Beranda > BERMAIN BACA TULIS KREATIF > AKTIVITAS BERMAIN BACA TULIS KREATIF

AKTIVITAS BERMAIN BACA TULIS KREATIF

Budaya Senang Baca Tulis

Budaya membaca merupakan prasyarat dasar untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleksitas persoalan di dunia tempat tinggal kita ini, segala harapan dan kecemasannya, serta setiap peluang dan tantangannya. Teknologi boleh maju, koran, majalah dan buku-buku boleh melimpah, internet juga boleh masuk kampung, tetapi bila masyarakatnya tidak senang baca tulis,maka semuanya akan menjadi tidak berguna dan nihil makna. Kita akan tetap miskin ilmu dan miskin informasi. Kita akan tetap berada ‘dalam tempurung’. Kita akan tetap menjadi becak di tengah lalu lintas kendaraan kota besar yang supercepat. Tak dapat disangkal memang, Budaya berkumpul dan budaya lisan masih sangat kuat mengikat masyarakat kita. Jangankan masyarakat non akademis, masyarakat akademis pun masih ‘jauh panggang dari api’. Minat baca tulis dosen, guru, mahasiswa, dan siswa sangat memprihatinkan. Adalah pemandangan biasa jika datang kerumah seorang kepala sekolah atau guru, tak ada perpustakaan pribadi. Di toko-toko buku sangat sedikit sekali buku-buku yang dikarang oleh guru atau dosen. Juga adalah pemandangan biasa jika pelajar berangkat ke sekolah tanpa tas. Mereka hanya membawa satu atau dua eksemplar buku tulis yang isinya pun tidak karuan. Yang lebih mengenaskan ketika mahasiswa menyelesaikan studi, bersamaan mendapatkan ijazah, sejak itu pula menghentikan kegiatan baca tulis bahkan buku-buku yang dia beli sewaktu kuliah ia obral pada adik-adik kelasnya. Kondisi ini terjadi karena rata-rata pelajar dan mahasiswa kita diajari baca tulis dengan cara yang tidak menyenangkan.

Sejak usia dini anak diajari Baca tulis dengan tidak menyenangkan, duduk tegak rapi, menghadap papan tulis, menulis dibuku bergaris, menggunakan alat tulis yang tidak disukainya, suara guru yang membentak-bentak, semua itu menekan emosi anak sehingga “bisa baca tulis karena tekanan.’tekanan itu terus dilakukan oleh guru SD, SLTP, SMU sampai ke perguruan tingi melalui tugas-tugas sekolah yang setumpuk. hingga puncaknya, ketika sudah selesai menjalani sekolah merasa terbebaslah dari ‘tekanan baca tulis.’ Tugas berat kita bersama ke depan adalah bagaimana meningkatkan kesenangan masyarakat pada budaya baca tulis. Yang dibutuhkan bukan sekadar membuat masyarakat tahu baca tulis, melainkan menjadikan aktivitas baca tulis itu sebagai suatu budaya yang menyenangkan. Ini sebuah cita-cita besar yang bagaimanapun juga harus dimiliki setiap bangsa dan daerah di dunia modern ini. Hal ini bukan tidak mungkin dicapai bila ada niat dan tekat kuat serta kesungguhan untuk mengusahakannya. Perlunya menyenangi baca tulis sejak usia dini. Orang tua menjadi cermin bagi anak-anak dalam hal apa saja, termasuk dalam kebiasaan baca tulis. Lalu, perlu meningkatkan frekuensi membacakan buku cerita, berlangganan majalah anak, membelikan buku bacaan referensi sesuai dengan kesukaan anak, misalnya bila anak suka akan mainan mobil-mobilan, maka orang tua memberikan buku bacaan tentang mobil, bila anak senang mainan binatang, maka orang tua membelikan buku tentang binatang-binatang. Kebiasaan-kebiasaan ini semestinya terus-menerus dilakukan orang tua dan pendidik yang bertanggung jawab dalam upaya generasi yang gemar baca tulis. Kita hanya betul-betul bertekad menciptakan generasi baca tulis bila tidak henti-hentinya berupaya dan tidak pernah kehabisan daya untuk mencari jalan keluar yang kreatif demi peningkatan minat baca tulis masyarakat sedini mungkin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: