sriwulan, Bedono, Timbulsloko dan Surodadi (Kecamatan Sayung), kemudian Desa Tambakbulusan Kecamatan Karangtengah, Desa Morodemak, Purworejo dan Desa Betahwalang (Kecamatan Bonang) selanjutnya Desa Wedung, Berahankulon, Berahanwetan, Wedung dan Babalan (Kecamatan Wedung). Sepanjang pantai Demak ditumbuhi vegetasi mangrove seluas sekitar 476 Ha.

Demak menjadi penting dipelajari anak bangsa terutama muslim Indonesia,mengingat Demak merupakan cikal bakal kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Di hadapan Undang-undang Demak “Salokantara” dan “Jugul Muda” yang berlandaskan Islam. menurut budayawan WS Rendra, peraturan negeri pengganti Majapahit itu,semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para wali. Rakyat bukanlah abdi atau kawula sebagaimana di masa berikutnya, rezim Mataram. Sejak abad ke-17, rakyat kembali menjadi abdi, sebab kekuasaan begitu sentralistik. Malah, para raja rela ber-sembah sungkem kepada penjajah londo. Dan, syariat Islam pun hanya dijalankan setengah-setengah hingga kini, ketika para “penguasa” Jawa memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesultanan Demak yang sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo yang terdiri atas sembila orang ulama besar, pendakwah islam paling awal di pulau jawa.

Atas bantuan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu menganut islam seperti Jepara, Tuban dan Gresik, Raden patah sebagai adipati Islam di Demak memutuskan ikatan dengan Majapahit saat itu, Majapahit memang tengah berada dalam kondisi yang sangat lemah. Dengan proklamasi itu, Radeh Patah menyatakan kemandirian Demak dan mengambil gelar Sultan Syah Alam Akbar. Secara beruturut-turut, hanya tiga sultan Demak yang namanya cukup terkenal, Yakni Raden Patah sebagai raja pertama, Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus sebagai raja kedua, dan Sultan Trenggana, saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524 – 1546). Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, yakni perluasan kegiatan dakwah islam ke seluruh Jawa dan pertahanan kerajaan, pengembangan hukum islam,arsitektur bangunan Masjid, penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa),cikal bakal pengembangan corak budaya Islam Nusantara. Serta menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas.

Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Patah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518.

Dalam bidang hukum islam dan bangunan, Raden patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) dengan arsitektur khas yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.

Di antara ketiga raja demak Bintara, Sultan Trenggana lah yang berhasil menghantarkan Kesultanan Demak ke masa jayanya. Pada masa trenggana, daerah kekuasaan demak bintara meliputi seluruh jawa serta sebagian besar pulau-pulau lainnya. Aksi-aksi militer yang dilakukan oleh Trenggana berhasil memperkuat dan memperluas kekuasaan demak. Di tahun 1527, tentara demak menguasai tuban, setahun kemudian menduduki Wonosari (purwodadi, jateng), dan tahun 1529 menguasai Gagelang (madiun sekarang). Daerah taklukan selanjutnya adalah medangkungan (Blora, 1530), Surabaya (1531), Lamongan (1542), wilayah Gunung Penanggungan (1545), serta blambangan, kerajaan hindu terakhir di ujung timur pulau jawa (1546).

Di sebelah barat pulau jawa, kekuatan militer Demak juga merajalela. Pada tahun 1527, Demak merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran (kerajaan Hindu di Jawa Barat), serta menghalau tentara tentara portugis yang akan mendarat di sana. Kemudian, bekerja sama dengan saudagar islam di Banten, Demak bahkan berhasil meruntuhkan Pajajaran. Dengan jatuhnya Pajajaran, demak dapat mengendalikan Selat Sunda. Melangkah lebih jauh, lampung sebagai sumber lada di seberang selat tersebut juga dikuasai dan diislamkan. Perlu diketahui, panglima perang andalan Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggana.

Di timur laut, pengaruh demak juga sampai ke Kesultanan banjar di kalimantan. Calon pengganti Raja Banjar pernah meminta agar sultan Demak mengirimkan tentara, guna menengahi masalah pergantian raja banjar. Calon pewaris mahkota yang didukung oleh rakyat jawa pun masuk islam, dan oleh seorang ulama dari Arab, sang pewaris tahta diberi nama Islam. Selama masa kesultanan Demak, setiap tahun raja Banjar mengirimkan upeti kepada Sultan Demak. Tradisi ini berhenti ketika kekuasaan beralih kepada Raja Pajang.

Di masa jayanya, Sultan Trenggana berkunjung kepada Sunan Gunung Jati. Dari Sunan gunung jati, Trenggana memperoleh gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Gelar Islam seperti itu sebelumnya telah diberikan kepada raden patah, yaitu setelah ia berhasil mengalahkan Majapahit. Trenggana sangat gigih memerangi portugis. Seiring perlawanan Demak terhadap bangsa portugis yang dianggap kafir. Demak sebagai kerajaan islam terkuat pada masanya meneguhkan diri sebagai pusat penyebaran Islam pada abad ke 16. Sultan Trenggana meninggal pada tahn 1546, dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuran. Ia kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Setelah sultan trenggana mengantar Demak ke masa jaya, keturunan sultan tersebut silih berganti berkuasa hingga munculnya kesultanan pajang.

Masjid agung Demak sebagai lambang kekuasaan bercorak Islam adalah sisi tak terpisahkan dari kesultanan Demak Bintara. Kegiatan walisanga yang berpusat di Masjid itu. Di sanalah tempat kesembilan wali bertukar pikiran tentang soal-soal keagamaan. Masjid demak didirikan oleh Walisanga secara bersama-sama. Babad demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala Lawang Trus Gunaning Janma, sedangkan pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri pada tahun 1479.

Masjid Agung Demak dibangun berbaur dengan unsur Hindu, kemudian menjadi wujud–wujud arsitektur masjid di Nusantara. Berbagai kebiasaan yang melengkapi bangunan tradisional daerah, juga menjadi kelengkapan dari masjid – semisal bahan bangunan lokal, atap khas daerah serta faktor posisi yang ada dalam kehidupan daerah. masjid yang dibangun senantiasa menonjolkan unsur–unsur daerah dengan nilai–nilai tradisionalnya. Oleh karena keterikatannya dengan budaya lokal tradisional sangat kuat, masjid dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama, karena itu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid tampil sebagai bangunan yang bercorak tradisional daerah. Masjid Agung Demak, wujud arsitekturalnya merupakan pengembangan bentuk pendopo. Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai ‘saka tatal’Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Secara Budaya, masjid agung Demak menjadi pusat kegiatan Budaya kerajaan islam pertama di jawa. Bagunan ini juga dijadikan markas para wali untuk mengadakan Sekaten. Pada upacara sekaten, dibunyikanlah gamelan dan rebana di depan serambi masjid, sehingga masyarakat berduyun-duyun mengerumuni dan memenuhi depan gapura. Lalu para wali mengadakan semacam pengajian akbar, hingga rakyat pun secara sukarela dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Cepatnya kota demak berkembang menjadi pusat perniagaan dan lalu lintas serta pusat kegiatan pengislaman tidak lepas dari andil masjid Agung Demak. Dari sinilah para wali dan raja dari Kesultanan Demak mengadakan perluasan kekuasaan yang dibarengi oleh kegiatan dakwah islam ke seluruh Jawa. dalam genggaman para wali dan raja kesultanan Demak. Penduduk merasa tenteram dan damai di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah atau Raden Patah. Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya, setelah mengakhiri masa Syiwa-Budha serta animisme. Mereka pun memiliki kepastian hidup, bukan karena wibawa dan perbawa Sang Sultan. Kepastian hidup ada karena disangga daulat hukum. Dan kepastian daulat hukum Kesultanan Demak Bintoro kala itu, berpijak pada syariah Islam.

Sayang memang, Demak hanya bertahan sampai umur 65 tahun. Keberadaannya sebagai kerajaan dengan dasar Islam telah tercatat dalam sejarah. Dipegang-teguhnya syariat Islam sebagai pedoman hidup seluruh isi negeri Demak tak lepas dari perjuangan para ulama. Bahkan, dalam pengelolaan kesultanan, para ulama itu berperan sebagai tim kabinet (kayanakan) sultan. Para ulama itulah yang tiga abad kemudian dikenal dengan sebutan Walisanga, wali sembilan.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Demak

http://waluyo2104.wordpress.com/2010/07/08/raden-fattah/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak

http://ridwanaz.com/islami/sejarah-islam/sejarah-agama-islam-di-indonesia-kerajaan-demak-bintara/

Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.

http://balimuslim.com/artikel-bali-muslim/65-seputar-arsitektur-masjid

http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Demak

 

Kategori:KEWARGANEGARAAN
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: