Beranda > KEWARGANEGARAAN > Sunan Giri Lambang Pemersatu Negara Kesatuan melalui Ilmu dan Pengembangan Pendidikan

Sunan Giri Lambang Pemersatu Negara Kesatuan melalui Ilmu dan Pengembangan Pendidikan

Pendidikan Kewarganegaraan bagi Pendidik Muslim yang paling pokok bagaimana sebagai guru PKn tidak ubahnya seperti guru-guru yang lain yakni menguasai kurikulum PKn dan mulailah menanamkan pokok-pokok Kewarganegaraan dari sana, terutama bagaimana secara professional Guru PKn membuat perencanaan pengajaran PKn, guru yang mengajar tanpa perencanaan maka hidup bagaikan tanpa pedoman, bagaikan berislam tanpa berpedoman pada Al Qur’an maka keislaman orang tersebut adalah keislaman tergantung orang tua atau lingkungan. Tapi, akan berbeda orang yang berislam dengan tulus Ikhlas melangkah berdasarkan pedoman Al Qur’an. Sama juga dengan seorang guru, guru yang mengajarkan berdasarkan kurikulum dan teori-teori keguruan tentu akan berbeda dengan guru yang menyalin buku pelajaran ke papan tulis lalu menyuruh siswa menyalinnya kembali ke buku siswa.

Yang paling pokok inti dari Pendidikan PKn adalah menanamkan harapan pada setiap orang yang hidup di bumi Nusantara, itu sudah ditakdirkan untuk lahir disebuah Negara dimana negar itu bernama Indonesia dengan pulau-pulau yang tersebar, sadari loh anda ini lahir di bumi seperti ini ? yang memiliki kondisi alam dan budaya yang khas kepulauan. Sebuah kesadaran ‘dimana kita berdiri disitu langit di junjung’. Inilah pendidikan dasar dari Kewarganegaraan bahwa setiap orang yang dilahirkan oleh Allah ditugaskan sebagai khalifah fil ardhi Indonesia. Apa yang harus anda lakukan ? sehingga keberadaan anda memiliki arti dan berperan penting bagi kemajuan bumi Nusantara ini. Jadi tidak bisa, anda hidup di Indonesia berperilaku Arab atau berperilaku Eropa, tindakan seperti itu telah menyalahi kodrat yakni berperilaku tidak sesuai dengan dimana bumi di pijak.

Disamping itu Sebagai warga Negara yang memiliki keyakinan spiritual,kita juga menyadari bahwa tuhan yang menciptakan bumi Nusantara ini adalah juga tuhan yang menciptakan Eropa, Amerika juga Arab dan negeri-negeri di muka bumi serta pencipta jagad raya ini, oleh karena itu kita yakin bahwa hukum tuhan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw itu juga kontektual dengan bumi Nusantara ini.

Nah karena itu lah, jauh-jauh hari ketika Islam menyebar di Indonesia , Sukses Islam di Nusantara telah dirintis oleh para wali yang sukses mengislamkan masyarakat Indonesia secara luar biasa, secara terhormat diterima oleh penduduk Nusantara, para wali telah berhasil pertama menciptakan system pemerintahan dengan menciptakan kerajaan-kerajaan islam Indonesia, muncul kerajaan-kerajaan Islam Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, dan Banten, dan sebagian Indonesia itu berkat dari tangan para wali, yang kedua mengIslamkan kebudayaan melalui sunan Kalijaga dengan cerdas tidak secara utuh mengadopsi kebudayaan Arab akan tetapi menciptakan kebudayaan Islam yang khas Indonesia , muncul kesenian wayang, tari topeng Cirebon, itu merupakan karya cipta sunan Kalijaga sampai ke bentuk Masjid, para wali tidak meniru-niru arab para wali itu bisa menciptakan bentuk masjid yang khas Indonesia,

Kalau sekarang muncul ormas-ormas Islam yang anti budaya karya cipta para wali, itu salah besar, perjuangan 200 tahun para wali disia-siakan oleh generasi Islam saat ini dengan tidak menghargai dan enggan melanjutkan perjuangan para wali yang telah dengan cerdas berjuang menciptakan system politik islam khas Nusantara dan budaya Islam Nusantara tapi zaman sekarang ditinggalkan oleh generasi Islam di Nusantara sangatlah tidak bijaksana.

Sebenarnya di Nusantara ini Jauh sebelum Negara Kesatuan Repubublik Indonesia memproklamirkan tentang berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia, dengan wilayahnya yang terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya dan rangkaian pulau-pulau yang disebut Nusantara. secara sejarah jauh sebelum itu banyak tokoh atau kerajaan yang juga berusaha mempersatukan berbagai Negara atau kepulauan Nusantara ini. Hal ini dipahami dengan luar biasa oleh Sunan Giri di abad 15 melalui perjuangan para wali merintis persatuan Nusantara yang jika sebelumnya Sriwijaya dipandang sebagai kerajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi pada abad ke-7. Juga Majapahit dipandang sebagai pemersatu bangsa dengan kekuatan militer dan politiknya, wilayah Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, sekitar tahun 1293 hingga 1500 M maka Sunan Giri melalui Giri Kedatonnya mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan pendidikan Islam.

Oleh karena itu sebagai visi dari pendidikan Kewarganegaraan, kita sebagai umat Islam yang ada di Indonesia terutama sebagai kaum akademisi Islam seharusnya mempelajari konsep Giri Kedaton sunan Giri dan para wali sebagai dasar menjadi orang Islam di Indonesia, Giri kedaton menjadi wajib dipelajari karena konsep giri kedaton adalah seperti yang tertara diatas adalah mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan pendidikan Islam. Giri Kedaton mengandung arti sebagai pikiran, aliran, gerakan, dan usaha mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi zaman Hindu-Budha untuk disesuaikan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Islam.

Akan tetapi saat ini umat Islam diarahkan menghargai wali hanya dilihat dari sisi datang ke kuburannya saja, sementara ilmu dan konsep-konsep institusinya tidak dipelajari oleh umat Islam. Tugas kita sebagai akademisi, biarkan Islam awam kekuburan akan tetapi kita mempelajari konsep mempersatukan Nusantara dengan ilmu dan pengembangan Pendidikan Islam. Karena konsep bagaimana pengembangan Islam yang khas Indonesia itu berada pada “Giri Kedaton” karena semuanya sudah lengkap dengan perjuangan selama 200 tahun.

Umat Islam yang kearab-araban akan sulit diwujudkan di bumi Indonesia demikian juga kebalikannya orang Islam yang merasa paling modern karena dididik oleh Amerika dengan merasa paling liberal, akan tetapi para wali menyebarkan Islam melalui penciptakan tarian, menciptakan makanan, permainan rakyat, lagu-lagu rakyat merupakan Islamisasi local jenius yang jenius.

Universitas Islam di Indonesia seharusnya merupakan kelanjutan dari ‘Modernisasi Giri Kedaton’ karena itu Mahasiswa adalah kader-kader ilmuwan muslim yang berusaha berwawasan keislaman Global tetapi dengan kesadaran wawasan itu diaplikasinya pada konteks lingkungan dimana bumi dipijak, sehingga kerahmatan lil alamin nya membumi. Jika umat islam mengambil jalur politik pun menjadi politik islam khas Indonesia, kalaupun kita berpakaian, berpakaian yang khas Islam ala Indonesia, kopiah khas Islam Indonesia. Dan ketika umat Islam melakukan pembaharuan membangkitkan kembali Islam yang “murni” sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengubah peradaban “Berhala” arab.

Berikut ini paparan bagaimana perjalanan sejarah Giri Kedaton dibentuk ; Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam. Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.

Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari tabib sakti.

Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang resi, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.

Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewi Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.

Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam. tempat dimana Raden Patah juga belajar.

Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.

Syech Maulana Ishak adalah ayah kandung sunan Giri dia adalah seorang ulama’ di Pasai dan Pasai adalah wilayah kerajaan Islam yang tidak bisa di taklukkan oleh kerajaan Majapahit. Maulana Ishak memiliki wawasan dan pengalaman politik yang sangat dibutuhkan oleh Sunan Giri. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.

Sepulang dari Pasai, Sunan Giri langsung menghadap Sunan Ampel, mertuanya. Rupanya ada pembicaraan serius, sehingga beliau tidak menundanya. Pembicaraan tersebut seputar pesan ayahnya untuk mencari tempat yang serupa dengan segenggam tanah yang dibawa dari Pasai. Sunan Ampel memberi do’a restu dan mendukungnya agar pesan itu betul-betul dilaksanakan meski hal itu bukan pekerjaan yang mudah.

Selanjutnya Sunan Giri mempertaruhkan jiwa dan raganya menyusuri tebing serta mendaki gunung-gunung yang ada di Gresik perbukitan Desa Sidomukti, Kebomas, Napak tilas itu diawali dari titik historis, dari wilayah pesisir kota hingga ke arah pantai utara (pantura). Lama belum kelihatan hasilnya, tiba-tiba duka menghadangnya. Sunan Ampel wafat, bertepatan dengan tahun 1475 Masehi.

Setelah kepergian Sunan Ampel, pencarian itu masih berlangsung. Sunan Giri mengamati posisi sebuah puncak gunung di bagian paling timur arah selatan kota Gresik. Beberapa hari lamanya ia melakukan ritual di puncak gunung itu. Tak sampai empat puluh hari, beliau harus mengurungkan niatnya. Ibu asuhnya Nyai Ageng Pinatih, sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian gunung itu disebut gunung Wurung.

Setahun kemudian, napak tilas itu sudah melalui gunung Wurung. Kemudian Sunan Giri mendaki sebuah puncak gunung. Disitu ia membuat musholla (langgar) menyerupai padepokan bersama Syech Grigis dan Syech Koja serta santri-santrinya. Sunan Giri bahkan ikut menukangi pembuatan langgar itu. Lantas gunung tersebut, disebut gunung Petukangan. Di gunung petukangan itu Sunan Giri lebih tekun dan lebih khusyuk beribadah. Bahkan ia seolah-olah telah membuka kehidupan baru (Ihyaul mawal). Namun setahun kemudian Sunan Giri bergeser ke bukit Landai di selatan gunung Petukangan. Beliau bermunajat pada tengah malam di bukit itu dan melakukan tirakatan empat puluh hari.

Pada puncak malam ke empat puluh, dalam sholat tahajud Sunan Giri melihat sorot cahaya berkilau di arah barat. Kemudian Sunan Giri berusaha melacak asal cahaya itu. Ternyata posisi cahaya itu beliau temukan di sebuah puncak diantara gunung Petukangan dan Sumber. Tanahnya serupa dengan segenggam tanah yang beliau bawa dari negeri Pasai.

Proses pencarian berhasil. Sunan Giri mulai mewujudkan cita-citanya. Adapun puncak dimana Sunan Giri melihat cahaya, lalu menduga (mbatang) bahwa cahaya itu adalah ilham atau petunjuk dari Allah SWT (Tuhan), maka puncak itu disebut Gunung Batang. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.

Pesantren Giri adalah institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara.Pesantren ‘Giri Kedaton’ tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama, namun juga sebagai pusat pengembangan pendidikan kekuatan politik Islam. Sehingga pertumbuhannya membuat raja majapahit hingga kemudian Majapahit memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan dibawah Majapahit yang disebut Giri Kedaton. kedaton (istana) tujuh tingkat (tundha pitu) disebuah bukit (Giri), yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton. Pembangunan kedaton berlangsung pada tahun 1408 Saka/1486 M, Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. (1409 Saka/1487 M)

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Giri Kedaton adalah simbol institusi penting penyebaran Intelektual muslim di Nusantara karena sebelum kemunculan Giri Kedaton, Islam di Nusantara belum mengalami perkembangan yang pesat seperti zaman Giri Kedaton. Sunan Giri dengan tepat meramalkan munculnya Mataram, dan menyebarkan Islam ke Lombok, Sulawesi, dan Maluku. Salah satu peranan pentingnya adalah dalam mengkader raja-raja Kerajaan Islam di Jawa, juga terbentuknya peradaban baru mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan secara luas serta dakwah secara langsung, membuat Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur”.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat pesantren politik Islam yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Bahkan Sejak itu posisi Giri Kedaton hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara.

Misalnya, Sunan Prapen sebagai pemimpin Giri Kedaton tahun 1548–1605 dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya raja Pajang. Ia juga menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya dengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur sepakat mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Runtuhnya Pengaruh Giri Kedaton.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun, runtuhnya pengaruh Giri Kedaton diakibatkan kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Berawal dari Deklarasi kerajaan Mataram (1575-1601) oleh Sutowijoyo dengan gelar “panembahan senapati ing nglaga sayidin panatagama kalipatullah ing tanah Jawi“ dan sekaligus menandai berdirinya dinasti Keraton Mataram. Juga menandai berakhirnya model penyebaran Islam konsep dewan Walisongo, dimana Mufti yang memisahkan kekuasaan agama dan Raja Islam yang memegang pemerintahan, berganti dengan dinasti Mataram yang meleburkan penguasa keagamaan dan politik berada pada satu orang yakni Sultan Agung.

Kerajaan Mataram pada mulanya hanyalah sebuah kerajaan kecil dan berpusat di kota Gede dekat Jogyakarta. Semula oleh Adiwijaya Raja Pajang, wilayah Mataram ini di berikan pada Ki Gede Pamanahan. Ternyata kemudian Mataram bisa berkembang se-demikian pesatnya.

Sejak awal Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung menghendaki agar Giri Kedaton tunduk sebagai daerah bawahan. Pada tahun 1630 Giri Kedaton di bawah pimpinan Sunan Kawis Guwa menolak kekuasan Mataram. Tidak seorang pun perwira Mataram yang berani menghadapi Giri. Rupanya mereka masih takut akan kekeramatan Walisongo.

Sultan Agung pun menunjuk iparnya, yaitu Pangeran Pekik putra Jayalengkara dari Surabaya untuk menghadapi Giri. Semangat pasukan Mataram bangkit karena Pangeran Pekik merupakan keturunan Sunan Ampel, sementara Sunan Kawis Guwa adalah keturunan Sunan Giri I, di mana Sunan Giri I adalah murid Sunan Ampel. Perang akhirnya dimenangkan oleh pihak Mataram di mana Giri Kedaton takluk sekitar tahun 1636. Sunan Kawis Guwa dipersilakan untuk tetap memimpin Giri dengan syarat harus tunduk kepada Mataram. Sejak saat itu wibawa Giri Kedaton pun memudar. Pengganti Sunan Kawis Guwa tidak lagi bergelar Sunan Giri, melainkan bergelar Panembahan Ageng Giri. Gelar Panembahan dan Giri mempengaruhi penguasa Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat ketika memeluk Islam menggunakan gelar Panembahan Giri Kusuma.

Giri Kedaton yang sudah menjadi bawahan Mataram kemudian mendukung pemberontakan Trunojoyo dari Madura terhadap pemerintahan Amangkurat I putra Sultan Agung. Panembahan Ageng Giri aktif mencari dukungan untuk memperkuat barisan pemberontak. Puncak pemberontakan terjadi tahun 1677 di mana Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan. Amangkurat I sendiri tewas dalam pelarian. Putranya yang bergelar Amangkurat II bersekutu dengan VOC melancarkan aksi pembalasan.

Amangkurat II yang menjadi raja tanpa takhta berhasil menghancurkan pemberontakan Trunojoyo akhir tahun 1679. Sekutu Trunojoyo yang bertahan paling akhir adalah Giri Kedaton. Pada bulan April 1680 serangan besar-besaran terhadap Giri dilancarkan oleh VOC–Belanda. Murid andalan Giri yang menjadi panglima para santri bernama Pangeran Singosari gugur dalam peperangan. Sunan Amangkurat II telah berhasil membunuh dan membantai 6000 orang ulama’,Panembahan Ageng Giri ditangkap dan dihukum mati menggunakan cambuk. Tidak hanya itu, anggota keluarganya juga dimusnahkan. Sejak saat itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton.

Dengan sangat lihai kemudian pihak kompeni Belanda memanfaatkan momen tersebut dengan peran politik benturkan. Runtuhnya dan bergesernya peran Giri kedaton hingga terbenturnya antar peradaban, lantas munculnya peradaban pecah belah (devide et impera) atau peradaban adu domba dalam hal ini di perankan penuh oleh penjajah Belanda. Dengan saling membenturkan kekuatan-kekuatan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dengan Kerajaan Mataram. Belanda kemudian satu persatu menaklukkan kerajaan Islam dan menaklukkan wilayah-wilayah Nusantara.

Kini jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya sekaligus Menandai berakhirnya era penyebaran agama Islam versi dewan walisongo.

Daftar Pustaka :
http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit
http://misikcobra.wen.ru/walisongo/giri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Giri
http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/32297-kisah-sunan-giri-dan-pengembaraannya-ke-samudra-pasai.html
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://sunatullah.com/wali-songo/sunan-giri.html
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://www.psb-psma.org/content/blog/kelahiran-giri-kedaton-1487-m
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.gimonca.com/sejarah/walisongo.shtml&ei=-ZkPTZLoBcH3rQfhvYC8Cw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CCIQ7gEwAjgK&prev=/search%3Fq%3DWali%2Bsongo%26start%3D10%26hl%3Did%26sa%3DN%26prmd%3Divnslb
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/walisongo.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://sunatullah.com/wali-songo/sunan-giri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton
http://pangeran-alit.blogspot.com/2007/12/peran-giri-kedaton.html

Kategori:KEWARGANEGARAAN
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: