Beranda > PERMAINAN & LEGENDA PANCASILA > Andaikan Aku Garuda (Istana Mutiara Katulistiwa)

Andaikan Aku Garuda (Istana Mutiara Katulistiwa)

Kisah Pertama

Oleh : Heri Hidayat

Andaikan aku Garuda,

dari angkasa raya

mataku kan senantiasa mengawasi Nusantara

Dalam jiwaku

bergemuruh indah Samudra Nusantara

dari lautnya yang biru
Memancar sinar mutiara katulistiwa

Aku rentangkan kedua sayapku
Di hampar biru langit Katulistiwa
Melukis sebuah Angan baru
dikehidupan jajaran pulau-pulau.

Suatu malam yang gelap gulita, tidak satu makhlukpun yang tampak. Kecuali satu mata Garuda yang sedang mengawasi suasana kehidupan setiap pulau Nusantara, seekor burung Garuda yang sangat besar, buas dan liar yang sedang mengelilingi Bumi, bayangan kedua sayapnya merentang diantara cahaya sinar rembulan melintasi pepohonan dan padi-padi yang menguning serta disetiap aliran sungai yang terbentang….garuda itu tak terlihat wujudnya, karena konon menurut legenda yang beredar di masyarakat, bahwa dulu kepulauan Nusantara ini sebelum dihuni oleh manusia, terlebih dahulu dihuni oleh roh-roh dari kahyangan yang tak bisa mati, roh-roh itu hidup abadi ….hingga pada suatu hari roh kahyangan itu menikah dengan manusia, barulah keturunannya bisa mati…..konon, keturunan pertama pernikahan roh dan manusia inilah yang merupakan cikal bakal manusia-manusia penghuni Nusantara….tidak hanya itu, menurut legenda yang beredar dimasyarakat, cikal bakal manusia pertama yang merupakan perkawinan roh dan manusia, saat kematiannya berubah menjadi seekor burung Garuda yang bersemayam di Istana Mutiara Katulistiwa yang letaknya antara langit dan bumi. Setiap saat garuda melindungi Nusantara, dimana manusia biasa tak bisa melihatnya, namun bisa mendengar suara dan melihat bayangannya saja….itulah legenda masyarakat tentang keyakinan bahwa nenek moyang mereka yang berubah menjadi burung garuda yang tak terlihat namun sewaktu-waktu mereka dapat mendengar suara dan melihat bayangannya di bumi…

Keyakinan masyarakat Nusantara bahwa mereka dilindungi oleh roh nenek moyang dalam bentuk garuda inilah, menjadikan burung Garuda dengan rentangan kedua sayap dan cengkraman kakinya memegang pitasutra bertuliskan Bhineka Tunggal Ika dijadikan lambang Negara oleh para pendiri bangsa ini…legenda terus berkembang dari generasi ke generasi anak bangsa, hal ini mungkin saja terjadi karena bumbu-bumbu cerita dimasyarakat atau memang ada masyarakat tertentu yang mengalami…kini cerita legenda berkembang itu hidup lagi menyesuaikan dengan kondisi masyarakat penghuni Nusantara yang semakin maju…katanya, suatu waktu Nusantara ini akan menghadapi prahara yang besar, prahara itu akan menghancurkan pulau-pulau yang tersebar luas di Nusantara ini, bahkan lautanpun akan meninggi hingga satu persatu menenggelamkan pulau-pulau….menurut cerita orang tua-orang tua terdahulu, yang diyakini sebagian masyarakat…prahara ini dikarenakan Nusantara akan dipimpin oleh Siluman yang menjelma menjadi manusia….

Ceritanya, ini menurut sebagian orang tua-orang tua terdahulu, Melihat kedamaian Kerajaan Nusantara rupanya membuat Kerajaan Alam Siluman menjadi tidak senang….Alkisah, salah satu anak dari kerajaan Siluman ini bernama Samum, entah mengapa suatu hari mengungkapkan permintaan pada ayahnya sang raja Siluman, bahwa dirinya ingin merubah wujud menjadi manusia dengan hidup normal di alam manusia, intinya dia tidak mau menjadi Siluman, ayahnya bertanya ; “mengapa engkau ingin menjadi manusia anakku ?”. “Ayah…” kata Samum, “ sebagai keturunan Raja Siluman ! aku tidak ingin lagi menggoda manusia dengan berbisik-bisik didalam dada manusia…aku ingin tunjukkan bahwa akulah Siluman yang dicatat dalam sejarah menyesatkan manusia secara langsung dialam manusia ! Sudah menjadi komitmenku akan senantiasa menggoda manusia agar sesat” “hm…” kalau begitu keinginanmu,” kata sang raja Siluman terseyum penuh kebanggaan, “aku akan perkenankan engkau untuk menemui Maharaja Siluman, nenek moyang para Siluman yang pernah menggoda manusia suci pertama, juga dipenuhi permohonannya oleh sang Maha Pencipta untuk hidup abadi sampai akhir zaman…” “Kenapa aku harus menemui Maharaja Siluman ?’ kata Samum. Raja Siluman berkata, “Anakku…sebab merekalah yang bisa memenuhi keinginanmu untuk menjelma berwujud manusia, maharaja Siluman tahu bagaimana caranya merubah wujud siluman kita ini menjadi manusia.” “baiklah ayah, kalau begitu, sekarang juga aku pamit akan pergi menghadap Maharaja Siluman…..”

Saat menghadap maharaja Siluman, Samum mengungkapkan keinginannya untuk dapat berubah wujud menjadi manusia normal, karena dia tidak ingin lagi menggoda manusia secara bisik-bisik tapi menyesatkan manusia secara Gentlemen… tentu saja keinginan Samum ini disambut baik oleh Maharaja Siluman, tapi maharaja Siluman mau memenuhi keinginan Samum mengubah dirinya menjadi manusia dengan satu resiko besar…..”apa itu wahai Maharaja,” kata Samum, “resikonya, bila engkau gagal menyesatkan manusia, maka keabadianmu sebagai Siluman akan hilang, dan seperti manusia, kamu bisa mati….” Jawab Maharaja Siluman. “apa kamu siap dengan resiko ini ?” kata maharaja Siluman kembali.

Mendengar resiko besar dari perubahan wujud menjadi manusia, anak raja siluman ini sejenak terdiam dan menghela napas panjang…..”heh………….ah…..” namun tidak berlangsung lama, dengan mantap dan tekad bulat Samum berkata, “ maharaja, aku sudah bertekad untuk menyesatkan manusia dengan merubah wujud menjadi manusia, karena itu aku siap menghadapi resikonya…….”

Kemudian Maharaja Siluman itu berkata,”baiklah !”,kata Maharaja Siluman,”Pertama, Pergilah kamu ke dasar lautan Samudra Hindia, temukan satu ikan orange roughy (Hoplostethus atlanticus) Ikan itu berdaging lembut berukuran 50 sentimeter yang berusia jutaan tahun, yang dengan memakan ikan ini maka akan terbentuk kulit manusia paling indah lalu makanlah ikan tuna, mutiara, rumput laut, dan udang sebanyak-banyaknya sehingga tubuhmu secara perlahan akan terbentuk menjadi perwujudan tubuh manusia yang paling sempurna…”

Kedua, bila kamu sudah berwujud manusia, ketika didaratan buatlah ramuan campuran dari cengkeh, coklat, kelapa, kelapa sawit, kopi, pala, teh dan tembakau, untuk menumbuhkan kekuatan badanmu….”

”Ketiga, bila badanmu sudah kuat, Buatlah senjata hasil campuran aspal, Batubara, Batu granit, Bauksit, Emas, Perak, Intan, Kaolin, Mangan, Marmer, Nikel, Tembaga, Timah, Gas alam. Bila kamu menemukannya olah menjadi satu senjata dan gunakan senjata itu untuk menghancurkan sebuah candi bernama candi Garuda.”

”Kalau kamu bisa menghancurkan candi itu, maka semua manusia dapat bertekuk lutut tunduk dihadapanmu. Maka kamu bisa memerintah manusia sesukamu….” ”Sekarang berangkatlah, !” kata Maharaja Siluman memerintah Samum.

Kembali lagi kepada ramalan akan datangnya prahara besar di Nusantara yang ditimbulkan oleh datangnya jelmaan Siluman yang akan memimpin Nusantara dengan berubah wujud menjadi manusia…sekali lagi, berita ini merupakan perkembangan dari legenda burung Garuda…Bahwa katanya, yang sanggup menghadapi manusia jelmaan Siluman ini, adalah seorang manusia yang merupakan jelmaan ratu adil. Manusia jelmaan ratu adil ini rohnya masih bersih sehingga karena rohnya masih bersih dia bisa menyatu dengan roh burung Garuda yang terbang tak terlihat…penyatuan roh burung Garuda dan manusia jelmaan ratu adil kelak mampu menjadi superheroik Nusantara melawan segala daya upaya kejahatan Samum untuk menghancurkan Nusantara ini.

Masyarakat Nusantara sepanjang generasi bertanya-tanya siapa dan kapan manusia jelmaan ratu adil itu akan muncul, sebab bila melihat tanda-tanda dimana pohon-pohon sudah ditebangi dan menimbulkan hutan rusak disana sini, gunung-gunung digunduli, udara di Nusantara semakin hari semakin panas, kejahatan disana sini ; kejahatan dilautan, di daratan dan di udara….kepulauan-kepulauan di Nusantara dirusak oleh tangan-tangan Siluman….ancaman perpecahan pulau-pulau terus menggelinding bagai bola salju…..masyarakat sepanjang generasi bertanya-tanya mengapa ratu adil belum juga muncul…

Pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang siapa dan kapan ratu adil akan muncul, semakin mengkristal dan melegenda kuat, sehingga fantasi dan imajinasi ikut terlibat dalam legenda yang beredar, cerita pun dikarang-karang, ada orang yang mengaku sebagai titisan sang proklamator, ada yang mengaku sang nabi, dan macam-macam orang mengekspresikan diri sebagai penyelamat bangsa dengan gaya meyakinkan berbeda-beda agar dipercaya masyarakat….termasuk salah satunya kisah fantasi yang akhirnya mau tidak mau dipercaya oleh sebagian masyarakat Nusantara.

Ceritanya, pada zaman dahulu disalah satu kepulauan Nusantara, yang sekarang dikenal dengan pulau Jawa…Tumbuh seorang pemuda bernama Nusa yang sedang menuntut ilmu, kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung, karena banyak bergaul dengan aktivis-aktivis, menjadikan Nusa seorang yang aktif. Nusa berinteraksi dengan pemimpin-pemimpin organisasi kampus dan kemasyarakatan, Kepandaiannya bicara menjadikan sosok Nusa mempunyai banyak relasi, selain itu juga Nusa pandai memikat hati perempuan. Namun siapa sangka, pemuda inilah yang kelak akan menjadi sang ratu adil sebagai superheroik dan patriotik Nusantara….

Ya, begitulah kisah ini dimulai, suatu hari Nusa mengisi liburan kuliah kerumah kakeknya di jawa Timur. Semasa kecilnya, Nusa dibesarkan oleh kakeknya di Jawa Timur terletak jauh dipedesaan, Nusa hidup berbahagia bersama kakeknya, kakek sangat menyayangi Nusa… Nusa pun tumbuh menjadi remaja yang mempunyai potensi menjadi seorang luar biasa. Hari-hari mengisi liburan di rumah kakeknya, Nusa berpetualang pergi ke Candi Garuda yang berada tidak jauh dari desanya… dan sesampainya disana, Nusa memperhatikan satu arca garuda yang menarik perhatiannya, dari atas kepala arca Garuda itu terlihat sinar yang memancar… beberapa saat Nusa berdiri memperhatikan sinar tersebut….secara perlahan Nusa menghampiri arca garuda kemudian reflek tangannya menyentuh kepala Garuda yang memancarkan sinar terang dan terjadilah keajaiban luar biasa…..sentuhan tangan Nusa membuat sinar itu semakin terang hingga menyilaukan mata Nusa sendiri, semakin lama cahaya terang itu semakin membesar, memancar keluar ruangan candi, bercahaya hingga keseluruh bumi…tanpa disadari, cahaya yang memancar dari atas kepala arca garuda itulah yang menghubungkan roh Garuda penjaga Nusantara yang ghaib dengan manusia yang dikehendaki, yakni seorang mahasiswa yang berjiwa ksatrian sebagai sosok pemuda yang terpilih….Nusa pun tersontak kaget, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin…melihat cahaya terang yang membesar spontan memejamkan mata tak kuat melihat cahaya menyoroti wajah, jari tangannya yang menyentuh kepala arca burung Garuda terasa bagaikan disengat panas yang luar biasa…Nusa berteriak keras lalu sontak jatuh pingsan…..

Nusa kembali sadar setelah beberapa petugas candi membantu dan mengistirahatkanya di salah satu ruangan kantor….setelah siuman ia segera pergi meninggalkan candi Garuda dengan mengucapkan terimakasih kepada petugas candi yang telah menolongnya…Nusa bergegas pulang ke rumah kakeknya…ia pun rebahan pada bale-bale papan rumah kakeknya hingga terlelap tidur mungkin karena kecapaian…..saat tertidur itulah sang takdir menemuinya kembali dalam mimpi……

Dalam mimpinya, Nusa didatangi Dewi Sri sang Dewi Padi yang melegenda di Nusantara, Dewi Padi tampil sebagai dewi yang anggun sambil membawa seikat padi dan pitasutra. Dewi Padi itu berkata kepada Nusa, “ Nusa suatu saat kamu akan menjadi superheroik dan patriotik yang melindungi Nusantara ini dari prahara besar yang ditimbulkan oleh Siluman yang berubah wujud menjadi manusia bernama Samum, maka dari itu pelajarilah segala sesuatu yang bermanfaat bagi negerimu, takdirmu bersama roh garuda dicandi, pergilah ke pulau-pulau besar dinusantara bersamanya, temukan delapan kawan dan lima senjata sakti untuk menghadapi musuh besarmu itu….” Setelah Dewi Padi berwasiat, Nusa pun terbangun, dihadapannya telah berdiri kakeknya dengan senyuman kasih sayang yang khas, mengodorkan makanan khas Jawa Timur kesukaan Nusa sejak kecil.

Kesokan harinya Nusa penasaran untuk kembali lagi ke candi garuda, ia berdiri memandang sebuah arca garuda yang bernilai sejarah tinggi, kemudian Nusa mengelilingi candi garuda kecil itu…diperhatikannya serpihan-serpihan bangunan candi yang berserakan disana sini tidak terurus…Candi Garuda terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Kaki candi nampak agak tinggi dengan tangga masuk keatas kecil-kecil seolah-olah bukan tangga masuk sesungguhnya. Ukuran tubuh candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi, sehingga menekankan kesan ramping. Atap candi terdiri atas tiga bagian dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna atau stupa. Masing-masing lapisan disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan . Konon katanya tiap pojok lapisan atap candi dulu tempat berlian yang sudah lama sekali hilang…arca garuda yang berada ditengah ruangan candi yang kini sedang diperhatikannya kembali oleh Nusa….Nusa mencoba mencari hubungan antara pingsannya karena memegang arca itu dengan wasiat Dewi Padi dalam impiannya….Bisikan hatinya menyuruh kembali menyentuh sinar terang yang memancar di kepala arca Garuda itu lagi, secara perlahan ia menggerakkan tangannya untuk meyakinkan bahwa ia pingsan bukan karena memegang arca itu….Namun apa yang terjadi… saat kembali tangan Nusa menyentuh arca garuda, karena ia adalah sang takdir ratu adil, maka sengatan cahaya panas dan keringat dingin itu pun dirasakannya kembali, namun kali ini berbeda… Nusa sama sekali tidak mampu berteriak, seperti terkena “eureup-eureup” yang pernah dialami di kost-annya di Bandung….Sila berdiri kaku memegang patung arca garuda tersebut….tidak lama kemudian entah darimana sosok Dewi Padi telah berdiri kembali dihadapannya meminta Nusa menjalankan wasiatnya…Dewi Padi berjanji untuk membantu memepertemukan roh garuda serta melindungi perjalanan Nusa dalam mencari delapan kawan dan lima senjata sakti di pulau-pulau besar di Nusantara dengan memberikan Pitasutra pelindung…. Setelah itu Dewi padi menghilang….. kini Nusa tertegun sendiri sambil memegang pitasutra pelindung pemberian Dewi Padi, ….”Aku dua kali mengalami ini…” ucap Nusa lirih bicara sendiri, “ apakah yang dikatakan Dewi Padi itu harus kulakukan ? “ Panca bertanya pada dirinya sendiri sambil memandangi pitasutra pelindung ditangannya….”tak bisa kulupan wasiat Dewi Padi itu…aku akan terus mempelajari setiap hal yang berhubungan dengan negeri ini, karena dengan mengenalnya maka akan bisa menjaga Nusantara ini….dan semakin banyak mendatangi pelosok-pelosok pulau-pulau di Nusantara akan semakin banyak pula hal yang akan aku ketahui, jadi apa salahnya jika aku jalankan wasiat Dewi Padi…

Baru saja mengucapkan kalimat terakhirnya…sinar terang dikepala arca garuda tiba-tiba menarik selendang Dewi Padi, Nusa pun tertarik hingga masuk kedalam alam cahaya yang sangat luas……. Nusa melayang-layang dialam cahaya, kakinya tidak menapak, disekelingnya terhampar cahaya yang tanpa batas…… Tiba-tiba….Nusa melihat Burung Garuda yang sangat besar, buas dan liar sedang menuju kearahnya……Nusa yang berdiri melayang-layang di udara tertegun kaku tak tahu apa yang harus dilakukannya. Burung garuda itu dengan gagahnya meliuk-liukkan tubuhnya naik keudara, berputar-putar diatas kepala Nusa, lalu menukik ke arah Nusa, merentangkan cakar kakinya, sekejap Nusa pun sudah berada duduk dipunggung Burung Garuda besar, Nusa dibawanya menuju kerajaan terbesar alam roh Garuda…Burung Garuda itu meleset di udara melintasi hamparan luas awan-awan putih yang bertebaran di angkasa raya… terus melesat cepat menuju satu gumpalan awan yang sangat putih… sesampainya di salah satu gumpalan awan putih yang merupakan pintu masuk istana, Garuda itu berteriak keras membahana membuat gumpalan awan putih yang merupakan pintu masuk terbuka lebar lalu masuk kedalam gumpalan awan putih…kini Nusa melihat negeri cahaya…Burung garuda yang membawa Nusa berhenti dipintu masuk ruang istana…”Nusa selamat kembali ke rumahmu !” kata Garuda bicaranya membahana. ”Kamu berada kembali di Istana Mutiara Katulistiwa”. Kemudian Nusa disuruh turun dan berjalan…Nusa berjalan diatas hamparan karpet awan pelangi disamping kiri dan kanannya berjatuhan rintik-rintik hujan warna-warni terkena cahaya pelangi bagaikan mutiara katulistiwa yang indah…

Nusa sampai kehadapan singgasana Katulistiwa yang sangat megah, diatas singgasana Katulistiwa roh burung garuda yang tadi membawanya entah bagaimana sudah duduk di atas singgasana, sangat besar dengan rentangan kedua sayapnya yang lebar…. ”Nusa sudah lama sekali kita tidak bertemu, sewaktu kecil di alam roh, kamu tidak pernah mau jauh dariku, kamu selalu mengajak aku bermain dan bila lelah kamu terlelap tidur diatas pundakku…” ”Jadi aku mengenal tempat ini ?” tanya Nusa pada Garuda. Garuda itu menjawab dengan senyuman lalu berkata… ”Perhatikan cermin yang menempel di dinding itu !” Garuda meminta Nusa memperhatikan sebuah cermin besar yang berada diantara dinding istana Mutiara Katulistiwa. Nusa pun mengarahkan matanya ke cermin, dari dalam cermin muncul gumpalan awan putih dan dari sela-selanya keluar cahaya yang dikuti sembilan anak kecil yang sedang bermain. Sebuah permainan yang sangat tidak asing bagi Nusa, ”Permainan Garudaye” sambil anak-anak dalam cermin itu duduk diatas punggung garuda dengan cerianya…….

Nusa memperhatikan sembilan wajah anak yang bermain ’garudaye’ diatas punggung Burung Garuda besar yang sekarang juga duduk disinggasana Katulistiwa, kemudian mata Nusa tertuju kepada satu anak yang memimpin permainan itu, bagi Nusa, wajah itu tidak asing karena itu adalah sosok dirinya sewaktu kecil…..Nusa sangat mengenal wajahnya sewaktu kcil karena kakek yang mengasuhnya sering memperlihatkan album-album foto Nusa sewaktu kecil bersama orang tuanya…….

”Sebelum kamu terlahir kedunia, dikehidupanmu yang lain kamu tinggal bersamaku di alam roh istana Mutiara Katulistiwa ini bersama teman-temanmu, kamu tidak pernah bosan selalu mengajak permainan Garudaye itu……” kata Burung Garuda sambil menghentikan gambaran Nusa dalam cermin. Nusa kembali menghadap burung garuda berusaha untuk mengingatnya tetapi memori Nusa sama sekali tak bisa mengingatkannya pada saat di alam roh Istana Mutiara Katulistiwa.

”Sekarang ikutlah aku ketaman istana Mutiara Khatulistiwa ini,” Garuda membawa Nusa ke sebuah taman yang besar dan indah sekali semuanya serba cahaya dan warna pelangi. Sesampainya di taman Nusa berdiri diatas rumput yang sangat halus sekali, ”Bukankah yang kuinjak ini adalah rumput laut ?” tanya Nusa. ”Betul !” Kata Garuda. ”Istana Mutiara Katulistiwa ini, adalah replika dari Nusantara masa lalu.” Burung Garuda melanjutkan kisahnya, “dahulu Nusantara adalah surga Dewa yang ditelan lautan, pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu, teknologi, dan lain-lainnya. Pulau-pulau Nusantara merupakan bagian benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia yang sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Namun kemudian benua itu hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus.

Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es era Pleistocene. Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia dulu itu, Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.” Nusa terdiam mendengarkan dongeng Garuda, dalam hatinya bertanya-tanya “bukankah itu hanyalah sekedar mitos.”

Tanpa disadari ternyata gumaman hati Nusa didengar oleh Garuda, Gaurda itu tersenyum lalu berkata, “naiklah ke punggungku aku akan ajak kelilingi Istana Mutiara Katulistiwa ini,” Kata Garuda. Kemudian Nusa kembali menaiki pundak garuda itu. Yang segera membawanya berkeliling Negeri Mutiara Katulistiwa yang memang luar biasa Indahnya. Nusa mengisap udara dan merasakan udara pegunungan yang sejuk, tiba-tiba Garuda mendekati sebuah pohon dengan buah yang lebat sekali,”Ambillah !” kata Garuda meyuruh Nusa. Nusa pun mengambil satu buah yang setelah dimakan rasa buah itu enak sekali. “Sekarang lemparkan bijinya ke tanah !” Pinta Garuda sambil melayang-layang di udara. Sungguh ajaib tanah Istana Mutiara khatulistiwa adalah tanah yang subur sehingga di mana jika menanam apapun akan tumbuh di sana dengan cepatnya,”Itu adalah tanah yang kuambil dari surga Dewa yang ditelan lautan itu.” Garuda kemudian melanjutkan terbangnya melintasi bukit-bukit yang menghadap ke lautan tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. dari atas pundak Garuda Nusa melihat banyaknya gajah-gajah yang berkeliaran dibukit-bukit itu seperti gajah-gajah Sumatra, yang lebih menakjubkan Nusa, di hutan-hutan yang lebat dan gunung-gunung yang menghadap lautan itu berdiri Kuil-kuil yang dilapisi dari emas dan perak, dengan lantai bertahtakan orichalcon (Batu yang harganya hanya kalah dari emas).

Garuda terus terbang membawa Nusa turun kesalah satu kuil Candi Garuda, “Kamu mengenal Kuil ini ?” Kata Garuda sambil menurunkan Nusa. Nusa turun sambil mengagumi kuil yang luar bisa indahnya,” Bukankah ini Candi Garuda dimana aku mengalami peristiwa aneh ini, hingga berada di Negeri Mutiara Katulistiwa.” “Betul inilah aslinya Candi Garuda itu.” Kuil yang dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Garuda dalam kuil bertahtakan emas, cemerlang dan megah. “Wow ! luar biasa” Gumam Nisa mengagumi kuil Garuda itu.

”Mandilah di mata air itu !” Garuda kemudian menyuruh Nusa untuk mandi di sebuah mata air. yang seperti lautannya, mata air itu tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar mata air. Nusa berjalan kemudian mandi di mata air itu, setelah selesai mandi, lalu Nusa diberikan pakaian serba putih seperti pakaian yang dipakai orang-orang Baduy di pedalaman Banten. “Filsafat yang diyakini penduduk Surga yang ditelan lautan adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu penduduknya sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan orang Indonesia dulu.” Kata Garuda kepada Nusa, “Sekarang duduklah di atas hamparan rumput itu,” selanjutnya Garuda menyuruh Nusa untuk “duduk sila” diatas hamparan rumput yang mengeliling kuil garuda itu. Nusa duduk sila menghadap kuil diatas Padang rumput yang menyebarkan aroma wangi yang lembut, duduk bermeditasi. Aromanya begitu hangat. Ketenangan mengalir dari kepala hingga dirasakan seluruh kulit tubuhnya, Nusa melihat tanaman bunga yang berwarna merah dan putih ditanam bersama, mengingatkan Nusa pada dwi warna merah putih bendera lambang negara. ”Bunga yang berwarna merah dan putih ini bukan saja sangat menggoda secara visual, akan tetapi sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran jiwa. Dulu penduduk Nusantara merupakan ”Ahli-ahli ramuan” yang mampu tidak hanya menghasilkan bunga merah putih ini, akan tetapi sampai merawat dan menghasilkan rumput berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. Rumput-rumput itu dirawat mulai sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya untuk berbagai penyembuhan, peperangan dan keperluan lainnya. Di lingkungan kerja di Nusantara, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakatnya. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban Surga yang ditelan lautan.”

”Sekarang berdirilah, kita akan menuju sebuah danau !” kata Garuda, Nusa kemudian berdiri kembali setelah merasakan kenyaman yang luar biasa dari rumput sekitar kuil. Garuda membawa Nusa menuju sebuah area danau besar yang indah mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan sungai besar. Kemudian mereka diam berdiri menghadap danau yang mengarah ke laut itu, lalu Garuda berteriak ”Wuuuung !” memanggil-manggil kedalam danau, tidak berapa lama muncul kepermukaan danau seekor lumba-lumba, ternyata danau itu merupakan tempat yang dibangun khusus untuk lumba-lumba. ”Dahulu penduduk Nusantara sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba di danau kuil Garuda ini, lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat penduduk Nusantara. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat Nusantara. Penduduk Nusantara sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka.

”Sekarang jongkoklah, dekatkan pipimu sedikit ke danau dan rasakan ciuman lumba-lumba itu kepipimu,” Kata Garuda. Nusa jongkok mendekatkan pipinya mengarah ke danau, lumba-lumba itu seperti memahami lalu mengangkat tubuhnya dari dasar danau mencium pipi Nusa, Nusa merasakan kelembutan ciuman lumba-lumba dan tangannya mengelus-elus binatang pintar itu, lumba-lumba berteriak-teriak mengucapkan salam pada Nusa. ”ayo berenanglah bersama lumba-lumba, bermain-mainlah bersama mereka !” Kata Garuda. Nusa loncat berenang keair, seperti memahami lumba-lumba itu mendahului Nusa, dan disaat Nusa berada di danau lumba-lumba sudah berada dibelakangnya. Nusa memegang pundak lumba-lumba yang kemudian membawanya berenang-renang disekitar danau.”Wuuung, asik sekali lumba-lumba itu memutar-mutar membawa Nusa keliling danau. Setelah beberapa putaran kemudian Nusa naik kepermukaan. ”Sekarang berdirilah menghadap ke lumba-lumba pejamkan mata dan pusatkan pikiran pada suara lumba-lumba,” kata Garuda. Dan seperti mengerti apa yang dinginkan Garuda, lumba-lumba itu berdiri di air menghadap kearah Nusa yang mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada bunyi-bunyi suara yang diteriakkan lumba-lumba.”Lumba-lumba itu kemudian mengeluarkan pola suara dengan durasi panjang bergelombang, amplitudo, frekwensi, interval pola yang seakan menghubungkan pikiran lumba-lumba dengan Nusa. Suara lumba-lumba yang aneh itu masuk melalui telinga Nusa yang sedang berkonsentrasi, suara lumba-lumba itu mengingatkan Nusa akan kenangan masa lalu yang menakutkannya.

Saat itu Nusa kecil bersama sembilan saudaranya dan ibunya berdiri diatas singgasana kerajaan memandang kesebuah lapangan besar melihat ayahnya yang mempersiapkan para tentara penunggang gajah yang ribuan jumlahnya,” Sekarang saatnya kita taklukkan negri Siluman !” ayahnya berteriak diantara pasukan gajah dikuti teriakan para prajurit yang gegap gepita. Saat itu Nusa kecil merasakan istananya berguncang,”Ibu mengapa istana ini berguncang ?” kata Nusa kecil kepada ibunya. ”Guncangan ini disebabkan oleh suara teriakan tentara pasukan gajah itu anakku.” Jawab ibunya tanpa rasa curiga apa-apa. ”Ayo kita berangkat !” Kata ayahnya. Yang diikuti oleh langkah-langkah kaki gajah yang bergerak. Namun tiba-tiba, baru juga pasukan gajah melangkah beberapa langkah, tiba-tiba bumi berguncang, air sungai sekitar kerajaan meluap diiringi dari kejauhan meletus puluhan gunung berapi yang aktif yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia yang sekarang sebagai pusatnya. Gempa bumi, banjir dan letusan gunung berapi itu menenggelamkan sebagian wilayah Nusantara, melenyapkan dalam semalam. tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan Nusa.”

Nusa kecil bersama delapan saudaranya dan ibunya terjatuh dari istana kedalam lautan, antara sadar dan tidak, tiba-tiba ribuan lumba-lumba membawa Nusa dan delapan saudara-saudaranya menyelamatkan mereka, lumba-lumba itu saling komunikasi melalui suaranya menghindari gempa dan letusan gunung-gunung berapi, setelah berada dilautan luas, Nusa kecil melihat lumba-lumba pelangi, sungguh ajaib ! dengan pembangkit frekwensi suaranya lumba-lumba pelangi itu mengangkat air laut naik keatas, membumbung ke langit membuat jalan pelangi melewati awan-awan, menuju danau yang terletak di Istana Mutiara Khatulistiwa, dimana kini Nusa dewasa sedang berenang. Kemudian Garuda itulah yang menyelamtkan mereka dan mengasuhnya didalam Istana Mutiara Katulistiwa …….

”Sekarang bukalah matamu ?” perintah Garuda pada Nusa. Nusa membuka matanya tertegun memikirkan apa yang terungkap dalam ingatan masa lalunya. Kemudian Nusa membalikkan tubuhnya, matanya memandang Garuda yang berdiri disampingnya. ”Semua saudara-saudaramu sekarang menyebar di antara kepulauan Nusantara yang saat ini sudah terpisah-pisah” Kata Garuda.

”Siapa yang menyebabkan semua ini ?” tanya Nusa. ”Penyebab semua itu adalah Maharaja Siluman, rupanya penyerangan yang akan dilakukan ayahmu telah jauh hari diketahui oleh Maharaja Siluman, mereka mempelajari sumber kekuatan Nusantara dan mereka mengetahui akulah, Garuda sebagai lambang kekuatan Nusantara. Kemudian mereka dengan bantuan para ahli sihir mencuri lima sumber kekuatanku serta menutup Istana Mutiara Katulistiwaku ini dengan mantra-mantra yang menimbulkan aku tidak bisa keluar dari manapun, akhirnya aku terpenjara di istanaku sendiri sampai saat ini. Keberangkatan ayahmu kenegeri Siluman, bertujuan karena ingin membebaskan aku. Namun rupanya Maharaja Siluman mengirimkan pasukannya untuk menghancurkan dan menenggelamkan Nusantara melalui serangkaian gempa dan letusan gunung berapi. Namun, rupanya usaha raja siluman ini hanya baru mampu menenggelamkan sebagian sehingga sekarang Nusantara menjadi kepulauan yang terpisah-pisah. Setelah beberapa abad kemudian, Rupanya Maharaja Siluman mengetahui aku telah menyelamatkan sembilan dari keturunan Maharaja Nusantara, oleh karena itu Maharaja Siluman akan mengutus kembali keturunannya bernama Samum untuk melanjutkan misinya yakni membunuh dan menenggelamkan semua kepulauan Nusantara ini ” Kata Garuda.

”Samum akan muncul kembali di Nusantara dalam wujud manusia, melanjutkan misi Maharaja Siluman untuk melenyapkan dan menenggelamkan Nusantara ke dalam lautan seluruhnya, karena itu tugasmu, bersama saudara-saudaramu harus menyelamatkan Nusantara ini untuk bisa mencegah terulangnya kejahatan Siluman itu. Carilah teman-teman semua patriotik bangsa yang sekarang menyebar di antara kepulauan Nusantara, dan bersama mereka carilah kelima senjata sakti yang dulu hendak dipergunakan ayahmu untuk menghancurkan Maharaja Siluman, dengan kelima senjata itu juga akan mampu menghancurkan mantra yang menutup hubungan istana Mutiara Katulistiwa dengan Nusantara.” Kata Garuda.

”Berangkatlah sekarang bersama lumba-lumba bernama ”Tursiops Pelangi” ini ke Samudera Hindia menuju daerah Simeleu Aceh, disana tugasmu menemui ahli pantun untuk membacakan kitab tentang smong, di pantun itu akan memberimu petunjuk dimana anak siluman itu muncul. pakailah pakaian ini, jika berenang dilautan atau air sungat akan berubah mirip kulit lumba-lumba sehingga berenang kemanapun dilautan dan sungai Nusantara mampu memperkecil gesekan dengan air, sehingga seperti lumba-lumba dapat berenang dengan sedikit hambatan air.” Kata Garuda. “Penutup kepala dan pakaianmu juga dilengkapi sebuah sistem sonar dan sensor yang digunakan untuk berkomunikasi dengan lumba-lumba dengan sempurna, sistem sonar ini dapat pula menghindari benda-benda yang ada di depanmu saat berenang, sehingga terhindar dari benturan atau menditeksi musuh-musuhmu saat dilautan.” Kata Garuda berikutnya. Nusa memperhatikan pakaiannya yang ternyata meski seperti pakaian putih suku Baduy tetapi ternyata dilengkapi dengan sistem yang sangat canggih.

“Sesampainya di Aceh, Nanti kamu akan bertemu dengan orang tua berpakaian jubah putih, yang akan memberimu kekuatan untuk melawan kedatangan Siluman itu, dan bila di pantai terlihat laut surut secara abnormal maka itulah pertanda kemunculan anak siluman di Bumi Nusantara.” Kata Garuda.

Tidak berapa lama Lumba-lumba pelangi itu memukulkan ekornya ke air danau kemudian terbentuklah jalan pelangi menghubungkan Istana Mutiara Katulistiwa dengan lautan lepas Samudera Hindia. Setelah pamit pada Garuda, Nusa pergi memulai petualangannya bersama lumba-lumba pelangi itu menuju lautan lepas Samudera Hindia.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: