Beranda > KETERAMPILAN MENGAJAR > METODE PENGAJARAN AKTIF INOVATIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN

METODE PENGAJARAN AKTIF INOVATIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN

Cara Anak Memperoleh Pengajaran

Sejarah Metode Pengajaran

Jika kita perhatikan sejarah tentang anak-anak pada beberapa abad yang lalu memperoleh pengajaran, ternyata di berbagai tempat caranya hampir sama. Pertama, guru atau orangtua mengatakan sesuatu. Kedua, anak mengulang dan menghafal perkataan orangtua atau gurunya. Ketiga, orangtua atau guru memberi contoh yang kemudian ditiru oleh anak.

Dengan metode mengajar seperti itu, sampai sekarang cara mengajar anak belum banyak berubah, yaitu mengatakan dahulu dan mengulang, sepatah demi sepatah, baris demi baris, kalimat demi kalimat, tanya jawab, dan mendemonstrasikan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, cara (metode) mengajar pun mengalami perubahan, yaitu dengan ditemukan cara baru yang lebih efektif. Jika dengan cara baru tersebut, guru merasa lebih berhasil dibandingkan dengan cara yang lama, dengan sendirinya sejak saat itu mereka mengajar dengan cara yang baru tersebut. Dengan demikian, lama kelamaan ditemukanlah berbagai cara mengajar.

Berdasarkan perkembangan (sejarah) mengajar tersebut, para ahli pendidikan mulai menyelidiki cara mengajar yang terbaik dan tercepat dapat mencapai tujuan pengajaran. Ketika orangtua dan guru peduli terhadap dunia pendidikan, mulailah mereka mencatat pengalaman dan pendiriannya tentang mendidik anak dan menerbitkan berbagai catatan dalam bentuk buku. Dari buku tersebut, kemudian berkembang menjadi diskusi ataupun eksperimen (percobaan) tentang usaha mencari metode mengajar yang paling tepat. Proses tersebut akhirnya melahirkan bermacam aturan tentang pengajaran. Aturan-aturan pengajaran tersebut sekarang disebut didaktik metodik.

Johan Amos Comenius (lahir di Cekoslowakia) adalah orang pertama yang menyusun ilmu pengetahuan tentang pengajaran (pendidikan). Pada 1657, terbitlah karangan dia dalam bahasa latin, Didactica Magna, yang artinya “ilmu mengajar” (De Queljue dan Gazali, 1972: 9).

Didaktika berasal dari bahasa Yunani, didaskoo, artinya “saya mengajar”. Didaktik secara umum adalah ilmu menanamkan pengetahuan kepada seseorang dengan cara yang tersingkat dan terpasti. Didaktik terus berkembang, para pendidik menyusun berbagai cara agar dapat menanamkan pengetahuan kepada anak didiknya dengan cara yang tersingkat dan terpasti. Saat akan mendidik, pengajar (guru/orangtua) berpikir tentang alat-alat yang harus digunakan yang sesuai dengan materi pelajaran. Selain itu, dipikirkan pula waktu (jam) mengajar dalam kurun tertentu seperti kegiatan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Cara mengajar yang ditempuh para pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran ini kemudian dinamakan metodik atau metode, yang artinya “cara yang sistematis untuk menyampaikan pelajaran”.

Didaktik metodik terus tumbuh dan mengalami pembaruan sehingga didaktik metodik yang sekarang digunakan (awal abad ke-21 M), berbeda dengan didaktik metodik zaman Comenius yang hidup pada abad ke-18/19. Ilmu pengetahuan tentang anak-anak, baru sungguh-sungguh dipelajari pada akhir abad ke-19. Pengetahuan baru tersebut menerangkan bahwa jika seseorang hendak mengajar anak-anak dengan baik, harus mengetahui bagaimana jiwa anak-anak tersebut berkembang seperti bagaimana anak-anak mengamati, berpikir, bereaksi, serta apa yang dapat mereka pahami pada suatu tingkat perkembangan tertentu dan apa yang belum dapat mereka pahami (De Queljue dan Gazali, 1972: 9-10).

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: