Beranda > MANAJEMEN PENGAJARAN > PERENCANAAN PENDIDIKAN YANG INOVATIF MEMBENTUK SEKOLAH UNGGULAN

PERENCANAAN PENDIDIKAN YANG INOVATIF MEMBENTUK SEKOLAH UNGGULAN

Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip tersebut mencakup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan, dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi. Waterson mengemukakan bahwa pada hakekatnya perencanaan merupakan usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif tindakan guna mencapai tujuan, perencanaan bukan kegiatan yang tersendiri melainkan merupakan suatu bagian dari proses pengambilan keputusan yang kompleks. Oleh karena itu, Schaffer menjelaskan bahwa apabila perencanaan dibicarakan, kegiatan ini tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan tersebut dimulai dengan perumusan tujuan, kebijakan, dan sasaran secara luas, yang kemudian berkembang pada tahapan penerapan tujuan dan kebijakan itu dalam rencana yang lebih rinci berbentuk program-program untuk dilaksanakan. Dalam hal ini Yehezkel Dror dalam A.Faludi mengemukakan ”Planing is the process of preparing a set of decision for action in the future directed at achieving goals by preferable means” (perencanaan adalah program mempersiapkan seperangkat keputusan tentang kegiatan-kegiatan untuk waktu masa yang akan datang dengan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan melalui penggunaan sarana yang tersedia). Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, Friedman mengemukakan bahwa planing is a process by which a scientific and technical knowledge is joined to organized action. Menurut pengertian tersebut, perencanaan adalah proses menggabungkan pengetahuan dan teknik ilmiah ke dalam kegiatan yang diorganisasi, Suherman, dalam buku “Teknik-teknik Dasar Pembangunan Masyarakat “, mengemukakan bahwa perencanaan adalah suatu penentuan urutan tindakan, perkiraan biaya serta penggunaan waktu untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar dengan efisien untuk tercapainya tujuan.
Berdasarkan beberapa pengertian dan prinsip-prinsip di atas dapat dikemukakan bahwa keputusan yang diambil dalam perencanaan berkaitan dengan rangkaian tindakan atau kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan di masa yang akan datang. Rangkaian tindakan atau kegiatan itu perlu dilakukan karena dua alasan. Pertama, untuk mewujudkan kemajuan atau keberhasilan sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan alasan kedua, ialah, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, dan kondisi yang sama atau lebih rendah daripada keadaan pada saat ini.
Sesuai dengan pengertian di atas, perencanaan pendidikan yang inovatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) Perencanaan merupakan model pengambilan keputusan secara rasional dalam memilih dan menetapkan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan. (2) Perencanaan berorientasi pada perubahan dari keadaan masa sekarang kepada suatu keadaan yang diinginkan di masa datang sebagaimana dirumuskan dalam tujuan yang akan dicapai. (3) Perencanaan melibatkan orang-orang ke dalam suatu proses untuk menentukan dan menemukan masa depan yang diinginkan. (4) Perencanaan memberi arah mengenai bagaimana dan kapan tindakan akan diambil serta siapa pihak yang terlibat dalam tindakan atau kegiatan itu.(5) Perencanaan melibatkan perkiraan tentang semua kegiatan yang akan dilalui atau akan dilaksanakan. Perkiraan itu meliputi kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan keberhasilan, sumber-sumber yang digunakan, faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta kemungkinan resiko dari suatu tindakan yang akan dilakukan. (6) Perencanaan berhubungan dengan penentuan prioritas dan urutan tindakan yang akan dilakukan. Prioritas ditetapkan berdasarkan urgensi atau kepentingannya, relevansi dengan kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi. (7) Perencanaan sebagai titik awal untuk dan arahan terhadap kegiatan pengorganisasian,penggerakan,pembinaan, penilaian dan pengembangan.
Ketujuh ciri perencanaan di atas saling berhubungan dan saling menopang antara satu dengan lainnya. Ciri-ciri tersebut perlu dijabarkan dalam rangkaian kegiatan pendidikan yang akan diselenggarakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa patokan perencanaan : (1) Dalam merumuskan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa sumber-sumber yang tersedia atau yang dapat disediakan selalu dalam keadaan terbatas. (2) Perencanaan senantiasa membutuhkan data atau informasi tentang sumber-sumber dan pengalaman empirik yang berkaitan dengan proses dan hasil kegiatan sebagaimana direncanakan. (3) Para perencana yang berasal dari organisasi atau lembaga yang menyelenggarakan perencanaan, harus memperhatikan kebutuhan potensi, dan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran sehingga rencana yang disusun dapat memperoleh dukungan dari masyarakat. (4) Dalam organisasi atau lembaga yang menyelenggarakan perencanaan terdapat pembagian tanggung jawab dan wewenang. Tanggung jawab berkaitan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Wewenang berhubungan dengan komunikasi antar pihak yang terlibat dalam lembaga tersebut. (5) Manusia dengan keterbatasan dan kelebihannya, menjadi faktor paling penting dan paling menentukan baik dalam perencanaan maupun dalam kehadiran dan aktivitas lembaga baru.
Enam pertanyaan pokok dalam memahami arah perencanaan : (1) Upaya apa (what) yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (2) Mengapa (why) upaya itu dilakukan (3) Dimana (where) dan dalam situasi apa upaya itu dilaksanakan (4) Kapan (when) kegiatan itu akan dilakukan (5) Siapa (who) orang-orang yang memiliki tugas dan wewenang dalam melakukan kegiatan itu, dan (6) Bagaimana (how) bagaimana cara melaksanakannya.
Perencanaan inovatif merupakan proses penyusunan rencana yang menitikberatkan perluasan fungsi dan wawasan kelembagaan untuk memecahkan permasalahan kehidupan masyarakat yang menjadi layanan berbagai lembaga, Perencanaan ini ditandai dengan adanya upaya mengembangkan gagasan dan kegiatan baru dalam memecahkan masalah.
Perencanaan inovatif sering diarahkan untuk memecahkan permasalahan besar yang dihadapi masyarakat, sebagaimana dikemukakan Chamberlain dalam bukunya Private and Public Planning menjelaskan bahwa perencanaan inovatif adalah tipe perencanaan untuk menghadapi masalah-masalah besar yang tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan perencanaan konvensional, melainkan harus menggunakan suatu pola perencanaan yang baru.
Perencanaan inovatif memiliki tiga ciri pokok, yaitu pembentukan lembaga baru, orientasi pada tindakan atau kegiatan, dan penggerakkan sumber-sumber yang diperlukan. Ketiga ciri pokok tersebut dipaparkan di bawah ini.
1. Pembentukan Lembaga Baru
Perencanaan inovatif pada dasarnya berhubungan dengan penjabaran prinsip-prinsip umum perencanaan yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait ke dalam perencanaan yang disusun oleh lembaga baru atas kesepakatan lembaga-lembaga tersebut. Pembentukan lembaga baru itu didasarkan atas kepentingan lembaga-lembaga yang bersangkutan dalam menangani permasalahan khusus, baik secara nasional, daerah ataupun lokal, yang memerlukan pemecahan secara bersama oleh lembaga-lembaga terkait. Penanganan secara bersama menyangkut pendayagunaan sumber daya (manusia dan non manusia) yang terdapat pada lembaga masing-masing, pembagian garapan dan tugas tiap lembaga, dan lain sebagainya.
Dengan demikian terdapat beberapa ciri penting dalam perencanaan inovatif. Pertama, adanya lembaga baru yang dibentuk oleh lembaga-lembaga terkait atau sektor-sektor,walaupun pembentukannya kadang-kadang didasarkan keputusan politis. Lembaga baru mempunyai fokus perhatian pada masalah yang perlu digarap secara bersama. Pemecahan masalah dilakukan melalui pendekatan secara menyeluruh (komprehensip). Program-program untuk pemecahan masalah disusun karena alasan-alasan khusus. Kedua, lembaga baru berperan untuk mewakili fungsi lembaga-lembaga yang membentuknya dalam memberikan pelayanan secara efisien dan efektif terhadap khalayak di masyarakat yang membutuhkannya, melalui berbagai program sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan sesuai pula dengan potensi yang ada di lembaga-lembaga. Ketiga, lahirnya lembaga baru bisa jadi membutuhkan anggaran biaya baru disamping biaya yang telah ada pada lembaga-lembaga yang membentuk lembaga baru tersebut. Keempat, keberhasilan perencanaan inovatif dinilai secara menyeluruh karena merupakan usaha bersama melalui kegiatan lembaga baru. Kelima, lembaga baru lebih bersifat pembaharu (reformist). Lembaga ini dibentuk untuk memperbaharui sistem pelayanan yang telah ada dalam memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan tidak dapat dilakukan secara sektoral. Ciri terakhir ini berkaitan dengan kecenderungan bahwa semakin maju suatu masyarakat, maka makin berkembang pula spesialisasinya. Namun, betapapun tajamnya suatu spesialisasi, masing-masing tidak dapat memecahkan masalah umum dengan tuntas. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama lintas sektoral dan antardisiplin. Pada gilirannya, perencanaan inovatif dapat memperkuat hubungan antarlembaga dan dapat menumbuhkan sistem pelayanan secara terpadu. Singkatnya, perencanaan inovatif dilakukan untuk memecahkan masalah bersama secara menyeluruh dan untuk meningkatkan mutu pelayanan secara terpadu kepada masyarakat.
Sebagai misal, masalah ketidakpuasan masyarakat akan pendidikan anak usia dini umum yang kurang memenuhi tujuan, yakni membantu perkembangan anak sejak usia dini agar tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak dalam aspek-aspek fisik,keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku sosial. Lebih ditekankan bahwa pendidikan pada usia dini merupakan hak setiap anak. Dalam menanggulangi hal tersebut bermunculan model-model sekolah unggulan yang didasarkan pada konsep, terutama dalam menjabarkan apa yang dimaksud dengan bermain sambil belajar. Tipe sekolah unggulan tersebut dalam artikel Muahmad Ikhsan sebagai berikut :

Tipe 1 ; Dimana sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Tipe 2 ; Sekolah dengan menawarkan fasilitas dan pola belajar dengan pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya. Sehingga out put yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikan. Hal ini menuntut fasilitas yang mahal. Tipe 3 ; Sekolah unggul menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut (input ) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi. Sekolah Unggulan adalah Terjemahan bebas dari “Effective School” An Effective School is a school that can, in measured student achievement terms, demonstrate the joint presence of quality and equity. Said another way, an Effective School is a school that can, in measured student achievement terms and reflective of its “learning for all” mission, demonstrate high overall levels of achievement and no gaps in the distribution of that achievement across major subsets of the student population. (EFFECTIVE SCHOOLS RESEARCH AND THE ROLE OF PROFESSIONAL LEARNING COMMUNITIES) Jadi dengan kata lain sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya tersebut. Karena sekolah bisa dikatakan unggul dalam pencapaiannya. Ada beberapa faktor yang harus dicapai bila sekolah tersebut bisa dikategorikan sekolah unggul:
(1) Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Profesional ; Kepala Sekolah seharusnya memiliki kemampuan pemahaman pendidikan yang menonjol. Penelitian Standfield, dkk (1987) selama 20 bulan di Sekolah Dasar Garvin Missouri dan Gibbon (1986) di sekolah-sekolah negeri di Ohio selama tahun ajaran 1982/1983, keduanya menemukan bahwa peran kepala sekolah yang efektif dan profesional mampu mengangkat nama sekolah mereka sehingga mampu memperbaiki prestasi akademik mereka. (2) Guru-guru yang tangguh dan professional ; Guru merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung dengan siswa. Guru yang profesional mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua dan kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas. (3) Memiliki tujuan pencapaian filosofis yang jelas ; Tujuan filosofis diwujudkan dalam bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi dapat di cerna dan dilaksanakan secara bersama oleh setiap elemen sekolah. (4) Lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran ; Lingkungan yang kondusif bukanlah hanya ruang kelas dengan berbagai fasilitas mewah, lingkungan tersebut bisa berada di tengah sawah, di bawah pohon atau di dalam gerbong kereta api, Yang jelas lingkungan yang kondusif adalah yang lingkungan yang dapat memberikan dimensi pemahaman secara menyeluruh bagi siswa. (5) Jaringan organisasi yang baik ; Jelas, organisasi yang baik dan solid baik itu organisasi guru, orang tua akan menambah wawasan dan kemampuan tiap anggotanya untuk belajar dan terus berkembang. Serta perlu pula dialog antar organisasi tersebut, misalnya forum Orang Tua Murid dengan forum guru dalam menjelaskan harapan dari guru dan kenyataan yang dialami guru di kelas. (6) Kurikulum yang jelas ; Permasalahan di Indonesia adalah kurikulum yang sentralistik dimana Diknas membuat kurikulum dan dilaksanakan secara nasional. Maka sekolah unggul juga membuat dan mengembangkan kurikulum disesuaikan dengan dan pencapaian sesuai corak visi dan misinya, Misalnya sekolah unggulan menyusun kurikulum dan target pencapaian pembelajaran sendiri. Sesuai corak dan pencapaian sesuai dengan potensinya. Seperti misalnya sekolah di Kalimantan memiliki corak dan target pencapaian mampu mengolah hasil hutan dan tambang juga potensi seni dan budaya mampu dihasilkan sekolah-sekolah di Bali. (7) Evaluasi belajar yang baik berdasarkan acuan patokan untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dari kurikulum sudah tercapai Bila kurikulum sudah tertata rapi dan jelas, akan dapat teridentivikasi dan dapat terukur targer pencapaian pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan mampu mempetakan kemampuan siswa. (8) Partisipasi orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah ; Di sekolah unggulan dimanapun, selalu melibatkan orang tua dalam kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal sekali adalah memberikan pengawasan secara sukarela kepada siswa pada saat istirahat. Pada proses yang intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan kurikulum sekolah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah dalam mendidik anak sesuai pada tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah Pada akhirnya sekolah unggulan adalah program bersama seluruh masyarakat, yang tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah dan orang tua secara perorangan. Namun menjadi tanggung jawab bersama dalam peningkatan SDM Indonesia.

Beberapa model-model sekolah unggulan diantaranya sebagai berikut :
a. Model sekolah Atraktif, yakni menekankan pada bobot pengembangan kemampuan dasar dengan aspek-aspek yang dikembangkan. Aspek-aspek tersebut adalah kemampuan daya cipta, intelegensi, kreativitas,sosial dan religius.
b. Model sekolah Kreatif, yakni bobot pengembangan kemampuan dasar dengan aspek-aspek yang dikembangkan, seperti : kemampuan daya cipta, intelegensi, dan kreativitas.
c. Model sekolah Sistem Centra (sentra,area), yaitu model pendidikan anak usia dini yang mengacu pada kemampuan bakat dan pusat minat anak.
d. Model sekolah Global, yaitu mirip dengan pendidikan anak usia dini Atraktif. Namun dalam hal ini juga mengembangkan budaya internasional, kurikulum internasional, dan lain-lain yang bersifat pergaulan internasional.
e. Model sekolah Alam, lebih berfokus pada back to nature , yakni bermain sambil belajar dalam memanfaatkan bahan-bahan alam. Oleh karena itu, anak tidak diarahkan untuk banyak belajar di dalam kelas.

2. Berorientasi pada kegiatan
Tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan inovatif pada lembaga baru serta pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan itu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Perencanaan inovatif merupakan jawaban inovatif terhadap permasalahan yang muncul dalam situasi khusus. Misalnya, kegiatan belajar mengajar di kelas pada anak-anak usia dini menimbulkan dampak yaitu anak terkungkung oleh tembok-tembok sehingga pengalaman anak menjadi terbatas pada benda-benda yang berada di sekitar sekolah, seperti bangku,papan tulis,balok-balok kayu,dan segala sesuatu yang sering dijumpai tiap hari di dalam kelas. Hal ini memerlukan upaya inovasi pengelolaan pengajaran dan pengelolaan kelas melalui kegiatan yang mampu memberikan pengalaman-pengalaman nyata dengan mengunjungi tempat-tempat di luar kelas. Di bawah bimbingan guru, peserta diajak ke suatu tempat untuk mempelajari dengan melihat, mendengar, mencoba, dan membuktikan langsung terhadap objeknya. Dengan demikian, anak usia dini dapat mempelajari bermacam-macam tema secara integral serta tidak terbatas hanya pada satu tema.
Pelaksanaan program pemecahan masalah secara bersama mungkin akan menimbulkan dampak yang tidak diperkirakan oleh lembaga baru pada saat perencanaan sedang dilakukan. Jika dampak itu muncul pada waktu pelaksanaan program, maka perencanaan inovatif memberi kesempatan kepada para perencana, setelah mendapatkan masukan dari lapangan, untuk menentukan tujuan-tujuan antara (intermediate-goals) dalam upaya mencapai tujuan akhir yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan itu tidak perlu dirinci tetapi hanya dirumuskan dalam sasaran-sasaran yang akan dicapai dan terarah kepada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam perencanaan inovatif, upaya mencari dan memilih alternatif kegiatan yang efektif untuk mencapai tujuan perlu dilakukan melalui pertimbangan rasional. Adapun upaya secara berkelanjutan untuk melakukan kegiatan yang efektif itu disebut strategi kegiatan.
Ada dua strategi kegiatan dalam perencanaan inovatif yang berhasil, strategi pertama, sebagai kegiatan dasar adalah pengembangan upaya lembaga baru untuk membina hubungan yang erat dan berkelanjutan dengan lembaga-lembaga terkait yang membentuk lembaga baru tersebut. Upaya ini meliputi pendekatan dengan lembaga-lembaga terkait untuk (1) Memperoleh dukungan biaya dari lembaga-lembaga terkait, (2) Menata sistem pengelolaan lembaga baru yang didukung oleh lembaga-lembaga terkait, (3) Menetapkan mekanisme hubungan dengan lembaga-lembaga yang lain,dan (4) Memperkuat dukungan politik baik di tingkat pusat maupun daerah. Strategi kedua, adalah mekanisme kegiatan yang terfokus pada pencapaian tujuan lembaga baru itu sendiri. Mekanisme kegiatan itu diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : (1) Apakah kriteria dan cara pengadaan tenaga yang diperlukan oleh lembaga baru, (2) Dimana dan kapan program-program yang disusun lembaga baru akan dilaksanakan, (3) Pendekatan apa yang cocok untuk dilakukan terhadap masyarakat, dan (4) Apakah dukungan dari pemerintah pusat dan atau daerah dapat diperoleh.

3. Pengerahan Sumber-Sumber
Dalam perencanaan inovatif, para perencana biasanya bertindak sebagai wirausahawan yang aktif melalui kegiatan mencari, mengerahkan,mengorganisasi,dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia, baik di dalam maupun di luar lembaga-lembaga terkait, termasuk sumber-sumber dari masyarakat.
Perluasan peranan perencana sebagai wirausahawan itu disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, kehadiran lembaga baru terutama taraf awal, belum diyakini benar kehandalannya oleh semua pihak dan belum memperoleh dukungan optimal dari lembaga-lembaga tersebut. Oleh karena itu, para perencana biasanya disibukkan dengan berbagai kegiatan pendekatan untuk menarik perhatian dan memotivasi lembaga-lembaga dan masyarakat dalam rangka mengerahkan sumber-sumber yang diperlukan untuk diorganisasikan dalam program-program yang disusun oleh lembaga baru. Kedua, para perencana mengadakan komunikasi dan negosiasi secara aktif dengan lembaga-lembaga terkait agar tercapai kesepakatan tentang manfaat dan fungsi lembaga baru bagi kepentingan misi dan fungsi lembaga masing-masing. Ketiga, keberhasilan lembaga baru dapat terwujud apabila lembaga-lembaga terkait memberi dukungan kuat secara berkelanjutan, menyetujui dan mengikuti prosedur yang ditetapkan lembaga baru, menerima laporan terutama tentang penggunaan sumber-sumber dan merasakan manfaat langsung dari kehadiran lembaga baru itu untuk membantu fungsi lembaga masing-masing.
Perencanaan inovatif mempunyai fungsi pembaharuan terhadap fungsi lembaga-lembaga pendukungnya dan dapat mempengaruhi sistem yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendukung tersebut. Selanjutnya, jika perkembangan lembaga baru telah sampai pada konsolidasi, maka program-programnya akan menjadi rutin. Jika program-program lembaga baru dan kegiatannya menjadi rutin, maka kemungkinan pemunculan suatu lembaga baru dapat terjadi kembali Pembentukan lembaga-lembaga baru menjadi rangkaian fenomena yang terjadi dalam perencanaan inovatif. Kehadiran lembaga baru itu dianggap sebagai pembaharuan bagi lembaga yang dibentuk sebelumnya sesuai dengan perkembangan permasalahan dan alternatif pemecahannya, serta sejalan dengan peningkatan kebutuhan yang dihadapi oleh berbagai lembaga terkait.
Secara umum tipe perencanaan inovatif adalah ; pertama, perencanaan inovatif cenderung tidak mengikatkan diri pada aturan baku. Perencanaan inovatif mendayagunakan dengan cermat sumber-sumber yang dimiliki lembaga-lembaga terkait, mencari secara aktif sumber-sumber lain, memperluas jangkauan pengaruh dan kekuatannya, serta meningkatkan upaya untuk memperoleh dukungan politik. Kedua, perencanaan inovatif berorientasi pada kegiatan yang dikelola oleh lembaga baru yang fungsinya berkaitan erat dengan pelaksanaan program lembaga-lembaga pendukungnya. Ketiga, dalam perencanaan inovatif terdapat hubungan erat antara perencanaan, keputusan politik, dan pelaksanaan program. Dalam hal ini, para perencana menganalisis dan mengusulkan program, para pembuat keputusan politik menentukan tujuan dan kebijaksanaan, serta menetapkan program untuk pemecahan masalah yang menyangkut kepentingan umum, sedangkan para pelaksana dari lembaga baru mengimplementasikan program itu di lapangan.

Sumber :

Sudjana, Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Bandung : Falah Production ; 2004).

http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/09/12/sekolah-unggulan

Heri Hidayat, Aktivitas Mengajar Anak TK, (Bandung :Penerbit Katarsis, 2003)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: